Bab 9

951 Kata
Sampai di tujuan setelah kurang lebih 25 menit menyusuri jalanan ibu kota, aku parkirkan mobilku di depan sebuah rumah kost khusus pria. Melihat orang yang kucari sedang tebar pesona dengan beberapa tetangga kostnya senyumku terpancing setelah keluar dari kursi kemudi. Tempat kost Wahyu memang khusus pria tapi berseberangan dengan tempat kost khusus wanita, hingga setiap ada waktu senggang pada sore atau pagi hari para penghuninya bebas bertemu, ngobrol-ngobrol santai di teras atau kursi panjang yang terletak di pinggir jalan. "Hay ... bro!" Sapa Wahyu sambil melambaikan tangannya memintaku mendekat. Melihatku melangkah mendekat beberapa gadis yang sedang berbincang dengannya tersenyum-senyum salah tingkah ada dua gadis yang saling berbisik lalu melirik kearahku sambil tersenyum, beberapa dari mereka sudah kukenal karena memang sering berkunjung ke tempat kost Wahyu ini. Ada beberapa pemuda juga di sana, setelah menyalami mereka, aku mengajak Wahyu ke kamarnya untuk memberitahunya maksudku datang kesini. "Yu, ke kamar 'yuk. ada yang mau gue omongin." "Eh, Bang Aldo disini aja ngobrol sama kita." Celetuk gadis mungil yang kutahu bernama Lisa. "Tau nih Bang Aldo, sukanya berdua-duaan aja di kamar." Rika menimpali sambil terkekeh. "Sorry ya semua, gue ada urusan penting dulu sama si Wahyu. nongkrongnya kapan-kapan lagi." Jawabku berlalu masuk, di belakang Wahyu mengekor dengan malas. "Ada apa sih Do? gangguin aja orang lagi PDKT!" Wahyu menggerutu. "Hah PDKT mulu! ama siapa lagi sekarang?" "Ya sama Lisa, Rika atau Susan. siapa ajalah yang mau sama gue." "Ah elu PDKT mulu dari dulu tapi nggak pernah jadian." Ledekku tertawa geli, yang hanya direspon tawa sumbangnya. "Udah. ini udah di kamar 'kan! Mau ngomong apa?" Dia bertanya dengan nada serius setelah duduk di sebuah kursi, sedang aku duduk di sudut  ranjangnya yang selalu berantakan. "gue WA Rayisa dari tadi nggak di respon bro! lu telpon dia gih ... tanyain kenapa nggak bales pesen gue." Tiba-tiba matanya melotot sambil ngomel persis emak-emak. "What? elu kesini cuma mau bilang itu doang? kenapa nggak telpon aja sih bray?" "Malu gue, tiba-tiba telpon Rayisa ...." "Hah ... sejak kapan Aldo diyaksa malu ama cewek?" "Ya ... nggak tau gue." Adzan maghrib berkumandang menyela pembicaraan kami. "Udah adzan, gue mau ke masjid dulu. lu mau ikut kagak?" Tanya Wahyu sambil mengambil sarung dan pecinya. "Ya, iyalah. tapi ntar abis dari masjid lu telponin Rayisa ya!" "Iya, Iya!" Jawabnya sewot melangkah cepat menuju masjid yang tidak jauh dari sini. . Aku melajukan mobil pelan menuju rumah setelah menurunkan Wahyu kembali ke tempat kostnya setelah makan nasi goreng di tempat langganan kami, taktiranku sebagai imbalan setelah mau membantuku menghubungi Rayisa tadi. Aku tersenyum sendiri seperti orang kurang waras, mengingat senyum manisnya sebelum mengakhiri panggilan vidio tadi, pembicaraan singkat kami tadi selalu berputar-putar diingatanku anehnya sekarang ada bunga-bunga yang berterbangan kesana kemari. Wajah Rayisa tetap terlihat ayu walaupun dibanjiri airmata, aku jadi sedih melihat dia yang tengah berduka. Tapi perasaanku jadi lega karena tau dia baik-baik saja, hanya saja sekarang senyumnya selalu menghantui mengganggu konsentrasi. Untung aku bisa selamat sampai di rumah, kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri, sudah jam sembilan malam. "Assalammuaikum ...." Salamku sebelum masuk rumah, terlihat keluargaku sedang berkumpul diruang tengah, Papa duduk santai bersandar di sofa sedangkan adikku Marisa berbaring dipangkuan Mama. "Waalaikum salam ...." "Eh, anak Mama udah pulang. udah makan, ganteng?" Tanya Mama begitu aku duduk di samping Papa setelah mencium tangan Mama dan Papa. "Udah, Mah. tadi makan nasi goreng sama Wahyu." "Lagi pada ngobrolin apa sih, kayaknya serius banget." "Ini ... Adik kamu katanya mau buka wedding bridal." Jawab Papa. Marisa menganggukkan kepalanya saat aku melihat kearahnya. "Emang kamu nggak mau kuliah dek?" "Ya kuliah, Bang. tapi apa salahnya sih kalau aku mau buka usaha. Ngejalanin usaha sambil kuliah 'kan bisa." Jawab Marisa menyakinkan. "Yah kalau kamu yakin bisa, dan nggak akan ganggu pendidikan kamu. Papa sama Mama sih setuju aja." Kata Mama yang disetujui Papa. Tiba-tiba aku jadi teringat sesuatu. "Dek, kebetulan Abang ada kenalan sekarang masih sekolah di SMK tata rias. nanti jadiin dia MUA di wedding bridal kamu ya." Pintaku pada Marisa dengan bersemangat. Marisa langsung bangkit dari pangkuan Mama memandangku dengan dahi berkerut, hal yang sama juga dilakukan Mama dan Papa. "Siapa?" Selidiknya. "Hhmm... itu. dia sepupunya Wahyu." Jawabku kikuk. "Oh, boleh. nanti aku kabarin lagi." Jawab Marisa, tiba-tiba ada rasa gembira yang membuncah di d**a. "Yes! akhirnya ada alasan buat nelpon Rayisa lagi." Aku bergumam lirih. "Do ... Aldo! Kamu kenapa senyum-senyum kayak orang kesambet gitu!" Suara Mama mengejutkan rupanya aku melamun tadi. "Alah, paling kesambet cinta!" Marisa menimpali sambil tertawa, lalu disambut tawa Mama dan Papa. Jadi malu. +++ Setelah tiga hari kepergian Simbah, kami meninggalkan kampung halaman Ibu. Entah kapan lagi dapat kupijakkan kaki di dusun yang asri ini, kini aku melangkah pergi meninggalkan kenangan bersama Simbah yang hanya sekejap mata, tetapi meninggalkan sebuah tanya yang entah kapan akan bertemu jawabnya. Sepanjang jalanan aku dan Ibu banyak diam, larut dalam fikiran masing-masing. Mungkin Ibu masih sangat berduka dengan kepergian Simbah hingga berulang kali aku mendapatinya menghapus air yang mengalir di sudut netranya. Akupun merasakan hal yang sama, meskipun kami jarang bersama tapi Simbah tetaplah orang yang mencurahkan kasih sayangnya padaku. Walaupun rasa penasaran selalu berhasil menerusup memasuki cela-cela dinding hati yang tengah berduka tapi aku sadar ini bukan waktu yang tepat menuntut sebuah cerita. . Siang hampir terganti senja saat kami tiba di rumah, sesederhana apapun rumah sendiri adalah tempat terbaik. Sedikit melepas lelah kubaringkan tubuh di sofa ruang tamu, merogoh telepon genggam di dalam tas yang sepanjang perjalanan tadi tidak terjamah. Lima panggilan tidak terjawab, laporan yang diberikan smartphone ini.  "Mas Aldo? tumben telepon, ada apa ya?" Sedikit ragu saat akan kulakukan panggilan balik sampai terdengar panggilan Ibu. "Nduk ... mandi dulu, udah mau maghrib." "Iya, Bu." Kuletakkan gawai di atas meja, mungkin nanti aku akan menelponnya selepas maghrib.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN