Hasuna berjalan di halaman kampus dengan wajah sendu. Pandangannya mengedar ke sekeliling seolah mencari sesuatu. Hari ini Argata pergi naik gunung jelas saja tak kelihatan batang hidungnya.
Lalu lalang mahasiswa terasa sepi dalam batin Hasuna. Kedua tangannya berpegangan di pembatas jembatan yang berada di taman. Semilir angin menggoyangkan helai rambutnya.
"Jelas aja Argata ikut hiking, kan ada cewek itu disana."
Hasuna menggerutu seiring cairan menuruni wajahnya. Cewek itu tidak menyadari sebuah bayangan yang berada di belakangnya dan mendengar suaranya.
"Pasti sekarang dia lagi naik gunung sambil ketawa-ketawa sama cewek itu."
Hasuna membayangkan romansa dua orang pendaki yang bersenda gurau sambil berjalan bersama. Sementara itu orang di belakang tubuhnya sedang menahan tawa.
"Jangan-jangan malah sambil gandengan juga.."
Hasuna merengek dengan tangis bombai. Kepada siapa Hasuna bercerita kalau Argata tidak ada di sampingnya? Masalah Fadly selalu membuat hari-harinya berkabut mendung.
Sebuah jari mengetuk di pundak. Hasuna menengok cepat namun tidak ada apa-apa. Jemari itu berpindah mengetuk di pundak satunya lagi. Hasuna menengok dan masih tidak apa-apa. Hasuna langsung membalikkan tubuhnya dan wajah tengik langsung menyambutnya.
"Dorrrr!!!!!!" cowok itu berteriak jail tak lepas dari gelak tawanya menertawakan wajah pucat Hasuna.
"Loh, Argata bukannya kamu naik gunung?" tanya Hasuna seraya menelan ludahnya. "Sejak kapan kamu ada disini?"
"Dari tadiii kamu ngomong sendiriii..."
Argata menguasak kepala Hasuna gemas dengan tangan besarnya. Senyum mengambang di wajah itu. Sebuah topi melekat di kepala cowok itu dipakainya terbalik ke belakang menambah kegantengannya.
"Kamu katanya mau hiking? Kok masih di kampus?" tanya Hasuna dengan wajah polos.
"Aku nggak jadi ikut, takut ada yang khawatir." Argata berdehem jail, sedang menyindir seseorang yang kemudian wajahnya memerah dengan jejak air mata di pipi.
"Kamu apaan sih?" cewek itu mencubit perut Argata. Kemudian membalikkan tubuhnya melihat sungai yang mengalun tenang di bawah.
"Yaelah, malu-malu diaaa..."
Argata beranjak di samping gadis itu seraya menumpu kedua sikunya di pembatas jembatan. Tubuh tinggi cowok itu sedikit menunduk sehingga menyamai pundak Hasuna.
"Aku nanya serius Ga, kenapa nggak jadi ikut? Padahal kamu kepingin banget kan?" tanya Hasuna kemudian.
"Nggak papa, emang dibatalkan kok sama ketua mapala. Soalnya cuaca lagi kayak gini juga kan? Tiap sore selalu hujan kayak udah di jadwalin gitu."
"Oh, jadi emang karena cuaca kan? Bukan karena takut ada yang kuatir?" Hasuna memelankan kalimatnya.
"Ya, sama itu juga sih sebenernya." Argata terkekeh geli.
"Ah, udah ah, resek kamu mahh!"
"Dih, resek apaan coba? Perasaan kemarin ada yang ngomong sendiri loh. Sayang aja aku nggak ngerekam."
"Ngapain direkam segala?" ketus Hasuna.
"Yaa buat bukti kalau ada yang kuatir sama aku."
Sebuah tabokan menghantam bahu cowok itu. Argata mengaduh manja seiring tatapannya bertemu dengan Hasuna. Manik bening dengan kelopak lentiknya itu nampak basah seakan-akan ada embun yang telah membasahinya.
"Kamu tadi kenapa? Habis sedih ya?"
"Nggak papa, nggak ada yang sedih kok. Tau darimana kamu?"
Hasuna mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Argata masih mengamati separuh wajah itu dari samping. Wajah yang menyiratkan Hasuna tidak sedang baik-baik saja.
"Ada apa? Kamu mau cerita? Jangan sungkan. Aku bakal jadi pendengar yang baik buat kamu kok.." kata Argata.
"Aku lagi kesel sama cowok aku.." rintih Hasuna kemudian menggigit bibir bawahnya sejenak.
"Kenapa sama cowok kamu? Dia jahat lagi?"
"Kemarin dia marah-marah sama aku. Pas dateng ke rumah kan aku lagi tidur, terus aku ijin mau makan dulu sebentar tapi aku keasikan main hape. Dia langsung marahin aku kayak... aku bikin kesalahan besar."
Hasuna menggeleng lemah. Mengerjapkan matanya yang berkaca-kaca dan menitikkan cairan di pipi. Entah naluri dari mana jemari Argata bergerak sigap menyeka bulir itu dari wajah Hasuna.
"Cowok kamu ngamuk lagi? Apa dia lagi PMS?" tanya Argata.
"Nggak tau, dia darah tinggi mungkin. Padahal di rumah aku sendiri loh, Ga. Kamu bisa bayangin nggak sih. Kamu tuan rumah tapi kamu dibentak-bentak sama tamu kamu. Etis nggak sih?" Hasuna menghadapkan dirinya pada cowok itu.
Seberkas tawa sumbang menghiasi wajah Argata. "Nggak layak lah, Hasuna. Suami juga belum, udah berani aja. Nggak menghormati banget. Terus ibu kamu gimana?"
"Seperti biasa. Ibu aku ya liat doang, nggak berusaha buat bantuin aku. Kayak ibu itu nggak berani ngelawan cowok aku gitu loh.." suaranya kian tercekat, Hasuna menunduk lesu.
Argata menegakkan tubuh dan mengirim usapan di bahu mungil itu untuk memberinya sedikit ketenangan. Tak lama kemudian, kepala itu tersandar di d**a bidangnya. Refleks Argata mendekap punggung Hasuna. Membiarkan kenyamanan merasuki jiwa perempuan itu.
"Aku nggak suka dibentak-bentak kayak gitu Ga.."
"Iya, aku ngerti, semua cewek juga nggak mau lah. Sumpah aku malu banget kalau jadi cowok kamu itu, di depan ibu kamu sampai marahin kamu segitunya? Gila."
"Kamu nggak gitu kan Ga?" tanya Hasuna menyerupai bisikan.
"Ya nggak lah, oneng. Ibu aku ngajarin sopan santun dari kecil. Walaupun aku sering disakitin sama perempuan, tapi aku tau cara menghargai perempuan."
Derap langkah mahasiswa yang berlalu lalang di sekitar melihat kemersaraan mereka seraya beriul-siul. Hasuna mendadak menarik dirinya menjauh dari Argata dengan tatapan mata yang mengedar kemana-mana.
"Sorry, sorry," gumam cewek itu salting.
"Ehem, ehem," seru kawan-kawan Argata yang baru datang. Ada Okvan dan Leo yang berjalan mundur dengan wajah menjengkelkan.
Argata menahan senyumnya menatap Hasuna yang terburu mengusap pipinya yang lembab. Sneaker Argata merayap dua langkah lebih dekat dengan cewek itu.
"Udah, nggak usah dipikirkan. Kalau sekiranya nggak cocok jangan dipaksakan. Aku ngomong guni bukan berarti aku menghasut kamu loh ya. Kamu perempuan, harus lebih selektif memilih cowok. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
Hasuna mengangguk paham. "Katanya dia mau seriusin aku habis lulus kuliah. Tapi liat sikap dia kayak gini bikin aku ragu, Ga."
"Itu semua terserah kamu, Hasuna. Kamu yang menentukan. Tapi.. lebih baik kamu tanya dulu sama ibu kamu. Soalnya aku lihat disini, ibu kamu juga berperan penting dalam hubungan kamu sama cowok kamu," ucap Argata sambil memegang pembatas jembatan.
"Emang iya, dan asal kamu tau ibu aku nggak pernah nyuruh aku pisah. Malah dia dukung banget aku sama cowok itu walaupun udah sering aku dikasarin sama dia. Aneh kan?" Hasuna mengsedih malas.
"Oh, mungkin ibu kamu ada sesuatu yang disembunyikan nggak sih?" Argata menaikkan alis.
"Nggak tau, tapi keluarga aku sama dia itu udah deket banget."
"Tapi, ya percuma juga keluarga deket tapi kamunya tertekan."
"Gimana ya, Ga? Kayaknya susah buat lepas dari dia."
"Nggak papa, masih ada aku disini buat kamu cerita. Jangan khawatir." Sekali lagi Argata mengusap bahu Hasuna memberinya ketenteraman.