Menelan rasa getir dan pahitnya dimadu sudah menjadi pilihanku, aku yang memilih untuk bertahan hingga menguatkan diri selalu berusaha kulakukan. Hingga hampir dua tahun terlalui, aku hanya bisa pasrah saat jatah waktu untuk kami tidak sebanyak untuk keluarganya disana. Mas Indra sangat mengidamkan seorang putri, seluruh perhatian ia curahkan saat aku bisa mewujudkannya. Tapi setelah Lina juga memberikannya seorang putri, segalanya kembali terbagi. Dan tetap saja aku yang tersisih Mas Indra memang tidak pernah kekurangan memberiku nafkah lahir tapi untuk nafkah batin kami, selalu saja ada alasan. Sampai-sampai Rayisa kecil lebih dekat pada Mas Hardi yang masih setia bekerja sebagai sopir pribadiku. Setiap Mas Indra hendak berangkat kerja ataupun pulang kerumah Lina, Rayisa pasti

