Malam ini terasa membosankan. Hasuna memegang minuman di tangannya sementara Fadly sedang membaur bersama temannya dan bercanda gurau.
Saat ini reuni kelasnya dilaksanakan di sebuah kafe yang berada di teras atas atau roof top. Sejak tadi Fadly meninggalkan Hasuna sendiri sedangkan Hasuna tidak mengenali siapapun disana.
Hasuna menyesap minumnya sambil berdiri di pagar pembatas. Melihat pemandangan lampu-lampu kota di bawah. Hasuna iseng berselfie ria dengan background teman-teman Fadly yang sedang berkumpul.
Tak lama Hasuna mengungahnya di media sosial. Seseorang mengirim pesan dengan menandai fotonya.
'Kok fotonya sendiri?' tulis Argata di ruang obrolan.
'Iyah, nggak papa lah.' balas Hasuna malas-malasan.
'Cowokmu ngapain disana?'
'Lagi ngobrol sama temen-temennya.'
'Ya nggak nimbrung kamu?'
'Nggak enak, nggak kenal juga.'
'Kamu nggak dicariin ibu kamu?'
Jarum menunjuk pukul 9 malam. Sebelum kesini Fadly sudah meminta izin pada Ibu Hasuna sehingga beliau tidak mencari-cari. Tetapi Hasuna mulai bosan di tempat ini karena tidak ada teman yang mengajaknya mengobrol.
Akhirnya Hasuna memberanikan diri untuk menghampiri cowok itu.
"Fadly, mau pulang jam berapa? Aku ngantuk."
"Ya ampun, baru juga jam segini. Ntar dulu lah."
"Kapan? Aku capek dari tadi disitu terus nggak ngapa-ngapain."
"Ya kamu nggak mau gabung kok. Orang lagi seru juga nggak enak kalau ditinggal pulang."
"Jadi kamu nggak mau nganterin aku pulang?"
Belum sempat Fadly menjawab, seorang teman menyikut cowok itu dan mengajaknya mengobrol. Hasuna diacuhkan sendiri menunggunya. Kemudian tanpa pikir panjang lagi Hasuna memutuskan untuk pergi.
Langkah kakinya berjalan cepat menyusuri lorong dan menuruni tangga. Sampai Hasuna berada di lantai bawah kemudian memesan ojol.
Pukul setengah sebelas Hasuna baru saja tiba di rumah. Batinnya masih kesal karena tingkah Fadly yang tak menghargainya. Hasuna membuat secangkir cokelat untuk menghangatkan perut dan juga mengembalikan moodnya.
"Gimana tadi acarnya nak? Kok ibu nggak denger mobilnya Fadly?" tanya ibu Hasuna yang terduduk di sampingnya.
"Aku balik sendiri bu, Fadly masih disana."
"Loh? Kok bisa pulang sendiri?" wanita itu menaikkan alis heran.
"Iyah, soalnya dia aku ajak pulang nggak mau. Yaudah aku balik aja sendiri keburu capek badan juga."
"Oh, yaudah, dihabisin cokelatnya nggak usah cemberut."
"Gimana nggak cemberut? Aku diajak tapi buat dicuekin."
"Nggak gitu maksudnya Fadly, nak. Mungkin aja dia lagi temu kangen sama temen-temennya kan. Udah lama nggak ketemu."
"Tapi nggak gitu juga kali Bu."
"Udah, ibu mau tidur dulu, ngantuk."
"Iyah," Hasuna masih menyeruput cokelat panasnya sembari menonton tayangan televisi.
Sampai pukul dua belas Hasuna tak kunjung tertidur, ia iseng membuka media sosial dan melihat Argata sedang aktif.
Hasuna mengirim pesan 'P' padanya. Tak lama kemudian cowok itu membalas dan menanyakan mengapa Hasuna belum tidur.
Setelah menghabiskan cokelatnya. Hasuna lekas mematikan televisi dan beranjak ke kamar. Sembari rebahan Hasuna menelepon Argata di malam sunyi.
"Kamu pulang jam berapa Hasuna?" tanya Argata memulai pembicaraan.
"Tadi jam setengah sebelas sampai rumah. Kamu kok masih melek jam segini Ga?" tanya Hasuna.
"Iyah, biasa ngopi jadi nggak bisa tidur. Sambil ngerjain tugas juga tadi tapi udah selesai."
"Ouh, mau tidur jam berapa?"
"Nggak tau nanti, ngantuk aja belum."
Hasuna berdehem lama. Memutar tubuhnya menghadap langit-langit kamar. Suara jangkrik malam di tempat Argata begitu nyaring di telinganya.
"Oiya, tadi gimana kamu tadi disana?" tanya Argata.
"Bosen Ga, gila nggak sih aku diajak sama cowok aku cuma buat dicuekin disana," curhat Hasuna.
"Terus sekarang cowok kamu gimana? Telepon kamu nggak atau nyariin kamu?"
"Nggak ada, mungkin belum pulang dia. Aku nggak peduli juga sih, cuma nggak suka aja sama cara dia tadi."
"Iyah, kalau aku nggak bakalan sih sampai segitunya cuekin orang apalagi orang itu disayang banget. Aneh ya? Kok bisa dia begitu?"
"Yaa, dia itu kalau udah gabung sama temen-temennya udah nggak bisa diganggu gugat. Mau ditelpon seribu kali juga nggak bakalan diangkat."
"Ya ampun.. nggak pegel tuh tangan telepon seribu kali." Argata tertawa kecil.
Di seberang sana, Argata baru saja menutup laptopnya dan bergeming ke tempat tidur. Sambil mengganjal bantal di bawah d**a, Argata menopang kepalanya dengan sebelah tangan.
"Hasuna, masih belum tidur?"
"Belum, aku juga belum sikat gigi habis minum coklat tadi."
"Disitu hujan nggak?"
"Hmm.. agak gerimis sih, enak ya suasananya."
"Iyah, jadi adem gimana gitu."
"Hooh, enaknya buat tidur tapi nggak ngantuk."
Argata terkekeh pelan. "Kok aku malah laper yah jam segini. Mau keluar kamar mager banget."
"Kamu bilang laper aku jadi ikutan laper, pengen bikin mie goreng."
"Aku buatin sekalian dong," seru Argata.
"Haha, yaudah aku buatin ya nanti aku fotoin sama kamu. Jadi kamu makan aja fotonya."
"Tuh, kan, resek.. Ya nggak kenyang dong nyaii."
"Lah, abisnya kamu.. orang rumahnya jauh juga. Kalau cuma semeter doang mah, udah aku suruh kesini."
"Wah, ngodein nih."
"Ngode apa coba?" Hasuna tertawa renyah.
"Ya ngode biar aku pindah rumah di samping kamu."
"Ada-ada Ga, tapi serius aku laper ini."
"Yaudah sana, aku juga mau bikin mie goreng nih."
"Okey, nanti vidio call aja sambil makan gimana?"
"Yaa, oke siap."
Beberapa menit yang sama Hasuna dan Argata meluncur ke dapur dan berkutat dengan kompor. Mereka membuat mie yang sama dan matang di waktu yang sama juga.
Lima belas menit kemudian Hasuna kembali ke kamar begitu juga Argata. Mereka kemudian mengambil ponsel dan salah satunya menekan icon panggilan video.
Begitu wajah mereka berada di layar, tawa itu kembali melebur.
"Kamu tim pake nasi nggak?" tanya Hasuna.
Argata menunjukkan piringnya berisi mie dan secentong nasi putih yang berada di sisi piring. Begitu pula dengan Hasuna.
"Kok bisa samaan gini ya?" tanya Argata dengan nada jenaka.
"Aku emang suka pakek nasi, soalnya kalau nggak pakek nasi kayak ada yang kurang. Kurang kenyang."
"Hahaha, ada-ada aja kamu. Yaudah yuk makan, oiya udah ambil minum belum?"
"Udah.. nih," Hasuna mengangkat gelas yang berada di atas nakas.
"Bentar aku ambil dulu."
Tak lama Argata meninggalkan ponselnya, ia kemudian kembali dengan segelas air yang diseruput sedikit. Cowok itu mengangkat piring dan mengajak Hasuna makan bersama dengan ponsel menyala kegiatan mereka.
"Lucu banget nggak sih, dinnernya virtual gini.." celetuk Hasuna.
"Nggak papa, mending ada temen makan. Soalnya kalau sendiri suka nggak enak yah suasana, hahaha," kata Argata.
"Ya iyalah, tapi kita nggak balapan kan ini?"
"Balapan apa?" Argata membeo.
"Balapan makan!" tawa Hasuna pecah.
Betapa senangnya hati, melihat gadis cantik itu selalu tertawa saat bersamanya. Pun, Hasuna sudah menepis jauh-jauh bayangan Fadly dari kepalanya.