Bab 23

1059 Kata
Siang ini Hasuna tertidur pulas di kamarnya ketika sebuah mobil datang di halaman rumah. Fadly membawa kantong plastik berisi buah jeruk mandarin untuk sang pacar. "Hai, Bu.." sapa Fadly pada ibunda Hasuna yang membukakan pintu. "Hai, Nak Fadly, mari masuk." Wanita itu mempersilahkan Argata duduk di ruang tamu sementara kantong plastik itu diberikan padanya. "Nak Fadly repot-repot segala sih, terimakasih ya." "Nggak papa Bu, Hasuna lagi apa?" tanya Argata. "Ah, Hasuna lagi tidur Nak. Sebentar ya biar ibu bangunin dulu." "Tumben banget jam segini udah tidur." "Nggak tau, tadi habis sepedaan terus pulang tidur." "Sepedaan sama siapa?" "Nggak tau, dari rumah sih sendiri. Kalau gitu ibu permisi dulu ya ke kamarnya Hasuna." "Iyah, Bu, makasih." Wanita itu berjalan tergopoh-gopoh ke belakang. Sementara Fadly terduduk di ruang tamu. Buah jerauk itu diletakkan di meja kemudian Ibu Hasuna mengetuk pintu kamar anaknya. Berulang kali tak mendapat jawaban, wanita itu kemudian menekan gagang pintu dan masuk ke dalam kamarnya. "Hasuna, bangun... Nak Fadly nyariin kamu itu di luar." Wanita itu menggoyangkan tubuh Hasuna supaya terbangun. Namun Hasuna masih saja memejamkan mata dengan dengkuran halusnya. "Hehh.. Hasunaa... bangun.. jangan tidur mulu ah.." Lambat laun bulu mata lentik itu mengerjap. Hasuna berguling dan memeluk bantal di sebelahnya. Sang ibu pun menepuk jidat. Merebut benda-benda yang dipeluk dalam tidur anaknya itu. "Ahhh, ibuuu.. ganggu aja sihh.." risau Hasuna yang terusik karena tidur lelapnya diganggu. "Nak Fadly itu diluar, sana kamu temuin. Ibu nggak enak.." "Iya ah, bu.. lima menit lagi.." "Nggak ada lima menit lagi pokoknya cepet bangun dan keluar." "Ahhh, ibu resek ah!" Hasuna masih menguap pun direcoki eleh ibunya supaya bangun dari kasur. Wanita itu menarik Hasuna ke kamar mandi supaya lekas cuci muka dan menemui Fadly yang menunggu di luar. Tak selang lama, Hasuna mencuci muka dan keluar dengan wangi parfum di tubuhnya. "Hai.. kamu baru bangun ya?" tanya Fadly begitu sang pacar tiba di hadapannya dan terduduk lesu. 'Udah tau nanya," batin Hasuna. Usapan lembut mendarat di kepala cewek itu. Fadly tersenyum tipis mengamati wajah ayu Hasuna ketika bangun tidur. Walau tanpa make up, wajah naturalnya terlihat tetap cantik. "Kamu dari mana Fadly?" tanya Hasuna malas-malasan. "Dari rumah temen aku. Tadi mampir beli jeruk terus kesini." "Ohh, kamu libur ya hari ini?" "Iyah, hari Minggu masa kerja?" "Yaa, siapa tau? Orang dulu juga sering lembur." "Oh iya, kata ibu tadi kamu sepedaan kemana?" Hasuna menengok dengan alis terangkat. "Nggak kemana-mana cuma muter-muter doang." "Ohh. Nggak ketemu temen kamu itu kan?" Fadly berucap dengan nada rendah, Hasuna berdehem sekilas. Mengalihkan tatapannya ke halaman depan rumah. "Kamu udah makan belum?" tanya Hasuna. "Udah kok." "Aku laper nih, aku tinggal makan dulu nggak papa kan?" "Oh, iya." Tanpa basa-basi Hasuna beranjak ke belakang dan menuju ruang makan. Hasuna bertemu sang ibu yang sedang membuat minuman. "Loh, Nak, kenapa malah kesini? Temuin pacar kamu sana." "Bentar Bu, aku mau makan. Laper banget perut aku. Ibu masak apa hari ini?" Tentu saja Hasuna sengaja menghindar karena tidak ingin membahas Argata lagi. Hasuna hafal dengan tingkah pacarnya itu, pasti akan mengulik-ulik dan mengira yang tidak-tidak tentang Argata. "Itu ada semur ayam tadi ibu masak. Kalau gitu ibu ajak Nak Fadly sekalian kesini yah, biar nemenin kamu makan." "Ehh, jangan bu," Hasuna menahan tangan wanita itu. "Fadly udah makan, jangan disuruh makan." "Kata siapa? Kamu nggak usah sok tau." "Ih, ibu mah gitu. Orang aku udah nanya kok tadi. Jangan ya bu, yaa.." "Hmm, yaudah deh." Hasuna nyengir kuda lantas mengambil piring dari rak. Menuang nasi secukupnya dan juga lauk di atas meja. Hasuna mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan membuka aplikasi chat. Bukannya makan, Hasuna malah sibuk mengetikkan jarinya di layar. Mengomentari postingan Argata yang memotret pose kucing kesayangannya yang sedang bengong di dekat semak-semak. 'Kucing kamu lucu Ga, xixixi..' ketik Hasuna. 'Iya nih, lagi ngelamunin ayang..' balas Argata menyulut tawanya. 'Wkwkw, ayangnya kemana emang?' 'Nggak tau nih kayaknya lagi nyari janda.' Piring itu masih utuh tak disentuh oleh Hasuna. Sementara pikirannya sibuk mengobrol lewat teks. Pun, di ruang tamu justru sang ibu sedang menemani calon menantunya. Lebih dari lima belas menit Hasuna tak kunjung kembali. Fadly berpikir cewek itu tidur lagi. Sang ibu pun memutuskan untuk melihat ke belakang dan betapa mengejutkannya yang tadi mau makan sedang asyik ketawa-ketiwi memandang ponselnya. "Hasuna kamu ini gimana sih? Ditungguin dari tadi loh.. Malah dianggurin makanannya.. Nak Fadly nungguin kamu dari tadi.." omel wanita itu. "Oh iyaa, lupaa buu.." Seketika Hasuna menurunkan ponsel itu dari pandangan. Bergegas ia menyuapkan makanan itu ke mulutnya sembari menyimak obrolan di ponsel yang membuatnya tertawa. "Nak Fadly masih nunggu di luar, jangan lama-lama.." kata sang ibu. "Iya ibu ih, bentar dong.." "Jangan main hape mulu.." Belum habis ucapan ibu, Fadly menyusul ke ruang makan. Dilihatnya cewek itu asyik scrool vidio lucu yang menggelitik perut. Makanannya pun hanya disuapkan sesuka hatinya. "Kamu nggak menghargai aku ya? Dari tadi ijin mau makan taunya main hape!" sentak Fadly. Terkesiap, senyum di wajah itu meluntur. Hasuna mematikan ponselnya dan menunduk. Fadly bergerak cepat menghampiri. "Maaf, Fadly, ini juga sambil makan kok," cicit Hasuna. "Apa?! Kalau makan ya makan aja seperlunya ngapain main hape?! Kamu nggak sadar ditungguin hah?! Buang-buang waktu aku tau nggak!" Fadly berbicara keras di samping kepala Hasuna. "Aku lagi makan, kamu kenapa sih marah-marah?" desis Hasuna. "Halah, alesan aja mau makan! Padahal mau menghindar kan dari aku?!" pahatan rahang itu mengeras ketika mengamuk. "Loh, aku emang laper kok..." "Aku dateng kesini baik-baik kangen sama kamu tapi kamu malah tidur, terus ijin makan tau-tau main hape! Kamu mikirin perasaan aku nggak sih kok sepele banget!?" Fadly memukul meja dengan amarahnya. Sang ibu hanya bisa terdiam. Tidak berani ikut campur. Bahkan, di rumahnya sendiri beliau selalu tidak ingin terlibat dalam percintaan anaknya. "Fadly kamu bisa jaga sikap nggak sih? Kamu berani bentak-bentak aku depan ibu?" protes Hasuna. "Kenapa emangnya hah?! Nggak boleh?! Aku nggak suka cara kamu kayak gini Hasuna! Kebiasaan tau nggak?!" geram Fadly. "Iya aku minta maaf.." "Halah minta maaf terus! Kamu sengaja kan?!" Napasnya naik-turun, Fadly nampak menyeramkan saat marah. Ibu Hasuna malah memilih pergi ke dapur dan tidak memperdulikan Hasuna yang ketar-ketir disana. "Fadly! Cukup ya! Kamu nggak punya sopan-santun di rumah orang! Masalah sepele aja digede-gedein muak aku sama kamu!" Hasuna menyambar ponselnya di meja lantas bergegas pergi masuk kamar. Fadly mengikuti dan berniat mencegahnya namun Hasuna sudah membanting pintu lalu dikuncinya rapat. "Ngeselin banget sih jadi orang!" gerutu Hasuna kacau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN