[Assalammualaikum Rayisa ...]
kirim.
Centang satu.
Centang dua.
Nunggu balesan.
Lima menit ...
Sepuluh Menit ...
Lima belas menit ...
Kok nggak dibales ya?
Nulis lagi.
[Rayisa, apa kabar?]
Kirim.
Centang satu.
Centang dua.
Lama ....
Centangnya nggak berubah jadi biru juga.
Baru kali ini ngirim pesan ke cewek tapi nggak ada respon, biasanya cewek-cewek langsung gercep kalo di chat.
Dan baru kali ini nunggu balesan chat begitu terasa mendebarkan, pengennya kalau deket langsung aku samperin dan tanya kenapa pesenku nggak dibaca.
Aku menjambak rambut yang sudah mulai panjang, belum sempat kucukur. Menariknya kebelakang kepala dan menguncinya dengan telapak tangan yang saling bertautan di tengkuk.
Aku nggak bisa terus nunggu begini, tapi kalau mau telpon ... Rasanya malu memulai pembicaraan.
"Ah, aku ke tempat kost Wahyu aja deh. suruh dia tanya kenapa Rayisa nggak bales pesanku" aku bergumam tanpa ada yang mendengar karena memang sedang sendiri di kamar.
Setengah berlari menuruni anak tangga yang tersusun setengah melingkar, mata Mama membulat melihat yang kulakukan.
"Aldo, kayak anak kecil aja lari-lari di tangga! kamu mau kemana buru-buru gitu?"
Tanya Mama melihatku menenteng jaket dan mengambil kunci mobil di atas meja.
"Ke tempat Wahyu, Mah."
"Udah sore, Aldo."
Protes wanita tercantik sedunia ini, eh sekarang udah ada Rayisa jadi saingannya.
"Ih, Mama. Aldo 'kan udah gede."
Aku bergelayut di pundaknya.
"Segede apapun kamu, kamu tetep bayi imut-imutnya Mama, sayang."
Mama malah menjewer telingaku seperti anak kecil.
"Aduh, sakit Mah."
"Katanya udah gede, dijewer gitu aja sakit. Nggak malu ama pacar?"
Ledek Mama.
Aku hanya nyengir kuda, pacar? Pacar yang mana, kalo selama ini semua cewek yang mendekat aku tolak. nggak ada yang cocok dihati.
"Ya udah, Aldo berangkat ya, Mah." pamitku setelah mencium tangannya.
"Pulangnya jangan malem-malem."
pesan Mama setengah berteriak setelah aku keluar dari pintu depan.
+++
Ting ... sebuah pesan masuk. Namun aku belum berniat membukanya, aku sedang fokus mendengarkan obrolan Ibu-Ibu tetangga di kampung halaman Ibu ini. Berharap dari obrolan mereka ada sebuah fakta yang terkuak.
"Ayo Mbak, kita pulang." suara Dinda mengejutkanku.
"Eh, udah beli jajannya?"
"Udah, nih."
Jawabnya sambil menunjukkan dua buah plastik berisi makanan ringan.
Sepanjang perjalanan pulang perbicaraan mereka tetap terngiang-ngiang di telingaku, memupuk rasa penasaran yang sejak dulu kusimpan menjadi semakin membuncah.
Aku harus tanya apa yang sebenarnya terjadi, kalau Ibu tidak mau bercerita pasti Simbah atau Bulek Ani pasti mau memberitahuku.
Berceloteh kesana kemari gadis periang di sebelahku ini mengisahkan hari-harinya, tapi semuanya bagai angin lalu karena fikiranku sedang melayang-layang entah kemana.
Ting ... lagi, sebuah pesan diterima tapi tetap tidak berhasrat membacanya, padahal beberapa hari ini layar gawailah yang selalu menarik perhatianku mengharapkan sebuah chat dari dia yang jauh disana.
Saat ini hanya sebuah cerita tentang masa lalu yang ingin kudengar.
Sampai di teras rumah ada hal yang menyedot perhatian kami, rumah ramai oleh beberapa tetangga yang berkumpul, aku dan Dinda saling berpandangan berusaha mencari jawab yang sama-sama tidak kami ketahui.
Hanya langkah yang kami percepat guna melihat ada apa sebenarnya.
"Assalammualaikum ...."
Salamku dan Dinda bersama.
"Walaikum salam ..." semuanya serampak menjawab salam kami.
Langkah kami tertuju ke kamar Simbah dimana terdengar suara isakan.
"Innalilahi wa inailaihirojiun, Simbah kalian udah nggak ada nduk."
Om Mardi, berkata lirih saat berpapasan dengan kami di depan kamar Simbah.
Kami langsung berhambur kedalam bersama Ibu dan Bulek Ani yang sedang berpelukan di samping jenazah Simbah.
+++
Karena hari sudah menjelang maghrib, pemakaman Simbah akan dilaksanakan besok pagi.
Setelah selesai sholat di kamar aku duduk di ruang tamu dimana jenazah Simbah disemayamkan bersama Ibu dan para tetangga yang datang bertakziah aku melantunkan ayat-ayat suci alquran.
Terasa gawaiku bergetar, panggilan vidio dari Mas Wahyu.
Aku pamit pada Ibu untuk menjawab panggilan di kamar, Ibu mengangguk setuju.
"Assalammualaikum, Mas."
Salamku setelah menggeser gambar telpon berwarna hijau di layar.
"Waalaikum salam ..."
Jawab yang di seberang dengan senyum tengil khasnya, tetapi seketika senyum itu berganti raut kecemasan.
"Rayisa, kamu nangis? kenapa?"
Suara Mas Wahyu terdengar sebelum gambar di gawai bergoyang sejenak mungkin Mas Wahyu mengganti posisi, eh tapi tidak. Ada seseorang yang dengan cepat mendekat hingga gawai Mas Wahyu terguncang.
"Rayisa nangis? kenapa?"
Dia langsung menyambar, hingga kini tampilan layar tidak karuan sepertinya sedang menjadi rebutan dua orang dewasa yang kadang kekanak-kanakan itu.
"Sini biar aku aja yang pegang!"
Seru Mas Aldo.
"Ih, nyamber aja sih kayak geledek! di suruh telpon sendiri nggak mau!"
Omel Mas Wahyu.
"Sstthhh ... jangan kenceng-kenceng ntar Rayisa denger."
Bisik Mas Aldo tapi masih bisa kudengar.
"Sebenernya jadi mau vidio call nggak sih? aku matiin nih!"
Tanyaku kesal.
"Eh, jangan di matiin dulu ntar ada yang sedih."
Jawab Mas Wahyu sambil menyikut lengan Mas Aldo, lalu dibalas hingga kini mereka sikut-sikutan. Aku hanya menggeleng melihat tingkah konyol mereka, tingkah yang selalu aku rindukan.
"Rayisa, kamu nangis kenapa? jangan bilang kangen sama Aldo ya!"
Tanya Mas Wahyu lagi.
"Rayisa sekarang ada di Jember Mas. Simbah meninggal."
Terangku.
"Innalillahi ..." jawab mereka kompak.
"Rayisa, kamu sabar ya. Mas turut berduka."
Kata Mas Aldo lalu tersenyum, akhirnya aku bisa melihat lagi senyum yang selalu mampu membuat aku malu. tapi rindu.
"Iya, Mas. makasih."
"Rayisa, salam buat Bulek Rahayu ya. bilangin Mas turut berbela sungkawa."
Kini Mas Wahyu yang bicara.
"Iya, Mas."
"iya Ray, aku juga nitip salam buat Ibu ya ..." kata Mas Aldo yang langsung disela Mas Wahyu, "Alah, Ibu! sok akrab banget! ngarep banget kamu ya jadi mantunya Bulekku!"
Hingga melayanglah sebuah bantal ke wajah Mas Wahyu.
Dan aku salah tingkah karena ucapan Mas Wahyu itu, sedangkan Mas Aldo tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya, melirik kelayar yang sedang membuatku terpaku.
"Mas, udah ya. Rayisa mau yasinan dulu."
"Iya, Ray. nanti telponan lagi ya."
Jawab Mas Aldo, agak ragu.
"Alah jangan mau Ray, nanti kamu digombalin. dia 'Kan hobinya ngegombal, anak kambing aja digombalin!
Pekik Mas Wahyu sambil cengengesan.
"Assalammualaikum ...."
"Waalaikum salam ...."
Senyum dan suara menyejukkan Mas Aldo sebelum panggilan diakhiri.