Perasaan Aneh

3206 Kata
Masih didepan toilet Ballroom Hotel Mahesa Mila.. Maaf saya harus pergi, teman saya menunggu didalam (Pamit untuk pergi, namun bukan untuk kembali ke dalam melainkan pulang saja atau mencari udara segar diluar) Namun Mila lagi lagi ditahan oleh Dimitri Dimitri.. Kakak mau kemana? aku belum mengucapkan terima kasih karena sudah membantuku (sedikit berlari menghampiri Mila) Mila.. (kaget ada Dimitri dikakinya). Ah.. kakak mau pulang adik tampan, kakak sedikit lelah. Kakak sedang hamil jadi tidak baik kalau terlalu lelah. Lagipula akan turun hujan, jadi kakak harus pulang sekarang. Kakak senang sudah membantu kamu adik tampan (membungkukkan badannya agar sejajar dengan Dimitri, meskipun sedikit susah karena perut buncitnya) Dimitri.. Kakak ikut Dimi saja pulang kerumah, bagaimana? Dimi merasa nyaman dengan kakak (Memasang wajah puppy eyes nya) Mila.. (terkekeh kecil) Adik tampan, namamu Dimi? (bertanya pada Dimitri) Dimi.. (mengangguk) Iya, namaku Dimitri Alexander, kakak bisa memanggilku Dimi Semua orang yang ada disana pun sontak saja kaget melihat Dimitri yang bisa dengan cepat dekat dengan orang lain yang baru saja ia kenal. Mila.. Nama yang bagus. Tapi maafkan kakak yah, kakak harus pulang kerumah. Kalau nanti ada waktu, kita bisa bertemu lagi. Bagaimana? (berusaha meyakinkan Dimi dengan mengusap pipi juga tangannya) Dimitri.. (mendengus sedih) baiklah. Dimi tidak akan memaksa kakak. Kakak harus janji kita akan bertemu lagi yah (menaikkan jari kelingkingnya) Mila.. (tersenyum senang) baiklah. Kakak berjanji (menautkan jari kelingking mereka) Dimitri.. Nama kakak siapa? aku tak tahu (bertanya dengan senyum senang) Mila.. Oh iya, nama Kakak Camila Rena Putri, kamu bisa panggil kakak Mila (mengelus lembut pipi Dimitri) Dimitri.. Nama yang bagus, baiklah (kemudian Dimi memeluk Mila dan semua orang pun kaget tapi tidak dengan Dimi yang sangat senang) Mila.. (membalas pelukan Dimi dan mengelus punggung belakang Dimi). Terima kasih juga adik tampan (Mila lalu berusaha berdiri dan pamit pada semua). Terima kasih pak, bu. Saya permisi. Mohon maaf sebelumnya kalau saya menabrak mba dan teman temannya (melipat tangan didepan dadanya. Lalu Mila tersenyum dan melangkah pergi dari sana) Richard dan Reynald yang melihat senyuman Mila pun sontak terkejut dan merasa seperti mengenal senyuman itu juga merasa ada yang lain dengan perasaan mereka. Mereka berdua merasa hangat dengan senyuman teduh itu seperti mengingatkan mereka pada Ibu Puspa begitupun mata milik Mila mengingatkan mereka pada Ayah Gilbert. Richard.. Kakak, apa kau melihat senyuman perempuan tadi? begitu pun dengan sorot matanya yang memeluk Dimi dan membujuknya tadi (menoleh pada sang kakak yang juga diam mematung) Reynald.. I-ya, I-ya Rich. aku juga melihat senyuman dan sorot mata itu (dengan terbata menjawab adiknya). Aku merasa seperti ada yang aneh dengan perempuan tadi. Apa kau juga merasa seperti melihat sosok Ibu Puspa dan Ayah Gilbert padanya? (dengan kebingungan dan bertanya pada adiknya) Richard.. iya kak. Aku merasakan hal yang sama. Seperti melihat dua bayangan orang tua kita menjadi satu berdampingan dengannya. apa jangan jangan dia? (mencoba menenangkan hati dan pikiran mereka). Tapi tidak mungkin. Selama ini kita semua mencarinya bahkan kakek dengan segala kekuasaannya namun tidak mendapatkan hasil apapun, selain petunjuk biasa. Tidak mungkin bukan secara tiba tiba dia muncul (masih mencoba untuk berpikir) Reynald.. Kau jangan lupa rich, apapun dapat terjadi dengan Kuasa Tuhan. Sekalipun kakek mencari cucu perempuan satu satunya diseluruh penjuru dunia, tapi jika Tuhan belum berkehendak maka kita tidak akan menemukannya, begitu pun sebaliknya. Aku merasa kita harus mencari tahu tentang dia tapi jangan dulu memberitahu lainnya termasuk kakek dan nenek. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu pada mereka seperti sebelumnya (mulai tenang) Richard.. kakak benar. Baiklah kalau begitu aku membantu kakak (melakukan tos tangan seperti biasa) Irene, Sarah dan Dev yang melihat ekspresi dari Reynald dan Richard pun bertanya tanya dalam hati mereka, ada apa dengan mereka berdua yang terlihat seperti patung dan sedikit pucat juga berkeringat saat melihat interaksi perempuan itu dengan Dimitri. Apa terjadi sesuatu yah. Irene.. Sayang, ada apa? kenapa ekspresimu seperti itu? dan kalian berdua membicarakan apa? (ekspresi Irene yang bingung) Sarah pun menimpali kakak iparnya Sarah.. benar, ada apa denganmu Rich? kenapa kalian? (meneliti wajah suaminya) Dev pun ikut bersuara.. Dev.. apa kakak mengenal perempuan tadi? ekspresi kakak seperti mengisyaratkan sesuatu (Dev pun bingung dengan ekspresi itu) Reynald.. ah, tidak apa apa, tidak apa apa. Kami berdua hanya merasa seperti mengenalnya saja, tapi mungkin salah orang (sambil menggaruk tengkuk lehernya karena kebingungan) Richard pun ikut menambahkan Richard.. Ah ya benar, kami hanya merasa mengenal dia saja seperti mengingatkan pada Orang tua kami yang sudah tiada, Ibu Puspa dan Ayah Gilbert (Richard keceplosan dan langsung mendapatkan pukulan kecil dilengannya dari sang kakak) Irene.. Apa? perempuan tadi? (Irene pun terkejut dengan penuturan kedua lelaki itu, karena ia pun merasakan hal yang sama). aku juga merasakan itu. Entah kenapa melihat dia berinteraksi dengan Dimi membuatku menghangat seperti melihat Ibu Puspa sedang menenangkan Dimi saat ketakutan dulu terkunci didalam toilet rumah kakek seperti sekarang ini. Sarah pun akhirnya mengungkapkan pikirannya Sarah.. aku juga merasakan hal yang sama. Meskipun aku tidak seintens Richard bertemu dengan Ibu Puspa juga Ayah Gilbert, tapi aku melihat sorot mata perempuan tadi saat membujuk Dimi sama seperti sorot mata ayah Gilbert saat membujuk Dominic waktu ingin memukul pria yang menyinggung soal adik kalian (Sarah sambil mengelus dagu nya karena mereka semua memiliki perasaan yang sama) Dev yang mengerti pun langsung ikut berbicara. Karena Dev pun mengenal siapa Puspa dan Gilbert yang tak lain adalah anak bungsu dari kakek Maxim. Mereka sudah meninggal sejak 10 tahun lalu karena sakit jantung yang diderita Gilbert juga Puspa yang setahub kemudian menyusul sang suami karena depresi berat kehilangan sang suami sedangkan anak perempuan satu satunya belum ditemukan. Dev dapat dibilang dekat dengan Puspa juga Gilbert, karena waktu itu Puspa menyampaikan niatnya pada Anastasia, Ibu Dev ingin menikahkan anaknya dengan putra bungsu mereka, Dev. Jadi semenjak itulah, Dev menjadi anak favorit mereka dan bahkan Puspa sering menceritakan keinginannya jika anak perempuan mereka ditemukan nanti. Dev.. Saat aku bertemu dengannya pertama kali tadi pagi, ia membantuku mengatasi sakit asam lambungku. Dan berpesan padaku untuk memakan 2 potong roti saja baru setelah itu memakan makanan berat. Kalimat itu terus saja terngiang di telingaku, karena aku mengingat pesan Ibu Puspa padaku sebelum beliau meninggal. Pesan yang sama dengan ekspresi wajah yang sama dengan perempuan tadi, jadi aku hanya menurutinya saja. Dan tidak ku sangka, aku berjumpa lagi dengannya malam ini dan melihat dia bersama Dimitri, membuatku merasa yakin kalau dia adalah anak perempuan Ibu Puspa dan Ayah Gilbert yang selama kalian cari (penyampaian Dev membuat Reynald dan Richard merasa sedih namun seperti ada cahaya terang yang membuka jalan mereka untuk mencari tahu siapa Mila). Richard ingin menyambung ucapan Dev, namun terpotong oleh Dimitri Dimitri.. Daddy.. (menarik tangan daddy nya). Daddy.. (Reynald pun menoleh) Reynald.. Ada apa sayang? (berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan putranya) Dimitri.. Waktu aku memeluk kakak Mila, aku mencium aroma wangi vanilla, sama seperti aroma dikamar nenek Puspa. Jadi, aku terus saja memeluknya karena sangat harum. Reynald.. (kaget dengan penuturan anaknya). Apa? apa kau tidak salah mengenal bau son? (berusaha memastikan pada anaknya lagi) Dimitri pun langsung menggelengkan kepalanya, menandakan ia yakin dengan ucapannya. Bahkan Dimitri pun meminta Daddy nya mencium pakaiannya pasti masih ada aroma vanila yang melekat dan Reynald juga Richard melakukan itu untuk memastikannya. Reynald dan Richard saling menatap dan menganggukkan kepala mereka. Sepertinya pencarian mereka akan berhasil kali ini, karena merasa ada sedikit beban yang terangkat dari pundak mereka selama 28 tahun ini. Reynald.. Thomas. Cepat selidiki dan cari tahu tentang perempuan tadi. Kau mendengar dia menyebutkan nama lengkapnya bukan? (berdiri lalu memasukkan tangan kanannya kedalam saku celana, sambil memerintahkan Asisten Pribadinya untuk mencari tahu tentang Mila). Thomas.. (mengangguk patuh pada bossnya). Baik Tuan, saya akan mencari tahu dengan detail, lalu akan memberikan informasinya pada Tuan secepat mungkin. Richard.. Brian, bantulah Thomas. Kerahkan semua anak buah juga detektif yang kalian kenal untuk mencari tahu tentang perempuan tadi. Laporkan setiap perkembangannya padaku, apapun hasil yang kalian dapatkan. Paham? (menatap asistennya dengan wajah serius) Brian.. Baik Tuan, akan saya lakukan (menundukkan badan sebentar) Reynald.. Baiklah kalau begitu, kita pulang saja. Aku rasa Dimi harus istirahat, besok kita akan bertemu lalu membahas lagi tentang hal ini (mengajak keluarganya untuk pulang, lalu meminta maaf pada Dev karena harus pergi sebelum acara selesai). Dev, maafkan kami. Aku harus pulang padahal acaranya belum selesai, aku harus membawa anak dan istriku beristirahat. Dev.. tidak apa apa kakak. Sebaiknya kalian semua pulang dan beristirahat, besok aku akan mengunjungi kantor kakak untuk membahas hal ini (memeluk Rey dan Richard untuk berpamitan) Richard.. baiklah. Ayo sayang kita pulang (mengenggam tangan Istrinya lalu melangkah keluar hotel). Sementara itu, Stella dan kedua sahabatnya yang sedari tadi disana hanya mencoba mencerna apa yang mereka lihat juga dengarkan. Mereka kemudian akan menyusun rencana juga untuk membalas Mila. Begitu melihat keluarga Alexander pergi, Stella berjalan pelan ingin menghampiri Dev, namun Dev pun berjalan kembali memasuki Ballroom, dan sontak saja lengannya ditahan oleh Stella. Stella.. Dev tunggu, Dev! (menahan lengan Dev dan dibalas tatapan sinis oleh Dev) Dev.. Ada apa hah? lepaskan tanganku! (mencoba menghentakkan tangannya dan langsung terlepas) Stella.. Dev, apa kau masih marah padaku? (mencoba memulai pembicaraan dengan Dev, tapi selalu di cueki oleh Dev) Dev.. apa maksudmu? kita sudah tidak ada hubungan jadi untuk apa kau menanyaiku? (Dev tidak sedikitpun menoleh pada Stella) Stella.. Dev, kau yang memutuskan hubungan kita secara sepihak. Bahkan aku tidak mengatakan kalau kita putus. Jadi kita belum sepenuhnya putus Dev! (mulai emosi karena Dev bersikap dingin) Dev.. apa kau lupa? aku memutuskanmu tepat saat kau sedang berhubungan badan dengab lelaki model s****n itu di mansion milikku? apa kau lupa Nona Stella? (mulai terpancing emosi) Stella.. Dev, maafkan aku. aku tahu aku salah tapi aku tidak sengaja, karena dia yang menggodaku. Maafkan aku baby (mencoba memeluk Dev, namun Dev melerai tangan Stella yang mencoba memeluknya). Dev.. Jauhkan tangan kotormu dari tubuhku, karena aku tidak sudi disentuh oleh boneka mainan sepertimu! (Berbicara datar lalu pergi meninggalkan Stella) Stella dan kedua sahabatnya pun kesal karena Dev bersikap begitu pada Stella. Kedua sahabat Stella pun berjanji akan membuat Stella dan Dev kembali bersama yang membuat Stella akhirnya tenang dan lega hingga tak jadi menangis. Sedangkan ditempat lain, Mila sedang menunggu taxi online, namun tak kunjung datang karena macet sedangkan sudah mulai gerimis. Mila yang duduk di halte didepan yang tak jauh dari Hotel Mahesa pun bersabar menunggu taxi online datang. Acara pelelangan amal pun selesai dan semua tamu mulai pulang, begitupun dengan Dev. Stella yang melihat ada kesempatan pun menempel pada Dev agar dapat dilihat oleh para awak media. Seketika Dev sangat marah dan melepaskan tangan Stella dari lengannya, lalu berjalan meninggalkan Stella. Itu semua tidak luput dari perhatian dan jepretan awak media. Dev sangat kesal dan masuk kedalam mobilnya lalu menutup tirai jendela agar tidak di potret oleh awak media. Sementara Stella senang mendapat perhatian awak media, dan mulai menjawab satu per satu pertanyaan awak media. Hingga ada yang bertanya mengenai hubungannya dengan Dev, dan Stella pun menjawab tanpa rasa bersalah. Media 1.. Bagaimana hubungan anda dengan Tuan Devan Mahesa? (mengarahkan mic ke Stella) Stella.. (kaget dan kikuk karena tidak mungkin ia menjawab yang sejujurnya, akan menurunkan pamornya). Ah, kami baik baik saja. Media 2.. Bukankah kalian telah putus? apa sekarang kalian kembali bersama? (tanya wartawan lainnya) Stella.. (kesal dengan pertanyaan itu namun menemukan ide untuk menjawabnya). Yah memang benar kami putus, tapi seperti yang kalian lihat. Kami sekarang sudah berbaikan dan kembali bersama. Tidak lama lagi kami akan menikah, karena kami sudah bertunangan selama 2 tahun ini. Jadi aku rasa, sekarang aku siap untuk menikah dengan Devan Abraham Mahesa (dengan senyuman lebar, Stella berani menjawab dengan penuh kebohongan) Lalu dikondisi lainnya, hujan pun mulai turun. Dev yang berada didalam mobilnya pun, membuka tirai jendel mobil untuk memastikan keadaan hujan. Karena arah keluar hotel memang macet, jadi mereka mengantri untuk keluar. Namun, saat Dev membuka tirai jendela, ia melihat sosok perempuan yang seharian ini bertemu dengannya 2x dan kali ini ketiga kalinya. Tanpa sadar, Dev pun tersenyum karena melihat perempuan itu sedang menadahkan tangannya untuk bermain air hujan sambil tersenyum dan tertawa lebar. Seakan tidak takut air hujan, dinginnya cuaca, juga diperhatikan orang. Dev pun ikut tersenyum, namun senyumannya mereda saat Adam memanggilnya.. Adam... Tuan, apa kita kembali ke apartemen atau kerumah kakek anda? Dev yang sedari tidak sadar dipanggil pun langsung menoleh tiba tiba Dev.. (kaget) ah... ehemmm (berdehem sebentar). ah,, itu kita pulang ke apartemen saja. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Adam, berjalanlah kedepan lewari halte itu, tolong singgah sebentar di halte itu (sambil menunjuk halte didepan) Adam.. Apa ada yang ingin anda beli Tuan? (mengikuti arah telunjuk bossnya dan melihat gerobak jualan bukan melihat sosok Mila disana) Dev.. ah,, bukan. Singgah saja sebentar nanti juga kau tahu Adam.. baiklah Tuan, saya akan putar balik. Dev hanya menjawab dengan deheman. Lalu mobil yang dikemudikan Adam pun memutar balik arah. Lena yang berada disamping Adam pun ikut meneliti apa yang diinginkan boss nya sehingga meminta singgah di halte. Namun, saat Lena melihat lebih tajam lagi, ia melihat seorang perempuan yang sama persis seperti perempuan yang tadi didalam hotel. Lena yang paham pun, hanya tersenyum dan berbicara dalam hati.. Lena.. sepertinya Tuan Dev menyukai perempuan itu. Padahal perempuan itu sedang hamil dan memiliki suami, apa Tuan Dev lupa atau ingin menjadi perebur istri orang? ah.. entahlah - batin Setelah mobil berhenti didepan halte itu, Mila sedikit kaget ada mobil BMW Abu abu berhenti didepannya. Mila berpikir tidak mungkin kan taxi online pakai BMW, terus siapa yah... Saat kaca diturunkan Mila pun kaget dan berhenti bermain hujan. Dev.. (kaca turun lalu mulai berteriak).. Hai, Mila. Ayo masuk, diluar hujan. Biar aku mengantarmu pulang (sambil menaikkan sebelah tangannya untuk mengkode Mila masuk kedalam mobil). Mila.. (kaget) hah? saya? (menunjuk diri sendiri). Dev.. Iya kamu (menunjuk Mila) Mila.. (menjawab Dev dengan sedikit berteriak karena hujan). Tidak terima kasih pak, saya sedang menunggu taxi online. Lagian saya sudah sedikit basah, Bapak pulang saja biar saya disini. Dev pun merasa tertantang, lalu meminta Adam menaikkan kaca dan meminta Lena membersihkan air hujan yang masuk. Dev.. (menepuk bahu adam). Adam naikkan saja jendelanya. Lena tolong di lap kursi ini. Apa ada payung dibelakang? aku akan turun untuk mengajaknya pulang, tidak sopan kalau seperti ini. Adam.. (mengangguk dan menaikkan kaca). Ada Tuan. Sebentar saya ambilkan dan membuka pintu (Adam lalu turun dan mengambil payung dibagasi belakang kemudian membuka pintu untuk Dev menyerahkan payung). Dev.. Terima kasih adam (menepuk bahu adam). Lalu berjalan mengitari mobil menuju ke halte. Mila yang melihat itu pun merasa kaget dan sedikit risih karena Dev tidak juga pergi tapi turun menghampirinya. Ternyata dari kejauhan, ada mobil Alpard Hitam milik Stella bersama sahabatnya didalam, yang sedang memantau mereka dari kejauhan. Stella pun sangat kesal sampai mengepalkan tangannya. Dev.. Mila (menyapa Mila) Mila.. ah, iya? kenapa anda turun pak? bukannya pulang (mendongkak dan sedikit kesal) Dev.. aku mau pulang tapi melihatmu, jadi aku berhenti. Ayo aku antar pulang, ini hujan dan angin juga lumayan kencang. Kamu sedang hamil, kalau kelamaan disini nanti sakit (berbicara dengan Mila sambil memegang payung) Mila.. ah, tidak apa apa pak. Saya masih tunggu taxi online nya, nggak enak pak kalau taxi nya datang saya sudah pergi. Kasihan pak, supirnya juga cari rejeki (menolak ajakan Dev dengan sopan karena ia tahu dirinya sudah berkeluarga, apa kata orang nanti. Meskipun suaminya selalu berselingkuh, tapi tidak dengan Mila). Dev.. Ini hujan Mila, mungkin Taxi online nya terlambat karena macet dan lainnya. aku hanya membantu saja sama seperti kamu yang membantu aku tadi pagi. Tolong Mila, saya tidak begitu suka ada hutang budi (memasang wajah memelas agar Mila mau ikut dengannya) Mila.. (bingung) tapi gimana yah pak... kalau taxi nya datang kasihan kan supirnya, mana harganya lumayan juga (sambil menekan keras tas yang dipegangnya) Dev.. Biar saya yang ganti rugi ke taxi onlinenya jadi tidak perlu khawatir (Dev menjawan mantap) Mila lalu mengangguk saja daripada menunggu lama, belum lagi kalau suaminya pulang dan Mila tidak ada pasti ribut lagi mereka. Akhirnya Mila ikut dengan Dev saja.. Mila.. (mengangguk) Baiklah pak. Maaf kalau saya merepotkan bapak. Terima kasih sebelumnya (Mila lalu berdiri dan bersebelahan dengan Dev) Dev.. (tersenyum). Tidak apa apa, aku senang bisa membantu (lalu berjalan pelan karena Mila sedang hamil dan membukakan pintu mobil dan Mila pun masuk kedalam). Sementara itu, Dev pun masuk kedalam mobil. Saat sudah duduk didalam mobil, ia melihat Mila menerima telepon. Mila.. (mengangkat telpnya). Halo.. ah, iya pak benar. Oh bapak sudah disini yah? (lalu melihat pada Dev). Baik pak sebentar yah saya kesana (mematikan telp). Supir Taxi onlinenya sudaj dibelakang, jadi saya kesana saja pak. Terima kasih sebelumnya (saat hendak ingin membuka pintu, tangannya ditahan oleh Dev) Dev.. aku sudah bilang kan biar aku yang tanggung jawab (menahan tangan Mila lalu melepaskannya). Adam, berikan supir taxi itu uang sebagai ganti rugi. Dan katakan kalau Nona ini tidak jadi naik karena akan diantar pulang. Selebihnya biar saya yang mengurusi besok (menatap Adam sambil memberikan uang merah yang entah berapa jumlahnya dan Mila pun kaget melihat itu). Adam.. Baiklah Tuan (lalu turun dan menuju taxi dibelakang. 10 menit kemudian, Adam kembali dan menyampaikan ucapan terima kasih dari supir taxi tadi karena sudah mengganti rugi dengan sangat banyak. Dan hanya mendapatkan tanggapan biasa dari Dev). Dev.. Jalanlah, kita harus mengantar Nona ini pulang. Mana selimut yang aku suruh siapkan tadi Lena? (bertanya pada Lena) Lena.. (menyerahkan selimut dari arah depan). Ini Tuan selimutnya.. Dev.. (mengambil dan mengatakan terima kasih). Terima kasih Lena. (kemudian memberikan itu pada Mila, yang tentu saja membuat Mila kaget tapi menerima selimut itu dengan baik. Karena memang sangat dingin, jadi Mila menerimanya saja daripada masuk angin) Mila.. Terima kasih pak (menerima selimut iti lalu menoleh keluar jendela lagi). (Kemudian menatap kedepan dan memberi tahukan alamat rumah kontrakannya pada Adam, kemudia diangguki oleh Adam karena sudah paham). Terima kasih pak adam (tersenyum lalu menoleh kearah jendela lagi memperhatikan hujan). Dev memperhatikan dan melihat Mila, tanpa ia sadari ia tersenyum. Dan mulai menanyakan Mila beberapa pertanyaan.. Dev.. Mila (memanggil Mila, kemudian Mila berbalik pada Dev) Mila.. ah, iya pak (dengan tatapan bingungnya) Dev.. Kamu kenapa melihat keluar? lehernya tidak sakit? (bertanya pada Mila) Mila.. tidak pak. Saya suka hujan jadi kalau hujan turun, saya suka lihat terus cium aromanya sangat segar saja gitu (sambil tersenyum antusias menceritakan soal hujan) Dev.. (paham dan menganggukan kepala). Oh begitu. Sejak kapan kamu menyukai hujan? Tidak semua orang menyukai hujan, dan kamu termasuk unik (bersemangat) Mila.. sejak kecil. Sejak kecil aku sudah suka sama hujan karena hujan itu sangat menyenangkan. Terserah orang mau berkata apa, buatku hujan sangat menyenangkan dan buat hati juga pikiranku tenang pak (memberi senyuman teduh pada Dev) Dev yang melihatnya pun seakan tersihir oleh senyuman dan suara Mila, dan ikut tersenyum seperti orang gila. Perjalanan memang sedikit lama karena Mila tinggal di Jakarta Selatan dan itu salah satu arah yang sangat macet apalagi saat hujan. Tanpa disadari, Mila pun tertidur. Dev yang sedari tadi membuka pekerjaannya melalui tab, kemudian menoleh ke samping untuk melihat Mila, ternyata yang ingin dilihat tertidur. Dev tersenyum.. Perjalanan sudah 1 jam dan belum juga tiba dialamat rumah Mila. Mila yang tertidur dengan enaknya, tanpa sadar pun kepalanya miring hingga jatuh ke bahu kiri Dev. Dev yang merasakan itu pun menoleh. Hatinya seperti hangat melihat Mila tertidur di bahunya, sontak saja Dev memperbaiki posisi kepala Mila agar lebih nyaman. Dev sangat menikmati momen ini, hatinya benar benar terasa seperti ada jutaan kupu kupu yang akan keluar saat itu juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN