CHAPTER TWO

1630 Kata
Alcas selalu berlari pagi sejauh puluhan kilometer. Dulu saat di rumahnya sendiri, dia akan berlari di sepanjang trotoar jalan. Akan tetapi, kini dia hanya menyusuri hutan belantara ini. Setelah berlarian selama sejam, dia berhenti di tepi tebing air terjun, dekat kastil seram itu. Ia melepaskan sepatu, kaos serta celana, menyisakan boxer beruang saja, kemudian melompat indah ke sungai bawah. Tinggi tebing tak sebanding dengan dangkalnya air sungai. Akibatnya, dia jatuh terlalu keras hingga membentur batuan dasar sungai. Tengkorak retak, kulit dahi robek parah, darah merembes keluar, sampai-sampai saat dia muncul ke permukaan air- kepalanya seperti permen bola yang tercelup sirup merah. “Ah, segar.” Ia tersenyum sembari membasuh luka kepalanya yang perlahan menutup. Ia mendaki ke tepian sungai, berlindung di bawah sebuah pohon. Kulitnya mulai terbakar karena efek tabir surya menipis. Bagaimana pun dia vampire, terlalu lama terpapar sinar matahari menyakitinya. Dia merangkak naik ke puncak tebing dengan berpegang pada akar-akar pohon yang menyeruak. Tidak ada kesulitan, dia melakukannya hanya dalam beberapa detik, padahal medan curam sekali. Sesampainya di atas, dia memakai lagi pakaian, lalu mengoleskan tabir surya. Sambil mengikat tali sepatu, dia bertanya lantang, “Siapa kau? Sampai kapan mengawasiku?” Dari awal dia sudah tahu kalau diawasi di balik pepohonan oleh seorang manusia. Manusia itu— muncul dari salah satu pohon, pria dua puluh tahunan bertubuh gemuk tersembunyi dalam jaket merah menyala, dengan tulisan cetak berbunyi: GIGIT AKU, MASTER “Master Alcander ingin anda segera pulang,” katanya dengan sopan sembari mendekat ke arah Alcas. Sikapnya memang sudah seperti pelayan pribadi. Alcas mengerutkan dahi. “Master? Siapa kau ini?” “Perkenalkan, nama saya Phillipe, saya adalah b***k kakek buyut anda.” “b***k?” Phillipe mengangguk bangga. “Iya, saya adalah b***k klan Allaband, vampire tertua di kota ini, artinya saya juga b***k anda, Tuan Muda Alcassius, boleh saya panggil begitu?” “Tidak.” Alcas merinding. Dia sudah tahu kalau manusia yang ada di depannya ini hanya golongan fanatik vampire. “Bisakah kau pulang dan pura-pura kita tidak kenal?” “Saya tak percaya ada vampire yang bisa bertahan di bawah sinar matahari.” “Apa kau tidak tahu fungsinya tabir surya?” “Tapi tetap saja, anda pasti vampire agung yang terpilih!” Mata Phillipe telah terselimut kabut kebahagiaan. Dia tak menyangka akhirnya bisa bertemu dengan vampire yang kebal panas mentari. Selain kecoa, pria fanatik vampire yang kurang pergaulan adalah makhluk hidup yang Alcas ingin jauhi. “Sebaiknya kau sering-sering keluar rumah, Sobat.” Phillipe melonggarkan kerah kemejanya, lalu menunjukan kulit lehernya yang menggelambit dan penuh dengan daki. “Anda pasti haus, hisap darah saya, Tuan Muda, gigit saya dan jadikan saya abadi tanpa harus memikirkan biaya hidup.” “Vampire itu tidak abadi, kau lihat sendiri kakek buyutku yang sudah seperti ranting itu, mereka didorong saja pasti sudah hancur seperti mainan lego.” “Tetap saja, hidup lama hanya bermodal darah, itu irit sekali, aku juga pasti jadi tampan nantinya.” Phillipe mulai membayangkan dirinya bertransformasi menjadi sosok ideal para wanita. “Tanpa perlu operasi plastik.” Ia mengguncang perutnya sendiri. “Dan tanpa harus sedot lemak.” “Dengar, Phil, pertama … aku tidak akan sudi menancapkan mulut di leher orang,” kata Alcas mual melihat leher menggelambir penuh daki itu, “kedua … jangan mengikutiku dan memanggilku Tuan Muda.” “Saya mohon, hisap darah saya, dan buatlah saya bisa memiliki kekuatan super!” “Kau pikir vampire itu apa? Mutan?” “Master bilang vampire bisa menerawang masa depan juga.” “Lupakan hal omong kosong itu, jadi vampire itu tidak seenak yang kau pikirkan, hanya bisa minum darah, padahal aku ingin makan burger atau minum soda! Kenapa aku terjebak meminum darah seumur hidup, hah? Bisa kau bayangkan hidup lama dengan rutinitas minum secangkir darah tiap pagi?” Alcas malah kesal sendiri. Phillipe mendadak diam karena omelan Alcas yang terdengar masuk akal. Tadinya dia ingin menyanggah ucapan itu, tapi urung karena dipelototi. “Kalau begitu pulanglah, Tuan Muda,” katanya kemudian. Alcas mengingatkan, “Alcas! Panggil saja aku Alcas!” “Tapi Tuan Muda, vampire adalah makhluk agung yang harus kami, para manusia, layani.” Alcas kehabisan kata-kata. “Ah.” “Sebaiknya pulanglah, Master Alcander menanti kehadiran anda, jangan terlalu banyak berada di luar, kulit anda akan terbakar.” “Oke, oke, aku kembali pulang, jaga jarak dariku,” pinta Alcas menghindar dari tempat Phillipe berdiri, dia takut sekali melihat pria aneh itu seperti ingin merangkulnya. Mereka berjalan beriringan, tapi dengan jarak jauh. Phillipe masih mencuri pandang ke padanya, tapi Alcas terus membuang muka. “Tuan Muda, kalau anda tak tahan dengan bau darah saya, silakan hisap saja, saya yakin pasti baunya manis, bukan?” rayu Phillipe tersenyum mendongakkan kepala agar lehernya terlihat jelas. Alcas merinding, lalu berlari mendahuluinya. “Menjauhlah dariku!” Phillipe mengejar dengan langkah secepat yang ia bisa, iya bagaikan siput berjalan. Perutnya yang menggelembung membuat larinya terganggu. Dia berhenti setiap beberapa langkah, menarik napas panjang, lalu berlari lagi. “Tuan, hisaplah darah saya!” teriaknya di sepanjang jalan. Perbudakan di jaman dahulu mungkin bisa dipahami oleh Alcas. Akan tetapi ini adalah era modern, dimana istilah b***k diganti menjadi pekerja. Mengapa pria aneh ini malah mengaku sebagai b***k klan Allaband? Keluarga Alcas menempati rumah yang ada di kota besar, hidup mereka lebih modern. Walau demikian, tradisi menghisap darah segar tetap terjadi setiap minggu. Namun setidaknya mereka tak memiliki orang aneh sebagai b***k. Ia mendatangi ruang makan tengah kastil, tepat di kegelapan dimana tak ada celah di dinding yang bisa dirambati sinar mentari. Seluruh jendela tertutup rapat, serambi hitam tebal juga menyelimutinya. Pencahayaan berasal dari lilin-lilin di dinding dan lampu gantung. Akibatnya, Alcas hampir terjatuh karena tak bisa melihat dudukan kursinya. “Jadi, siapa orang itu? Cadangan makanan kalian?” tanya Alcas menuding ke Phillipe yang ada di seberang meja bundar ini. Alcander menjawab, “dia b***k kami. Jangan kaget, setiap pagi dia akan datang kemari untuk mengurus manor kita ini.” Dia duduk di salah satu kursi. Penampilannya masih sama, berjubah hitam. Vampire tua ini seolah lenyap di ruangan gelap gulita begini, hanya menyisakan wajah pucat dan mata merah saja. Phillipe memandangi mereka berdua bergantian. Penuh kagum, kalau saja diperbolehkan, dia ingin mengabadikan momen ini di telepon selulernya. Vampire, ada vampire di depan mataku, kira-kira sorot matanya mengatakan hal demikian. Fanatik asli, sudah tergambar jelas disana. “Oke.” Alcas tak mau tahu juga. Alcander juga menjelaskan, “jadi kami sengaja tidak menghisap darahnya karena dia orang penting disini. Dia ini guru yang memasok stok mangsa kami bertiga.” “Guru?” ulang Alcas memperhatikan penampilan Phillipe yang memang kelihatan rapi. “Guru apa? Ilmu pengetahuan Voodoo?” Phillipe meralat, “olah raga.” “Olah raga?” Alcas tak percaya ada sekolah yang memperkerjakan pria yang berlari saja kesusahan sebagai guru olah raga. “Ya, di Corn High School, sekolah swasta menengah atas dekat sini, rumah saya juga dekat sini, Tuan Muda Alcas.” “Memasok itu maksudnya apa?” “Maksudnya dia yang menyerahkan gadis-gadis perawan tiap bulan untuk kami,” sahut Alcander menyunggingkan senyuman lebar sampai terlihat gigi taringnya. “Seharusnya aku menghubungi 911 sekarang.” Alcas jijik dengan ekspresi haus darah sang kakek buyut. “Kalian membantai gadis remaja?” “Itu yang dilakukan Vampire, Nak. Pelajaran kedua dari kakek ini, hisaplah darah gadis perawan, karena rasanya manis seperti lelehan buah ceri. Sebenarnya kau tidak usah khawatir, kebanyakan para gadis ini juga ingin jadi vampire, jadi taka da pembantaian.” “Ya ampun, Kek, ini era modern, sebenarnya apa bedanya rasa darah itu? Tidak ada, sungguh, sama saja, kecuali kalau dia penyakitan.” “Kau banyak protes, lakukan saja tradisi vampire, leluhur kita sukanya darah gadis perawan, ya sudah, kita lanjutkan. Kenapa kau ini membangkang sekali?” “Satu hal lagi, kalau butuh darah, tinggal beli saja di palang merah.” “Kita vampire, Alcas, kita menghisap darah segar langsung dari leher manusia, bukan dari kantong plastik darah pendonor.” “Wah, kau tahu itu masalah donor ternyata.” Phillipe mengangkat tangan. “Saya pernah membawakannya, tapi dibuang.” “Tidak! Kita tidak bisa meminum darah yang dikeluarkan dengan sukarela seperti itu! Kita predator malam bukan hewan peliharaan! Kita memakan mereka, bukan diberi makan.” “Ah, sudahlah, intinya apa pembicaraan ini, Kek?” “Nanti malam, kau akan ikut kami ritual memimum darah dari manusia langsung dan b***k kita, Phillipe akan membawakan manusianya.” “Untuk apa?” “Untuk mengajarimu, cara menjadi vampire yang baik dan benar.” “Memangnya aku kurang vampire bagaimana? Aku minum darah.” “Yang direbus.” “Intinya tetap darah.” “Pasti kau juga tidak tidur di peti.” “Aku tidak bisa bergerak saat tidur di dalam kotak persegi panjang itu. Kalau ada ranjang yang empuk, kenapa harus memasukkan diri ke dalam peti? Kenapa kalian menyusahkan diri kalau ada yang lebih mudah?” “Orangtuamu tidur di peti!” “Ya, selera pribadi saja, aku ini banyak tingkah kalau tidur.” “Mulai besok kau tidur di peti, dan kau hanya minum darah segar!” “Tidak. Pandanganmu kuno sekali, Kek.” “Kau bahkan terlihat seperti gelandangan manusia di mata kami. Kau sama sekali tidak elegan, vampire itu rupawan dan elegan, tapi kau … kau tidak pakai jubah, tidak punya taring, mata tidak merah! Kau ini apa?” “Kek, cobalah berjalan di pinggir jalan dengan kostummu ini, dan mengerang-erang sambil memamerkan gigimu, percayalah, kau akan diangkut petugas kejiwaan.” Alcas segera berdiri dan buru-buru pergi. Selepas memperhatikan vampire muda itu pergi, Phillipe mendekati Alcander. “Kapan saya akan digigit, Master?” Alcander berpikir sejenak, lalu menjawab asal, “coba tanya lagi kalau kau ulang tahun.” Dia lantas pergi keluar seraya berpesan, “Oh iya, jangan lupa sirami bunga di makam-makam belakang.” Phillipe mengangguk. “Baik, Tuanku.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN