Hatiku sudah terasa lebih kuat, mataku juga sudah tidak secengeng saat Mas Indra meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Aku sudah lebih legowo menerima takdirku. Menjadi yang kedua memang bukan pilihanku tapi inilah kenyataannya, aku menganggap ini jalan yang sudah Tuhan berikan untukku maka tabah menjalani adalah pilihan satu-satunya. Aku tidak berharap jalan yang aku lalui tidak akan menyakiti orang lain, itu tidak mungkin. Aku sadar sepenuh jiwa dan raga bahwa keberadaanku pasti akan menjadi luka dan sumber derita bagi orang lain. Tapi ada hati yang juga akan terluka bila aku memilih mundur, hati suamiku. Aku bisa merasakan cinta yang tulus dan begitu besar untukku, walaupun cintanya adalah sebuah kesalahan. Banyak yang harus kukorbankan demi kebahagiaan yang sepenuhnya tidak per

