Bab 22

1069 Kata
"Eh, Ga, tadi aku ketemu mantan kamu loh." Malam ini Hasuna menelepon Argata sembari merebahkannya tubuhnya di kasur. Cewek itu nampak antusias menceritakan sosok yang ditemuinya di mall. "Oh, ya? Emang kamu inget mukanya? Dimana emang?" sahut Argata di seberang. "Iyah, inget lah. Aku ketemu dia di mall. Pas banget lagi nganterin cowok aku beli baju kan. Eh ternyata, suaminya mantan kamu itu temenan sama cowok aku. Lebih tepatnya sih temen sekolah." Ungkap Hasuna. "Oalah, ya biarin aja sih. Nggak peduli juga aku." Argata tertawa disana. "Yehhh, kamu ini. Tapi aneh, Ga, masa.." "Aneh kenapa?" Hasuna membalikkan badan dan menatap langit-langit kamarnya. "Masa dia natap aku beda gitu loh? Kayak tajam sinis terus mencekam... Apa emang dasarnya gitu ya? Apa cuma perasaan aku aja?" "Hahaha, serem banget sih Neng.. kamu ini lebay amat, ngapain baru ketemu disinisin begitu?" Argata menyahut dengan nada bingung. "Yah, mungkin aja dia nggak suka sama aku?" "Iyalah, mana mungkin cewek suka sama cewek?" Lagi-lagi Argata tidak serius, tawanya menggema di telepon. Hasuna menggeram malas. "Heeh, apa dia mikir aku cewek apaan gitu nggak sih?" "Cewek apaan gimana lagi maksudnya?" "Kan waktu itu dia liat aku sama kamu, terus sekarang aku sama cowok lain yang dikenalin cowok aku sebagai pacar. Mungkin nggak sih dia mikir aku ini cewek apaan gitu?" Bahasa Hasuna yang muter-muter kembali menuai tawa Argata. Sampai sebegitunya Hasuna memikirkan mantan Argata yang sinis. "Udahlah, nggak usah aneh-aneh. Lagian peduli amat kamu sama pandangan dia. Aku kasih tau ya, mungkin dia iri kali sama kamu.." kata Argata. "Irinya kenapa coba?" "Iyah, iri karena kamu lebih cantik dari dia, hehehe." "Astagaa.." Hasuna terkekeh-kekeh. "Apaan sih garing amat. Dia juga cantik kok, cuma aku nggak sukanya dia itu jahat aja menurutku." "Kenapa mikir gitu?" "Yah, aku kasian sama kamu. Udah jatuh cinta terlalu dalam tapi ceweknya begitu. Mandang harta. Begitu dijodohin sama yang lebih kaya raya, kamu ditinggalin gitu aja." Argata tersenyum geli di luar sana. Hasuna polos sekali ketika mengatakan itu. "Nggak papa Hasuna, mungkin emang akunya aja yang nggak sadar diri selama itu. Yah, aku sih udah berusaha buat kasih dia kenyamanan, perhatian, pengertian.. tapi, namanya juga nggak jodoh mau diapain lagi kan? Resiko menjaga jodoh orang ya gini, tapi aku biasa aja sih." Argata bercerita dengan santai seakan luka itu sudah tak lagi terasa. "Baru sekarang ngomong biasa. Kemarin-kemarin apa? Sampai hujan-hujanan loh kayak orang melankolis banget," Hasuna terkikik pelan. "Hehh.. apaan sih malu-maluin banget," Argata tergelak. "Yaudah deh, Ga. Nggak usah diingat-ingat ikhlasin aja." "Iyah, nggak ada guna juga." Sampai larut malam mereka berbincang. Sambungan telepon enggan terputus sampai keduanya tertidur lelap. Ponsel itu pun tergeletak di samping bantal dengan detik waktu masih berjalan. Keesokan paginya, Hasuna sedang mengendarai sepeda melintasi jalanan becek. Aroma petrikor masih kentara di hidungnya selama menyusuri jalan. Hasuna menghentikan sepedanya di depan rumah Argata dan berteriak dengan keras. "Argataaa... Assalamualaikum..." Cewek itu iseng melihat-lihat pot tanaman yang tergantung di teras. Pohon rambutan yang berbuah lebat mencuri perhatiannya. "Hei, waalaikumsalam.." sahut wanita paruh baya yang berjalan seberang. Hasuna tersenyum canggung sembari bersalaman dengan Sania. "Hai, Bu.. hehehe. Aku main kesini lagi.." "Hasuna.. mari duduk, Argata lagi ke warung sebentar tadi." "Ah, aku nggak nyariin Argata kok bu. Cuma mau mampir doang. Habis rambutannya menggoda banget." Sania tertawa kecil, terduduk di bangku teras bersama Hasuna. "Eh, ibu kalau lagi sibuk di belakang nggak papa kok. Aku sendiri aja diluar." "Nggak kok, ibu tadi habis masak nasi. Emang kamu dari mana Nak?" tanya wanita itu. "Dari rumah, Bu. Jalan-jalan naik sepeda cari udara seger. Eh, tau-tau sampai sini, yaudah mampir aja aku." "Halah, emang dasarnya mau ngapel ah!" suara berat menyahut cepat dengan wajah tengiknya. "Heh, pede banget pak? Orang aku liat buah rambutannya jadi pengen mampir, wlee~" Hasuna menjulurkan lidahnya geli. "Yakin? Bukan yang punya rumah?" celetuk Argata. "Loh, yang punya rumah kan ibu kamu? Ya kan bu? Ya bener juga sih aku mau ngepelin ibu kok." "Asem ya kamu ngelesnya.." Argata nyengir kuda, gemas ingin menjitak Hasuna. Sania tertawa menyaksikan tingkah kocak mereka. Argata lekas memberikan kantong keresek pada Sania. Berisi sabun cuci piring dan sabun mandi yang dibelinya di warung dekat rumah. "Bu, kembaliannya aku beliin permen ya?" Argata menunjukkan dua batang lolipop dari saku. "Hmm, iyah, nggak papa. Yaudah kalau gitu ibu ke dapur dulu ya. Hasuna ditemenin Argata disini yah. Kalau pengen rambutan suruh aja Argata yang manjat jangan kamu." "Hihhh, si ibu mah, yakali bu pohon licin begitu dipanjat. Jatuh gimana nanti? Kegantengan aku berkurang?" "Hilihhhh, pede kali kauuu..." seloroh Hasuna menyamarkan gelitik tawanya. Sania hanya menggelengkan kepala dan pamit undur diri. Argata dan Hasuna duduk bersama di bangku teras. Sebatang permen itu diberikan satu. Hasuna menerima dengan senang hati kemudian menyumpal ke dalam mulutnya. "Makasih ya Ga..." "Kamu beneran kesini karena buah rambutan itu?" tanya Argata. Dengan tonjolan di mulutnya, Hasuna mengangguk polos. "Iyah, kamu liat deh sampake rimbun gitu kulitnya. Pasti manis banget deh kalau dimakan." "Masih manis yang punya," sahut Argata. "Helehhhh.. mulai lagii.." Hasuna terkikik. "Padahal tadi aku mau nebeng sepeda kamu, eh malah lewat doang.." kata Argata. "Emang kamu liat aku?" "Iyah, kamu tadi lewat warung yang di pertigaan kan?" "Warung yang mana sih?" "Deket pos ronda." "Ohhh, itu. Ya kamu nggak nyapa kok, coba teriakin pasti aku berhenti." "Yahh, aku kira bukan kamu tadi. Eh, beneran ternyata." Hasuna terkekeh pelan. Mengayunkan kedua kakinya di bawah kursi. "Oh iya, besok kamu jadi mau naik gunung?" tanya Hasuna kemudian. "Ya, jadi lah.." "Cuaca lagi hujan gini loh, emang bisa?" "Bisa lah, kenapa enggak?" "Kan jalannya juga licin kan? Pasti tanahnya basah juga." "Yaa, namanya petualangan mau basah mau kering nggak peduli lah. Yang penting gas aja," jawab Argata dengan santai. "Yah, kalau hujan mending jangan lah.." tiba-tiba saja Hasuna begitu memohon. "Yaa, nggak maksud apa-apa sih, takutnya nanti ibu kamu jadi kepikiran sama kamu kan? Kalau kamu kenapa-kenapa liat cuaca hujan terus campur angin gitu." "Ohh.. ibu aku mah nggak bakal gimana-gimana. Selagi dapet ijin yaudah jalan aja. Nggak sampek kepikiran gitu, mungkin yang ngomong kali yang kepikiran.." Argata mengulum senyumnya menyindir cewek gengsi itu. "Dihh, apaan sih!" Hasuna tersipu-sipu memalingkan wajahnya. "Yahh, kamu juga lagiannn..." Argata tertawa jail. "Kan ibu kamu pasti sayang banget sama kamu kan.. yaaa, udah pasti lag ibu kamu kepikiran.." Hasuna berusaha mencari alasan walau matanya tak bisa membohongi Argataa. "Apa? Oh gitu? Iya emang sayang lah kan anaknya," tawanya kian meledak. Tak mengira, jauh-jauh Hasuna menggowes ke rumahnya, hanya untuk mengutarakan kekhawatiran itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN