Bab 25

1023 Kata
Sore ini Argata membonceng Hasuna naik motor keliling kota. Menyaksikan lampu-lampu jalan yang berpendar romantis di sudut kota sembari menikmati desau angin malam yang menyegarkan. Terlihat sederhana namun jarang dilakukan. Karena Fadly tidak naik motor. Hasuna sengaja memakai masker hitam dan hoodie dengan warna senada untuk menghindari seseorang mengenalinya di jalan. Seperti yang sudah pernah terjadi. Hasuna tidak ingin mengulanginya lagi. "Makasih ya, Ga, udah ngajak aku jalan-jalan," ucap Hasuna ketika motor Argata berhenti di lampu merah. "Iya, Hasuna, santai aja kali." Argata menengok sekilas. "Aku nggak pernah motoran kayak gini sama cowok aku." Hasuna mendekat di pundak kiri Argata. Kedua tangannya masih setia melingkari pinggang ramping cowok itu. Argata menapakkan sebelah kakinya di trotoar. "Ya iyalah cowok kamu mobilan terus. Malah enak dong nggak dingin kena angin," ucap Argata. "Seru naik motor lah," tandas Hasuna. "Lebih romantis juga." Argata tertawa kecil. "Sayangnya aku bukan cowok kamu." Hasune menimpuk helm retro yang membungkus kepala Argata. Gurau canda mereka di tepi jalan terpantau oleh mobil hitam di sampingnya. Pengendara mobil itu nampak menelisik seorang gadis yang berada di boncengan motor matic dengan spion di bawah stang itu. Namun wajahnya tidak kelihatan karena berada di samping cowoknya. "Bukannya dia temennya Hasuna?" pikir Fadly. "Tapi, cewek di belakangnya siapa ya?" Melihat bodi perempuan itu terlihat mirip dengan Hasuna. Tetapi perempuan itu tidak memakai pashmina seperti yang sering dipakai Hasuna sehari-harinya. Lampu hijau menyala, belum usai lamunan Fadly. Deretan mobil dan motor di depannya kemudian melaju dengan serentak. Fadly masih mengamati motor tadi yang berjalan berbelok arah dengannya. Argata memacu kecepatan pelan sembari menikmati gemerlap lampu kota. Hasuna begitu senang hingga merentangkan kedua tangan di udara. Mereka layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. "Argata, mampir angkringan mau nggak? Laper aku," ucap Hasuna kemudian. "Apa? Angkringan? Nggak salah kamu?" tanya Argata. "Salah apanya?" tanya Hasuna kembali. "Ya, masa cewek kayak kamu doyan jajan di angkringan?" Pertanyaan konyol yang pernah Hasuna dengar dari bibir Argata. Cewek itu teryawa renyah meremehkannya. "Ya doyanlah, dikiranya aku cuma seneng kafean doang gitu? Aku lagi pengen nih, ayuk gas aja." "Okey, siap Ndoro!" Seolah mendapat suntikan semangat, Argata bergegas melaju ke angkringan tempat biasa nongkrong. Suasana lampu teplok yang berwarna kuning menggantung di atas gerobak terasa begitu romantis. Segelintir cowok berada di tempat itu nampak asyik bermain gitar sambil mabar. Hasuna menurunkan kupluk hoodie yang melapisi kepalanya dan menyusul Argata memasuki tenda terpal itu. "Kamu mau makan apa Hasuna?" tanya Argata seraya menggeser duduknya di bangku panjang. "Hmm.. nasi kucing lah." "Silahkan Mba, mau pake lauk apa? Tinggal milih aja," ucap bapak yang sedang menyeduh kopi s**u dengan air termos. Argata mengambil dua bungkus nasi kucing yang berada di dalam keranjang makanan. Hasuna menambah dengan dua tusuk sate telur puyuh dan selembar gorengan bakwan. "Pak, es teh satu ya. Kamu mau minumnya apa?" tanya Argata sembari membuka karet yang membungkus nasinya. "Aku.. sekoteng aja.." jawab Hasuna. "Siap, ditunggu sekedap nggih, Mas, Mba." Bapak itu membawa keluar gelas minuman yang usai dibikinnya dan memberikan kepada cowok yang nongkrong diluar. Hasuna adalah salah satunya cewek yang berada disana. "Ga, kamu nggak mau pake lauk? Ambil aja nanti aku yang bayarin," celetuk Hasuna mengejutkan Argata hingga tersedak. Cewek itu mengambilkan sate usus dan meletakkan diatas nasi milik Argata. "Kamu ngomong apa? Mau bayarin? Heh, cewek nggak boleh menyalahi kodrat," ucap Argata. Setengah terbengong, Hasuna menahan tawa. "Kodrat apaan heh? Ngawur!" "Ya kamu loh aneh-aneh aja, siapa yang minta dibayarin?" "Suka-suka aku lah, kan aku yang ngajak kamu kesini." Argata mendecak malas. "Udah ah, nggak usah aneh-aneh." "Aneh-aneh apasih? Kamu makannya yang banyak biar kenyang." Hasuna iseng mengambilkan gorengan dan sate telur puyuh untuk Argata meski ditolak dengan jengkel. Hasuna tertawa saja. "Udah, makan aja, rejeki jangan ditolak." "Kamu mah curang yah?" dengus Argata. "Apasih ah, tenang aja. Nanti aku yang bayar. Orang nggak habis banyak juga." Hasuna melahab nasi kucing itu dengan kelaparan. Pun, ia masih nagih satu bungkus lagi karena suka dengan launya. Oseng soun pedas dan juga sambal teri. "Enak banget ya ampun bikin cacing-cacing aku berhenti demo.." gumam cewek itu sembari mengelus perutnya. "Emang cacing bisa demo ya?" tanya Argata. "Iyalah, emang kamu nggak pernah ngerasain?" "Bukan, maksudnya demonya gimana gitu loh? Pake spanduk apa nggak?" Nyaris makanan itu tersembur dari mulut Hasuna. Bergegas cewek itu menyesap minuman hangat yang telah dibuatkan oleh si bapak. "Iyah, pake spanduk tulisannya; SAYA LAPAR BELUM DIKASIH JATAH." Argata menjawil pipi gadis itu. "Dasar kamu." Canda tawa mengalir mesra. Rintikan gerimis yang bersenandung di luar menyelimuti suasana lebih romantis. Argata tak membiarkan Hasuna membayari makanan itu. "Pak, sekalian ngelunasin hutang saya yang kemarin udah lamaaaa banget nggak dibayar-bayar." Argata mengulurkan uang lima puluh ribuan kepada si bapak. "Ngomong-ngomong nggak ada bunganya kan pak? Hehehe.." "Yo ndak to, Mas, bapak malah lupa e kalau sampean ada utang. Utangnya berapa to.." jawab bapak itu dengan logat medoknya. Hasuna menggeleng dengan senyum gelinya. Argata menyebutkan sepuluh ribu kemudian bapak mentotal jumlah makan Argata dan Hasuna. Cowok itu pun mendapat kembalian lima belas ribu. "Habisin dulu sekotengnya, nggak usah buru-buru. Aku ada mantol kok, nanti kalau hujannya deres," ucap Argata saat Hasuna masih astik menikmati hangat gelas sekotengnya dengan menempelkan kedua tangan. "Iyah, aku juga belum mau pulang kok." "Tapi kamu dicariin nggak? Ntar aku digebukin lagi sama cowok kamu gimana?" Hasuna tertawa kecil. "Ya nggak lah, aku lagi nggak mau urusan sama dia. Bodoamat mau dia marah juga. Udah makin ilfeel aku." "Tapi.... kamu begini bukan karena aku kan?" Argata bertanya dengan hati-hati, sembari menatap wajah manis dibawah pendar kekuningan lampu teplok. Hasuna nampak membasahi bibirnya dengan lidah. "Hm.. ya nggak lah, Gaaa! Nggak ada sangkut pautnya sama kamu." "Baguslah kalau begitu. Bukannya gimana-gimana loh ya, takutnya kan nanti aku dikira orang ketiga. Kan nggak seru lagi.." kata Argata. "Yah, kamu pikir aja, gimana aku bisa komitmen kalau aku tertekan sama cowok itu? Untung aja sih belum tunangan. Ya, aku nggak peduli sih mau dia mikir kayak gimana. Atau... kamu nggak seneng ya deket sama aku?" Pertenyaan bodoh yang menggemaskan. Ingin rasanya Argata memakan pipi cewek itu karena kalimatnya tersebut. "Kalau nggak seneng, ngapain aku boncengin kamu? Udah aku ceburin kamu ke sungai dari tadi.." "Haha, kok resek sih?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN