"Eh genduk Rayisa, kapan pulang?" Sapa Mak Mirah bakul lotek---penjual pecel keliling---saat bertemu denganku yang berjalan kaki menuju rumah. Aku menaiki angkutan umum dari terminal, dan berjalan menuju rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari jalan raya. "Baru aja sampe, Mak. Aku mau loteknya dua bungkus ya, Mak. Sama bakwannya sekalian." Aku memesan makanan tradisional itu untuk menghilangkan pusing dikepala setelah hampir tujuh jam menaiki bis besar. "Nggeh, nduk. Tunggu bentar tak bungkusin." Jawabnya yang cekatan membungkus pesananku dengan daun pisang. Sambil menunggu, aku memperhatikan anak-anak kecil yang sedang bermain bola bekel di halaman seorang tetanggaku. Aku jadi teringat masa kecil dulu. "Ini, nduk." Mak Mirah menyodorkan dua bungkus lotek dan sebungku

