Bab 26

1006 Kata
"Argata, udah sarapan belum?" Keesokan paginya, Hasuna berjalan menghampiri Argata yang terduduk di bawah pohon. Cowok itu sedang membaca sebuah buku di tangannya. Hasuna beringsut di sebelah Argata dan memberikan kotak bekal padanya. "Apa ini?" tanya Argata kemudian menerima benda itu dan membuka isinya. Nasi goreng yang nampak sedap menggoda perut Argata. Nampak telur dan sosis bercampur dalam nasi yang berwarna kecoklatan. "Ini buat aku, Hasuna? Dalam rangka apa kok tumben banget?" Argata menyugar rambutnya dengan tatapan heran. "Nggak kok, iseng aja tadi di rumah masak banyak. Sebagai rasa terima kasih aku karena kamu kemarin udah ajak aku jalan-jalan." "Ya ampun, Hasuna, gitu doang loh." "Hehe, buruan makan, mumpung masih anget." "Kamu ini baik banget sih. Makasih ya." Langsung sikat. Argata menaruh buku di pangkuan dan menggerakkan sendok untuk menyumpal nasi goreng itu ke mulutnya. Tentu saja, Hasuna tidak akan melupakan malam itu. Jajan angkringan di bawah gerimis manja. Canda tawa saat itu terasa begitu romantis dan humoris. Hasuna menyembunyikan senyumnya. "Enak banget Hasuna masakan kamu," ucap Argata disela-sela goyangan mulutnya. "Iyah, habisin aja. Biar kenyang. Oiya, minumnya lupa." Hasuna melolos botol air minum di pinggir tas dan memberikan pada Argata ketika habis makanan itu masuk ke perutnya. "Makasih ya, sekali lagi." Argata meneguk air putih itu untuk mengobati pedas di lidahnya. "Sama-sama Ga, kalau kamu suka kapan-kapan aku bawain lagi," ucap Hasuna antusias. "Kamu ini rajin banget. Jangan dong, nanti ada yang marah kan repot?" Argata tertawa kecil. "Hmm, nggak tau juga orangnya. Lagian emang kenapa? Sama temen emang nggak berhak ya ngasih bekel?" tanya Hasuna polos. "Ya, nggak gitu juga sih." "Kalau kamu nggak keberatan, nanti aku bawain lagi." Argata menyentil hidung mungil itu. "Rajin banget sih. Emang kamu bisa masak?" "Heh, ngeremehin. Nasi goreng doang mah kecil." "Harusnya apapun bisa lah," timpal Argata. "Masih belajar, dikit-dikit. Oiya Ga, kamu masuk kelas jam berapa?" Hasuna melirik jam tangan. "Bentar lagi sih." "Yaudah yuk ke kelas sekarang aja. Oiya, kotak bekelnya mau aku cuci dulu." Hasuna mengambil benda berwarna merah maroon itu. Tetapi Argata menahannya. "Ehh, jangan kan aku yang makan. Biar aku yang cuci." "Nggak usah, nggak papa aku aja." Hasuna bergegas membawa benda itu ke sebuah kran air. Tak tinggal diam Argata mengikuti dan merebut sendok di tangan Hasuna. "Nggak sopan tau, aku yang makan kamu yang nyuci." Argata menggerutu seraya meletakkan sendok itu di bawah kran air yang menyala pelan. Hasuna membolak-balikkan kotak beserta tutupnya itu bersama Argata. Tak sengaja tangan mereka bersentuhan di bawah guyuran kran air. Hasuna menengadah dan tatapannya bertemu dengan Argata. Sejenak waktu seakan hening ketika mereka berdua saling terhanyut tatapan satu sama lain. "Eh, udah sini biar aku aja." Hasuna mengambil sendok di tangan Argata dan membasuhnya lagi sebentar. Selagi kotak itu basah, Hasuna meletakkan di tempat duduk yang berada di taman. "Udah? Yuk ke kelas, makasih ya cantik," ucap Argata. "Yuk, ini biar kering dulu disini." Hasuna dan Argata berjalan bersama menyusuri koridor. Kebetulan ruangan mereka pagi ini bersebelahan. Mereka menaiki anak tangga bersama ditengah lalu-lalang mahasiswa. "Aku jadi semangat nih, Hasuna. Abis makan nasi goreng buatan kamu," kata Argata antusias. "Iyah, syukurlah kamu seneng. Aku juga seneng." Hasuna tersenyum kecil sembari memegang pegangan tasnya. "Oiya, Ga, nanti sore ke kafe nggak?" "Hm? Iya dong, kenapa mau ikut?" "Kalau boleh sih, hehe.." "Hehh, sejak kapan juga aku ngelarang." "Aku jadi ngekorin kamu terus nih, nggak ada yang marah kan?" "Nggak lah Hasuna, buat kamu mah apa aja okey." "Cielahh.." Hasuna tertawa salting. Langit bersinar cerah siang ini. Suasana kampus ramai mahasiswa. Usai kelas bubar, Hasuna ingin mengambil kembali kotak bekal yang tadi ditaruhnya di bangku taman. Hasuna mengantongi kotak bekal itu ke dalam tas. Bertepatan ponselnya berdering dan meronta-ronta disana. Hasuna terduduk di bangku itu lantas membuka ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari Fadly. Beberapa saat Hasuna mendiamkan sebelum akhirnya mengangkatnya. "Hallo, Dil, kenapa?" tanya Hasuna. "Kamu masih di kampus?" tanya Fadly. "Iyah, kenapa emang?" "Aku jemput kamu ya? Sekalian mau ajak jalan." Ah, bagaimana ini? Hasuna sudah berniat mau nonton Argata di kafe itu. Hasuna bingung ingin beralasan apa. "Aku mau kamu temenin aku dateng ke reuni sekolah aku dulu. Kamu mau kan?" tanya Fadly lagi. Tidak enak mengecewakan, Hasuna mengiyakan saja. "Iyah, aku ikut kamu aja Fadly." "Okey, sebentar lagi aku keluar kantor. Kamu mau tunggu aku dimana Hasuna?" "Hmm, aku nunggu kamu di angkringan aja." "Loh, kok angkringan?" Fadly merasa terkejut. "Iyah, sambil minum sebentar." "Nggak usah Hasuna, banyak coeok di angkringan. Kanu nggak usah kesana. Cari aja tempat lain." "Nggak mau, aku maunya angkringan." "Yaudah deh, terserah kamu aja." Sambungan telepon selesai. Hasuna bergegas mencari Argata untuk meminta maaf. Cowok itu berada di parkiran sambil duduk di atas motor maticnya. "Argata maaf ya, aku nggak jadi ikut ke kafe." "Loh, kdnapa?" "Tadi cowok aku nelepon, disuruh nganterin dia mau ada reunian sekolahnya dulu. Jadi aku meu nemenin dia dulu." "Iya udah nggak papa Hasuna," Argata tersenyum simpul saat Hasuna merasa overthingking dan tidak enak hati. "Nggak papa kan lain waktu bisa. Nanti aja kapan-kapan atur waktu lagi. Sekarang mending kamu sama cowok kanu aja." "Aku sebenernya nggak mau, cuma yaa..." "Udah, syukuri aja Hasuna. Ada orang yang mau setulus itu sama kita dan menerima kita apa adanya." "Kalau ada apanya gimana?" tanya Hasuna jail. "Ya biasa aja sih kalau aku," Argata tertawa keras. Setelah pamit Hasuna langsung pergi meluncur keluar gsrbang kampus. Cewek itu menunggu Fadly di sebuah angkringan untuk mengganjal perutnya. Sebungkus nasi kucing seperti tadi malam. "Loh, kok malah disini?" sebuah motor berhenti di dekat tenda terpal itu. Argata berjalan masuk dan terduduk di sebelah Hasuna. "Katanya mau dijemput cowok kamu kok malah ke angkringan?" tanya Argata. "Hehe iyah, habis aku lapar. Nanti sambil nungguin cowok aku dateng sambil makan dulu." Argata hanya memesan segelas kopi s**u pada si bapak. Sambil menyaksikan Hasuna makan dengan lahap. "Cowok kamu udah otw kesini?" "Iyah, macet mungkin." "Enak banget Gaaa.." "Ya ampun, kamu doyan banget nasi kucing." "Iyahh, pedes sambel terinya bikin nagih. Bu aku ambil satu lagi." Hasuna mengambil bungkusan nasi di dalam keranjang dan kemudian membuka karetnya. "Cantik-cantik makannya kayak kuli." "Hah?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN