Bertengkar dan k*******n

3273 Kata
Setibanya di alamat Mila, Mila langsung terbangun dan kaget karena tertidur di bahu Dev.. Mobil yang terparkir didepan sebuah TK dekat Taman pun berhenti, seiring dengan berhentinya hujan. Mila.. (eummmm, sambil membuka mata pelan namun ekspresinya kaget). Ah, maaf pak. Maafkan saya tidak sengaja. (merasa tidak enak karena tertidur). Mila bersiap siap untuk turun, namun saat melihat ke arah kaca, ternyata Mila melihat suaminya bersama perempuan lain sedang bertengkar, lalu tak lama kemudian mereka berpelukan. Mila yang melihat itu pun, seketika saja terdiam dan air mata nya sudah terkumpul seakan ingin jatuh, namun menahannya. Dev yang melihat Mila terdiam pun mengarahkan pandangannya mengikuti Mila, dan Dev bisa menebak jika Mila pasti terlihat diam karena melihat dua orang yang tak jauh dari mobil mereka terparkir. Mila yang tersadar dari lamunan karena di tepuk bahunya oleh Dev pun, sontak saja kaget dan tiba tiba saja air matanya pun jatuh tepat di tangan Dev.. Mila.. ah..eh.. Maaf pak. Saya turun dulu. Ini jaketnya pak, terima kasih sekali lagi sudah membantu saya dan mengantarkan pulang pak (mengangkat tangannya didepan d**a dan berusaha tersenyum pada Dev) Dev yang memahami situasi ini pun, hanya bisa membalas dengan singkat dan membalas senyuman Mila yang meneduhkan untuknya. Dev.. sama sama (tersenyum pada Mila). Beristirahatlah, kau sedang hamil tidak baik kalau terkena angin malam (memandang Mila) Mila.. ah iya pak. Sekali lagi terima kasih (lalu buru buru untuk turun). Namun tanpa Mila sadari, saat ingin melepas jaket yang dipakainya saat tertidur tadi kalung emas putih milik Mila dengan bandul berhuruf M terjatuh, bahkan Dev pun tidak menyadarinya. Mila pun turun dan sedikit berbungkuk melihat ke arah dalam mobil untuk mengucapkan terima kasih pada Adam juga Lena karena sudah ikut mengantarnya. Mila pun melambaikan tangannya ke mobil yang ada dibelakangnya karena Asisten serta Bodyguard Dev yang lain berada didalamnya, seraya untuk mengatakan Terima kasih. Lalu Mila pun berjalan dengan tergesa gesa ke dalam jalan kecil agar cepat tiba dirumah kontrakannya. Dev yang melihat itu dari dalam mobil pun, hatinya serasa ikut teremas. Hati Dev seperti merasa sakit, melihat air mata Mila. Entah apa yang ia rasakan, Dev merasa ingin sekali melindungi Mila dan membuat Mila tertawa saja seperti yang ia lihat di halte sebelumnya saat bermain hujan. Dev.. Adam.. apa kau sudah melakukan apa yang ku tugaskan? sudah kau selidiki soal Nona Mila? (bertanya dengan tatapan serius ke arah kaca depan) Adam.. sudah Tuan. Semua File nya sudah saya kirimkan ke email Tuan. Tuan bisa membacanya saat kita tiba dirumah Tuan (Adam pun menjawab sambil melihat ke arah kaca depannya) Dev.. Baiklah. Kita pulang ke apartemen saja, kalau kerumah kakek pasti besoknya akan macet jika ke kantor. Apartemen saja. Kalian berenam tinggalah di apartemen. Aku tidak mau sendirian di apartemen sebesar itu (Lalu meminta Adam untuk menjalankan mobil dan kembali ke apartemen) Adam dan Lena.. baik Tuan (secara bersamaan). Namun, Lena mencoba membuka suara. Lena.. Tuan.. maafkan atas kelancangan saya. Apa Tuan merasa kasihan pada Nona Mila? Maafkan saya Tuan, tapi Tuan tidak pernah meminta hal seperti ini selain berurusan dengan pekerjaan. Bahkan saat dengan Nona Stella dulu, Tuan terlihat seperti sekarang. Maafkan saya Tuan. Dev.. (menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil sambil memegang jaket yang ia pakaikan untuk Mila tadi). Aku juga tidak tahu Lena, jika bisa jujur aku tidak ingin melihat Mila bersedih. Apalagi saat tadi, dia tiba tiba menangis dan air matanya jatuh di tanganku. Dadaku terasa sesak, seperti ada batu besar yang menindihku dari atas. Aku merasa ingin melindunginya dan memeluknya kalau melihat dia seperti itu (lalu memijit hidung dan pelipisnya karena terlihat seperti bimbang) Adam dan Lena yang mendengarkan penuturan Boss nya pun saling memandang dan mengangkat bahu mereka. Jelas saja mereka heran pada Boss nya, karena Dev terkenal dingin, cuek, pendiam dan tidak pernah tertarik pada urusan lain. Jika emosi pun, Boss mereka itu hanya akan diam dan senyum sedikit saja, tapi tidak pernah melampiaskannya. Lena teringat saat waktu Boss nya memergoki mantan tunangannya yang sedang berselingkuh di mansion milik Dev, London. Lena, Adam juga keempat orang kepercayaan Dev lainnya (Cindy, Max, Tanya serta Richard) sampai merinding dan takut melihat ekspresi Bossnya. Terlihat Boss nya tidak marah, namun menunjukkan senyum penuh amarah tapi matanya menahan tangis. Dan hebatnya, Boss mereka tidak pernah memukul lelaki selingkuhan mantan tunangannya, begitu pun dengan Stella. Mereka justru mendapat tepukan meriah seperti sehabis menonton pertandingan yang dimenangkan oleh tim favoritnya, lalu Dev mengusir mantan tunangannya juga lelaki itu tanpa ingin tahu bagaimana kehidupan mereka selanjutnya. Dev bahkan tidak menghancurkan karier, perusahaan atau nama baik mereka. Dev hanya memutuskan hubungannya saja dengan Stella. Lalu Lena tersadar saat mereka sudah tiba di basement apartemen. Adam memanggil Lena, lalu buru buru mereka keluar dari mobil. Mereka semua pun berjalan dibelakang Dev untuk sama sama naik ke lantai paling atas apartemen mewah ini. The Capitol tower. Siapa yang tidak tahu dengan The Capitol. Yah, Dev memiliki 4 unit apartemen di The Capitol. Satu unit paling atas sebut saja rooftop dari bangunan mewah itu dan 3 lainnya tersebar di lantai lain juga gedung lain. Saat tiba di lantai paling atas apartemen itu, mereka semua masuk. Dev pun duduk di sofa sambil terus memegang jaket yang ia pakaikan untuk Mila tadi. Sambil mengingat wajah Mila saat bermain hujan dan tiba tiba menangis tadi. Tanpa Dev sadari, ia tengah di tatap oleh semua orang kepercayaannya. Karena Dev tiba tiba saja senyum lalu mengubah ekspresi sedih. Cindy.. (menyenggol lengan Lena dan Tanya). Pak Boss kenapa? seperti orang jatuh cinta tapi putus cinta dalam waktu bersamaan.. Kenapa? Tanya.. Tidak tahu cindy yang jiwa ingin tahunya sangat menggebu. Tanya saja ke Tuan kalau ingin tahu (membalas ucapan Cindy dengan memutar bola nya malas). Dev lalu berdiri dari sofa ruang tamu, akan menuju ke lantai 2 apartemen untuk bersih bersih, sontak saja membuat ke enam orang kepercayaannya kaget dan salah tingkah. Dev.. kenapa kalian? kenapa kalian terlihat seperti pencuri yang sedang tertangkap basah? (berhenti sejenak lalu memperhatikan anak buahnya) Adam, Lena, Cindy, Max, Tanya dan Richard kemudian menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal. Kemudian Max angkat bicara Max.. Ah, ah tidak apa apa Tuan. Kami hanya sedang melihat video yang ditunjukkan Cindy (sambil menyenggol lengan Cindy. Cindy yang merasa namanya disebut pun mengangkat wajahnya dan bersuara) Cindy.. Ah, ah itu Tuan.. I-ya, I-ya Tuan. Saya sedang memperlihatkan foto ke mereka Tuan. Eh, maksud saya Video Tuan (tangan Cindy berkeringat sambil memegang hpnya dengan ekspresi tak terduga). Dev.. (melirik mereka dengan tatapan menelisik) Video apa? coba perlihatkan padaku sekarang. Atau kalian hanya ingin menertawai saya? (sambil memasukkan tangan kanannya ke saku celana) Mereka berenam pun semakin terlihat salah tingkah. Namun Richard lalu mengambil hp Cindy dan memberikannya pada Boss mereka. Cindy.. eh,, hp ku. Rich apa yang kau lakukan (memukul tangan Richard) Richard.. ini Tuan hp Cindy, bisa Tuan lihat sendiri (menyerahkan hp Cindy) Dev.. (menerima hp dengan tatapan curiga. Lalu menggeser hp cindy dan membutuhkan password baru bisa terbuka). Berapa passwordnya Cindy? Cindy.. ah, a-pa a-pa Tuan? password yah.. 120108 Tuan. Tanggal jadian saya dengan Max, Tuan (Cindy keceplosab saat mengatakan itu, ia langsung menutup mulutnya dan memukul kepalanya) Dev.. Tidak perlu merasa bersalah, aku tahu kalau kalian ini berpasang pasangan. Adam dan Lena sudah lama berpacaran semenjak mereka berdua ikut denganku saat. Lalu Tanya dan Richard juga baru jadian 2 tahun lalu. Sedangkan Kau dan Max sudah memasuki 4 tahun kan? Aku tahu semua tentang kalian. Untuk itu aku tidak pernah melarang atau mengekang kalian jika ingin berduaan dan lainnya. Karena aku suka kinerja kerja kalian itu saja. Tak disangka mereka pun terkejut dengan Big Bossnya ini karena mengetahui rahasia hubungan mereka yang sudah lama tersimpan. Mereka pun kembali menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Sementara Dev membuka hp Cindy dan yang ia temukan membuatnya tersenyum. Bagaimana tidak? Dev melihat video saat Mila bermain hujan. Dengan tawa juga senyumannya, mampu membuat Dev ikut tersenyum sampai tertawa meskipun tidak terbahak bahak. Mereka berenam pun sungguh dibuat takjub dengan perubahan Big Boss nya ini. Namun lagi lagi mereka tersadar, saat suara Dev menginterupsi lamunan mereka.. Dev.. (mengembalikan hp Cindy dan berkata). Kirimkan padaku video itu sekarang juga. Dan setelah bersih bersih nanti, aku ingin kalian semua di ruangan ini. Ada hal yang ingin ku bicarakan. Paham? (dengan nada tegasnya dan ekspresi dinginnya) Mereka bersamaan.. Baik Tuan Dev pun melangkah menaiki anak tangga apartemennya menuju ruangannya. Sementara itu dirumah Kontrakan Mila, sedang terjadi pertengkaran antara Mila dan Aditya, suaminya. Mila yang sudah tidak tahan, lalu bertanya pada Aditya tentang kemana saja dia pergi dan siapa perempuan yang dia lihat tadi. Mila.. Bii (memanggil suaminya dengan lembut sambil mengelus punggung belakang suaminya). Aditya.. Hemm, kenapa Mii? (menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari hpnya). Mila.. Seharian gimana di sekolah? ngajar anak anak murid kamu gimana? Kuliah kamu gimana bii? (sambil memijat kaki suaminya karena ia tahu suaminya pasti kelelahan) Aditya.. biasa aja, nggak gimana gimana. kenapa emang? orang kayak biasanya juga. Bolak balik Jakarta-Bekasi-Jakarta yah capeklah (tanpa memandang Mila sedikitpun) Mila pun membuang nafasnya pelan lalu mengajak berbicara lagi suaminya Mila.. (mulai menurunkan kaki suaminya dari pahanya) Bii.. aku tadi pagi lihat kamu didepan goncengan sama cewek pake hijab, terus pelukan bii. Kamu juga udah nggak pake baju kerja sekolah, tapi jeans sama jaket abu abu itu. Trus tadi pas pulang, aku turun dari mobil didepan TK, aku lihat kamu lagi ribut sama cewek juga sampe cewek itu nangis, trus nggak lama kalian pelukan. Boleh tahu siapa bii?? (air mata Mila sudah terkumpul untuk menangis) Aditya.. Ah elah, kamu salah lihat kali. Bukan aku tapi pakaiannya aja mirip. Nggak usah ngaco, nggak usah nuduh nuduh. Lagi hamil tuh tabayyun (berpikir positif) aja. Nggak mungkin aku bawa cewek kesini kan, jadi nggak usah nuduh (bangun dari posisinya dan berganti dengan duduk menyandarkan tubuhnya ke tembok). Mila.. Hmmmm. Jujur aja kenapa sih bii? aku nggak nuduh apalagi fitnah kamu. Aku jelas jelas lihat plat motor kamu, sepatu, jaket, helm dll. Aku yang beliin semuanya buat kamu, jadi aku paham dan kenal banget mana suami aku (air matanya sudah mulai jatuh). Aditya.. kalo aku bilang bukan ya bukan! Kenapa sih demen banget ngajak orang ribut? udah malem juga. Bukannya nyetrikain baju aku buat besok, malah ngajak ribut. Ini nih bikin aku males. Udah capek capek kerja, trus kuliah eh baliknya di tuduh tuduh. Emang enak apa?? (Berdiri dan memakai kaosnya, lalu mengambil rokok elektrik miliknya dan mulai dibersihkan untuk mengganti kapas dll) Mila.. aku kan cuma nanya baik baik, minta kamu jujur, nggak nuduh kok. Kalo aku nggak lihat, nggak mungkin kan aku tanyain gini. Kan udah aku bilang berapa kali bii, jujur aja apa susahnya? aku juga kalo tahu kamu selingkuh lagi, kayak udah biasa aja. Paling cuma nangis, terus do'a, diemin kamu. Mau ngapain lagi? aku nggak pernah marah marah. Aditya.. heh!! nggak marah marah? tapi ngelabrak itu cewek lewat chat. gitu maksudnya? HAHAHAHAHA (Aditya tertawa terbahak bahak). Udah ah, males ngomong sama kamu. Nuduh aja terus bawaannya, negatif mulu pikirannya. Capek tahu nggak. Nggak tahu deh bisa bertahan berapa lama nikah sama kamu (tanpa menoleh dan berpindah ke ruang tamu dirumah kontrakan mereka) Mila pun mulai menangis tanpa mengeluarkan suara. Hati Mila benar benar sakit, sangat sakit sampai tak tahu harus berteriak atau kah menangis bahkan tertawa. Kalaupun benar Mila melabrak selingkuhan Suaminya melalui chat, apakah itu salah? sebagai Istri SAH, Mila berhak untuk melakukan itu dan memperjuangkan rumah tangganya. Apalagi Mila paham betul bagaimana perangai suaminya yang mengaku kalau ia belum menikah dan tidak memiliki pacar ke setiap perempuan yang ia ajak kenal, bertemu, berhubungan bahkan tidur bersama. Mila yang sudah tidak tahan lagi menjalani ini, segera membereskan tas pakaian kecil miliknya dan ingin pergi dari rumah kontrakan itu. Namun saat Aditya melihat itu, ia justru memarahi Mila dan mulai melakukan k*******n lagi Aditya.. Mau kemana lo? hah? ngapain beres beresin pakaian lo? mau kabur? mau minggat? dasar kayak apaan aja. Lo yang salah tapi lo yang nangis nangis, mau kabur aja terus. Kenapa? nggak kuat sama gue? udah nggak tahan sama gue? (Mulai meninggikan suaranya) Mila yang merasa Aditya mulai lagi dengan tingkah seperti itu, hanya diam saja dan terus memasukkan barangnya ke dalam tas. Sebab Mila merasa malu didengarkan tetangga jika mereka ribut terus. Sontak saja Aditya yang merasa tidak diperdulikan, lalu mengambil tas milik Mila dan melemparkannya sembarangan Mila.. Apa apaan sih? hah? gue mau pergi iya. gue mau minggat iya. kenapa? nggak suka? hah? lo kan punya banyak cewek diluar, yang selalu lo cari kalo lo ada duit. Tapi lo bakal balik ke rumah kalo duit lo udah habis, udah capek, maunya marah marah doang. Lo baik ke gue kalo ada maunya aja. Sepatu futsal rusak contohnya, pengen beli jaket baru, pengen beli peralatan gunung baru, atau kapas vape dan banyak lagi. Kenapa sih bii? hah? kenapa? (Mila tak kuasa menahan tangisnya karena sudah terlanjur sakit hatinya). Apa salah aku sampe kamu giniin aku terus? hah? apa salah aku? (Mila terduduk pelan di kasur mereka dan menangis memegang perutnya). Aditya yang mendengar itu pun bertambah emosinya dan memarahi Mila sampai melakukan k*******n pada Mila yang tengah hamil baru memasuki usia 5 bulan. Aditya.. Salah lo karna lo minta nikah sama gue! kenapa nggak lo gugurin aja nih anak hah??? gue kan udah bilang sama lo. Gue bakal berubah baik, gue bakal berusaha berubah, asal lo gugurin nih anak. Kita mulai lagi dari awal, bahkan sampe nikah ayo. Gue nggak mau nikah karna keadaan gini. Belum lagi lo yang mau sok dekat sama semua teman teman gue, follow mereka di sosmed, pasang status, pasang foto atau video bareng gue, gue paling benci tahu nggak!!! jadi wajarlah gue cari perempuan diluar. Perempuan yang lebih baik dibanding lo (sambil menunjuk Mila dan memukul kepala Mila) Mila.. (menangis sejadi jadinya). Oh jadi karna itu alasannya? okey. aku yang bakal pergi dari sini. Aku nggak maksa kamu nikahin aku, aku nggak maksa kamu tanggun g jawab. Kalo kamu lupa, aku pernah menolak buat menikah sama kamu karna sangat paham kamu nggak akan berubah. selama 3 tahun kita pacaran, aku dapat apa? selaib sakit hati, luka, perselingkuhan, dipukul, difitnah dan lain lain. Apa aku salahin kamu? hah? apa aku salahin kamu? (mulai meninggikan suaranya sambil menangis). Sedikitpun aku nggak maksa kamu! Bapak kamu yang bujuk aku buat nerima kamu, dengan gitu mungkin kamu berubah. Tapi apa? aku selalu percaya sama kamu. Kamu bohongin aku berkali lipat pun, aku selalu kembali percaya sama kamu. Bahkan kamu tidur sama perempuan lain pun aku masih maafin. Dari semenjak kita pacaran, kamu selalu begini. Dan aku balas apa? aku cuma nangis terus maafin kamu. Sekarang aku lagi hamil dan kamu cuma mainin pernikahan saja. Begitu yang dibilang tahu agama? kemana ilmu agama yang kamu pelajarin selama ini? kemana? hah? (makin menangis karena sudah sangat sakit hati Mila). Sekarang gue mau pergi, terserah lo mau bilang gue apa. Buat apa gue sama lo dan berjuang sendiri, tapi gue nggak pernah dianggap Istri. Bahkan lo nggak pernah mengakui gue sebagai Istri lo! (mengambil kembali tas pakaian miliknya lalu memasukkan lagi barang barangnya) Aditya yang sudah dikuasai amarah pun membanting pintu kamar mandi hingga pintunya rusak bagian bawah. Lalu menghancurkan piring, menghamburkan semua yang ada diatas kasur, melempar tas miliknya ke sembarangan arah sambil meremas rambutnya. Mila hanya diam saja melihat tingkah Aditya, karena bukan pertama kali bagi Mila jika Aditya bertindak seperti itu. Setelah selesai memasukkan beberapa barang miliknya, Mila lalu mengambil hijab dan jaketnya kemudian memakai flat shoes dan bersiap siap untuk pergi. Malam itu gerimis mulai turun kembali, dan saat mereka bertengkar sudah menunjukkan pukul 12 malam. Mila dengan badan yang terasa pegal, hati sakit, kepala pun terasa nyeri, memantapkan dirinya untuk pergi sejenak. Sedangkan Aditya yang melihat itu, hanya membiarkan saja. Tidak berkata apapun, tidak mencegah atau pun melakukan hal lainnya selain naik ke kasur dan bersiap untuk tidur. Saat akan pergi, Mila mengatakan beberapa hal pada suaminya dengan suara lirih dan tangisan yang terus menggenang dari matanya Mila.. Aku pergi. Semoga kamu bisa senang setelah aku pergi, semoga kamu bisa merasa bebas karna nggak ada lagi yang nanyain kamu dimana, sama siapa, lagi ngapain. Aku emang bukan perempuan baik baik, tapi cuma aku perempuan yang selalu nerima kamu apa adanya. Segala macam sakit udah kamu kasih ke aku, bukan cuma fisik tapi mental. Sedikitpun aku nggak pernah membalas kamu. Aku terima apa adanya nasibku dan takdirku, karena aku berdo'a dan berharap kalau kamu bakal berubah suatu hari nanti. Sayangnya aku cuma bermimpi, jadi hanya nyakitin diri sendiri dengan harapan itu. Aku pamit, Maaf udah ganggu kamu dan selingkuhan kamu. Aditya.. hemmmm. ya udah sana kalo mau pergi. Tutup pintunya dari luar, kalo mau balik lagi serah aja. Nggak ada yang usir juga. Lo kan emang selalu gitu, minggat mulu kalo ribut sama gue. Sana pergi, jangan harap gue cariin lo (kemudian bermain hp dan membaringkan tubuhnya diatas kasur). Mila yang mendengar itu pun makin merekas tas yang ia pegang, dengan hati yang sangat sakit, ditengah hamil, Mila harus terus berjuang sendiri menghadapi suaminya yang seperti itu. Mila hanya selalu memakan Janji manis dari Aditya, tapi tidak sedikitpun Aditya melakukan sesuai janjinya terkecuali jika ingin meminta sesuatu atau menginginkan sesuatu, maka Aditya akan memperlakukan Mila seperti layaknya seorang suami pada istrinya. Sayang nya saat keinginan Aditya terpenuhi, ia akan kembali seperti semula. Mila kemudia melangkahkan kakinya keluar dari rumah, sambil memakai masker namun air matanya terus saja mengalir. Tak lupa Mila mengunci pintu dari luar dan memasukkan kuncinya dari bawah pintu. Mila kemudian mengambil tas pakaiannya dan berjalan keluar dari parkiran rumah kontrakannya. Dengan hati yang sakit, air mata yang tidak berhenti, Mila berdo'a dalam hati semoga Allah mengampuni dirinya. Karena pergi begitu saja. Sebab Mila merasa sudah tidak kuat lagi menerima, menghadapi, dan menjalani semuanya. Mila terus saja berjalan hingga keluar dari komplek perumahan itu dan terhenti ditamab komplek sembari duduk memikirkan, kemana ia harus pergi dan dimana ia harus tidur malam ini. Mila lalu mengambil ponselnya dan mulai chattingan dengan beberapa orang untuk menumpang tidur malam ini. Tentu saja orang yang ia kenal dan dekat dengannya. Setelah melakukan chat dan duduk di taman hingga 1,5 jam, Mila pun merasa dingin apalagi ditambah gerimis malam ini. Tak ada satu pun temannya yang bisa ia tumpangi, sebab Mila bingung harus memberi penjelasan apa jika teman temannya melihat Mila membawa tas pakaian. Belum sampai dirumah temannya, Mila sudah bingung harus menjawab apa ke temannya kenapa ia pergi dari rumah. Justru Mila mendapat ocehan dari beberapa temannya untuk tidak pergi dari rumah biarkan saja Aditya yang pergi. Karena mereka tahu, Mila tak memiliki keluarga disini yang bisa membantunya dan menjaganya ketika sedang ada masalah. Akhirnya setelah berpikir panjang, waktu menunjukkan pukul 02.00 wib malam, Mila mulai berdiri dan melangkahkan kakinya sambil membawa tas pakaian miliknya. Mila berjalan ke arah mesjid, niat hati akan tidur di mesjid saja. Namun setibanya didepan mesjid, gerbangnya tertutup sehingga Mila harus berjalan kembali. . Saat berjalan balik, Mila melihat ada ruko yang masih terbuka gerbangnya. Ruko itu ditempati oleh apotik, atm, penjual makanan, penjual plastik dan warung kecil. Namun semuanya sudah tutup. Mila pun memasuki area gerbang sana karena Mila melihat ada keluarga kecil beranggotan bapak, anak dan istrinya yang sedang tertidur disana beralaskan kardus dan karung. Mila mendekat dan duduk tidak jauh dari mereka dilantai yang dingin. Selama 2 jam duduk dan menangis, Mila mulai terasa kantuk. Namun perutnya terasa sakit, entah karena asam lambung yang kambuh sebab tidak sempat makan atau anaknya yang sedang marah dan menendang. Mila hanya pasrah saja dan terus menangis. Sampai akhirnya saat akan memejamkan mata, ada lampu cahaya mobil yang menyoroti Mila dari luar gerbang ruko. Sontak saja Mila kaget dengan siapa yang turun dari mobil itu... Saksikan awal kebucinan Devan Abraham Mahesa di bab selanjutnya. Bucin sama Istri orang, eh? gimana? hahahaha.. Tapi tenang aja, segala kesakitan akan berakhir Indah :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN