CHAPTER ONE
Di kedalaman hutan belantara yang lebat, basah dan gelap bernama Redwood ini, tersembunyilah sebuah bangunan kuno berlangit-langit runcing. Untuk bisa menempuh pintu gerbangnya, perlu mendaki ratusan undakan. Orang yang melangkah kesana, pasti akan malas turun kembali.
Bangunan bernuansa abad pertengahan itu terhias oleh jendela-jendela tinggi dengan kelambu hitam yang berkibar tertiup angin, pintu ganda yang kokoh berukiran seni tinggi, serta satu lampu menggantung di teras. Tempat ini dikenal sebagai Manor Allaband, klan vampire tertua di Texas.
Di halaman samping kanan dan kiri penuh puluhan batu nisan misterius. Setiap nisan ditemani oleh satu pohon tanpa daun. Iya, hanya pohon beranting kering, tidak ada daun sama sekali seolah ini adalah musim gugur.
Intinya bagi Alcassius, ini pemandangan yang membosankan dan buruk. Dia tak percaya harus menggeret koper jauh-jauh melintasi kota hanya demi terjebak di bangunan tua yang berbau tanah bercampur lumut kering.
Sambil menggerutu dalam hati, dia mengetuk pintu. Ketukannya makin keras saat tidak ada orang yang merespon. Dia terus mengetuk, tapi tak direspon juga. Jengkel, dia pun membuka pintu itu, lalu melangkah masuk.
“Hello, kakek buyut? Nenek buyut?” panggilnya merasakan udara begitu dingin di dalam.
Ruang depan sangat kotor. Lantainya berdebu tebal, seluruh sudut tembok dipenuhi sarang laba-laba. Tak ada lilin atau penerangan lain, selain cahaya rembulan.
Belum sempat Alcassius melangkah lagi, secara mengejutkan kedua pundaknya di cengkram oleh tangan renta.
“Arrgh~” suara erangan di belakang telinganya.
Ketika ia menoleh, sosok pria tua keriput memperlihatkan gigi taringnya yang berkilauan di bawah cahaya lampu teras. Sebagaimana seorang vampire, sepasang matanya berpupil merah menyala. Tak lupa kostum kemeja putih dengan dasi kupu-kupu merah dan jubah hitam membalut tubuhnya.
“Kakek sedang apa? Kenapa mengerang? Sakit?” tanya Alcassius bertampang datar. Dia tidak terkejut dan tidak takut sama sekali.
Pria tua itu mendorong tubuh Alcassius masuk ke dalam. Lalu berteriak dengan suara parau, “Cucu buyutku sudah datang!”
Deretan lilin di tembok menyala satu per satu, membuat suasana ruangan kotor ini terang benderang, sehingga tampaklah seorang pria dan wanita tua berjubah hitam. Mereka kompak memamerkan gigi taring mereka dengan tangan seakan ingin mencakar sesuatu— sangat kuno.
“Cucu buyut! Untunglah kau datang sebelum matahari terbit!” kata si wanita yang memakai pakaian serba hitam dengan pinggang ketat. Padahal tubuhnya sudah tua, tapi pemilihan kostumnya seperti tengah pesta. Meskipun rambutnya telah dipenuhi uban layaknya penyihir, tapi postur tubuhnya masih tegap.
“Cucu buyutku ternyata tampan seperti masa mudaku! Walau aku lebih tampan.” kata si pria, vampire tua berambut keriting putih. Suaranya lebih renta dari siapapun. Tubuhnya bungkuk dengan kulit luar biasa keriput. Saat ia mendekat, terdengar bunyi tulang patah.
“Namaku Alcas, Alcassius. Aku dikirim kemari karena aku harus belajar menjadi vampire sejati dari kalian,” kata Alcassius terdengar malas.
“Bagus! Itu namanya semangat, klan Allaband akan merajai dunia ini dan mengoyak setiap leher yang ada! Selamat datang di kediaman utama klan kita, Alcas,” kata si vampire bungkuk. Dia lantas memperkenalkan dirinya dan dua orang yang bersamanya, “oh iya, mungkin kau belum mengingat kami bertiga, namaku Jacques, aku kakek buyutmu yang paling utama, lalu vampire di sebelahku ini, istriku, nenek buyutmu, Kasdeya, dan orang di belakangmu itu, putraku, kakek buyutmu juga, Alcander. Kau pasti pernah melihat kami bertiga di lukisan keluargamu, bukan?”
“Tidak mirip sama sekali,” kata Alcas tak percaya vampire tua itu berjalan mendekat dengan tubuh begitu kaku, dipaksakan untuk berjalan. “Eh, kau tidak apa-apa, Kek? Seharusnya kau tidur saja di peti. Sungguh, tidak perlu acara penyambutan begini.”
“Tidak apa-apa, cukup minum darah lagi, tulangku akan sekuat pilar rumah ini,” kata Jaques masih melangkah selangkah demi selangkah ke arah Alcas.
“Ah, kau tak perlu minum darah juga sudah sangat kuat, Jacqie.” Vampire wanita tadi tampak berbinar penuh cinta, lalu tanpa sengaja menepuk punggung Jaques hingga dia terjungkal ke lantai dalam posisi tengkurap.
Alcas tersentak kaget.
“Ayahanda?” panggil si kakek tua yang ada di belakangnya. Pria ini melangkah pelan menuju tubuh ayahnya. “Ayahanda tidak apa-apa?
“Tidak apa-apa, jangan perlihatkan pada cucu kita kalau kita tua dan lemah! Jangan— jangan bantu aku berdiri,” ucap Jacques berusaha berdiri sendiri, menolak bantuan Kasdeya dan Alcander. Namun karena tidak kunjung sanggup mengangkat lutut, dia mengulurkan kedua tangannya, “oke, bantu aku berdiri.”
Mereka bertiga saling bahu-membahu untuk sekedar berdiri. Alcas tidak tahu harus mengatakan apa, menyadari betapa rapuhnya mereka semua.
“Aku akan pulang saja—” katanya sambil berbalik, “dan bilang kalian sudah mati.”
Jacques langsung berkata lantang, “jangan! ujianmu baru akan dimulai, Anak muda! Sekarang, sebutkan hal yang membuat kaum vampire mati!”
Alcas menoleh ke arahnya lagi, lalu menjawab asal, “kepalanya dipenggal?”
“Itu— itu sudah pasti, Nak, makhluk manapun juga mati kalau kepalanya dipenggal, maksudku lebih spesifik, jawablah seperti seorang vampire! Ingatlah, kau vampire bukan jangkrik.”
“Perak?”
“Benar! Perak, apalagi?”
“Matahari?”
“Benar, perak dan matahari. Kau tahu kenapa mereka berbahaya?”
Alcas mengeluarkan garpu perak kecil dari saku celananya. Lalu menunjukkan itu pada ketiga vampire renta itu. “Karena ini bisa menusuk lehermu?”
“Perak! Perak! Perak!” Ketiga vampire tua histeris begitu melihat kilauan garpu itu. Mereka berbalik, salah tingkah, berusaha menyembunyikan wajah.
“Jauhkan benda itu!” jerit Kasdeya memejamkam mata.
“Kau tidak tahu kenapa perak dan matahari itu berbahaya? Itu karena mereka berkilauan!” teriak Alcander panik, “sembunyikan benda itu!”
Alcas menyembunyikan garpu itu di balik punggungnya. “Memangnya kenapa kalau berkilauan? Ini ‘kan hanya garpu. Ada apa dengan kalian ini?”
Ketiga vampire tua kompak lega, mereka langsung berseri kembali.
“Tentu saja karena yang berkilau itu berbahaya,” jawab Jacques terdengar asal, seperti tak tahu juga alasannya. “Vampire tidak suka yang berkilauan, Nak.”
“Aneh—” Alcas penasaran. Dia sontak tersenyum jahil saat menunjukkan garpu lagi ke hadapan mereka, dan reaksi mereka tetap histeris. Dia mencobanya beberapa kali, di sembunyikan, lalu ditunjukkan ... di sembunyikan, lalu ditunjukkan.
Jacques tidak tahan lagi. “Hentikan, Cucu Kurang Ajar!”
“Oke, oke,” ucap Alcas menahan tawa saat mengantongi garpu itu ke dalam saku celana. “Lagipula siapa yang bilang vampire takut perak?”
“Perak itu berbahaya! Kita akan mati kalau tombak perak menembus jantung kita!” kata Jacques menenangkan diri. “Itu pelajaran pertama, jangan main-main dengan perak.”
“Siapapun juga mati kalau begitu—” gerutu Alcas merasa pembelajaran itu sama sekali tak penting.
“Kau ini sangat aneh, Nak, penampilanmu saja sudah seperti— gelandangan,” kata Kasdeya mulai memperhatikan pakaian serba modern dari Alcas, jaket hijau terang dipadu dengan jeans, serta kaki terbungkus sepatu sport.
“Gelandangan?” ulang Alcas keberatan dengan perkataan itu. “Aku ini remaja, penampilanku seperti ini— kalian pikir aku akan datang dengan jubah hitam dan dasi kupu-kupu seperti sedang halloween? Orang-orang akan memotretku dan memajangku di media sosial, lalu mengataiku 'orang aneh'.”
“Dan tunggu sebentar, dimana gigi taringmu?” tanya Kasdeya mendekat sembari memicingkan mata ke mulut Alcas. “Tidak ada?”
Berbeda dengan sang suami, fisik wanita ini agak lebih baik. Caranya berjalan lebih cepat. Dengan paksa, dia membuka mulut Alcas, mencari-cari gigi taring yang seharusnya ada pada setiap vampire, tapi tidak ada di mulut cucu buyutnya sendiri. “Mana gigimu? Apa seluruh keluargamu seperti ini?”
Alcander menuntun ayahnya mendekat. Mereka berdua juga penasaran dengan wujud fisik sang cucu yang ternyata lebih buruk dari apa yang keluarganya bilang.
“Ayahmu bilang kalau kau hanya punya gangguan minum yang tidak wajar, tapi sepertinya kau mengalami gejala serius, bahkan matamu juga tidak kemerahan,” kata Alcander membelalakkan mata Alcasius. “Kenapa matamu tidak merah juga!”
“A—aku memwaakai softlens, kwalian tidwak serwius menywuruhku kewluar rumah dengan mata mwerah sepwwerti kwurang twidur, bwukan? (A—aku memakai softlens, kalian tidak serius menyuruhku keluar rumah dengan mata merah seperti kurang tidur, bukan?)” tanya Alcas tak bisa berkata dengan baik karena mulutnya masih dipaksa terbuka.
“Sebaiknya kau cerita, kau apakan gigi taringmu, Cucu Kurang Ajar? Bagaimana bisa kau tidak punya taring? Kau mau mempermalukan Klan Allaband?” tanya Jacques marah-marah dengan suara rentanya, sesekali dia jeda sejenak untuk batuk. “Kita predator malam, bukan katak rawa! Kita harus punya taring karena itu bukti kita sebagai vampire. Kau sebut dirimu vampire?”
Setelah tangan para buyutnya lepas dari mulut dan matanya, Alcas menjawab dengan tegas, “aku mengikisnya setiap minggu, setiap tumbuh lagi aku mengikisnya, bisa syok orang-orang kalau tahu gigiku mirip kucing. Yang benar saja, Kek-Nek.”
“Apa kau bilang!” Jacques menjejak sepatu cucunya itu berkali-kali, tapi tak cukup kuat, sepatunya terlalu tebal. “Bagaimana caramu minum darah kalau tidak ada taring, Dasar Bodoh! Pantas saja ayahmu marah besar!”
Sang anak, Alcander, setuju. “Selama kau disini, kami bertekad akan menjadikanmu vampire sejati! Kau mengerikan, Wahai Cucu buyut kami!”
“Kalian pikir aku mau menghisap darah dari leher seseorang?” Alcas menyingkir dari mereka bertiga, tidak tahan karena bau mereka yang busuk. “Itu tidak sehat, yang benar saja, kalian mau aku menancapkan gigi di leher berdaki orang? Tidak, terima kasih.”
Dia mengibaskan udara di depan hidungnya, lalu menyindir, “ngomong-ngomong, kalian ini tidak tahu produk yang bernama pasta gigi, ya? Kapan terakhir kalian berkumur? Bau kalian wangi sekali seperti toilet.”
Ketiga kakek-nenek buyutnya ini melongo. Mereka tak bisa berkedip selama beberapa saat memandangi Alcas. Vampire remaja ini seperti berandalan manusia yang sering mereka jadikan mangsa.
“Lagipula darah itu harus dimasak dulu, kalian ini kuno sekali, darah itu sumber penyakit,” tambah Alcas melihat keluar jendela, langit sudah cerah— pagi akan datang.
Alcander menyentaknya, “Vampire itu minum darah segar, kenapa kau malah memasaknya? Kau pikir itu telur rebus? Demi Tuan Dracula yang agung, kau tidak termaafkan, Anak Muda.”
“Santai, Kek, itu untuk keamanan saja, aku orangnya waspada. Kita memang bisa hidup lama, tapi kalau sakit perut tiap hari juga— pasti lelah.” Alcas mulai melepaskan jaket, membiarkan tubuhnya hanya memakai kaos hijau polos tipis yang khusus olah raga.
“Kau juga tidak menawan sama sekali, Cucuku,” ucap Kasdeya sedih dengan selera berpakaian Alcas. “Tidak akan ada korban yang akan terkena rayuanmu kalau kau berpenampilan seperti gelandangan.”
“Maaf, Nenek, kurasa kau memang terlalu lama berada di hutan begini, cobalah keluar kota, dunia sudah berubah, ini bukan abad pertengahan.” Alcas mengeluarkan kaca mata hitam dari dalam koper. Setelah itu, dia memakainya. “Dan, ngomong-ngomong, para buyut, sekarang sudah mau pagi, aku mau berolah raga. Kalian tidurlah.”
“Matahari!” Jacques tersadar udara dingin disekitarnya menghangat. Dia buru-buru melangkah ke salah satu pintu ruangan. “Kita harus sembunyi dan tidur!”
Kasdeya histeris, “Ah! Kenapa pagi datang begitu cepat!” Dia berlari mengikuti sang suami. “Sayang, jangan tinggalkan aku— aku tidak mati menjadi debu.”
Alcander ikut berlarian, dan membantu orangtuanya berjalan lebih cepat. “Ayah, Ibu, kita harus cepat— peti kalian yang paling jauh.”
Alcas berbalik badan, memandang keluar pintu rumah, lalu melemaskan otot-otot sendi tubuh. Selepas menghela napas panjang, ia menggerutu, “apa mereka tidak tahu fungsinya tabir surya? Bisa gila aku disini.”
***