Bab 12 || Aku, Kamu & Dia ||

1070 Kata
----- Udah minggu semenjak Mark nembak gue dan sampai sekarang gue masih belum bisa ngasih jawaban apapun ke Mark. Dan Jaemin? Sejak pembicaraan di atap itu ia tidak pernah bicara lagi sama gue. Bahkan gue pun rasanya ga sanggup bicara sama dia. Kalau boleh jujur gue sebenernya masih suka sama Jaemin tapi ntahlah perasaan gue bimbang dengan ditambahnya Mark yang ternyata suka sama gue. Kenapa diem aja? "Tanya pak Ceye. "Loh bapak sejak kapan di sini?" Tanya gue kaget begitu melihat ada pak Ceye yang duduk di depan gue. Kamu dari tadi ngelamun aja di kantin jadi saya samperin, "jelasnya. "Ahhh ngelamun ya? Hehe," tawa gue. "Ada masalah?" Tanyanya. "Ngga kok pak." "Tadi ngelamunin apa sih?" "Ngga kok gapapa." "Justru saya makin curiga kalau cewek udah ngomong gapapa." "Bapak pekaan ya ga kaya gebetan ga peka-peka." "Lulus sekolah dulu baru ntar pacaran." "Iya pak iya." "Ya udah jangan ngelamun mulu," ucap pak Ceye sembari mengacak-ngacak rambut gue. Pak Ceye pun pergi ninggalin gue yang masih duduk di meja kantin, lalu setelah itu beberapa menit kemudian Renjun datang dan langsung duduk dihadapan gue. "Loh Renjun?" "Lo kok sendirian?" Tanya Renjun. "Lagi pengen sendirian aja." "Ra," panggilnya. "Hmm? Kenapa?" "Gue perhatiin kok kayaknya lo lagi ada masalah gitu ya." "Ah masa sih? Biasa aja kok." "Serius Ra, kalau lo ada masalah atau lagi ada beban lo bisa cerita ke gue," ucap Renjun sambil mengelus tangan gue dan gue pun tersenyum ke arahnya. "Gue beruntung deh bisa punya temen kaya lo, Chenle, Jisung, Jeno, Haechan, Joy. Rasanya kalau ga ada kalian di sini pasti kehidupan sehari-hari gue di sekolah bakalan biasa aja tanpa ada kesan apapun." "Mark, Jaemin?" "Hah?" "Tuh kan ketauan pasti lo lagi ada masalah kan sama mereka berdua? Jujur deh Ra sama gue." "Gu-gue-" "Gue ga maksa lo untuk cerita kok, cuman gue gamau liat lo yang akhir-akhir ini jadi suka ngabisin waktu sendirian bahkan lo keliatan ga seceria biasanya." "Renjun." Kenapa? "Salah ga sih kalau gue suka sama Jaemin?" "Ngga lah itu wajar menurut gue, apalagi lo sama Jaemin kan sering satu kelompok jadi wajar kalau kalian deket terus salah satu dari kalian ada yang naksir." "Tapi Jaemin, gue ga ngerti sama dia, dia cuek dan ga pernah ngobrol sama gue tapi sekalinya dia ngomong masa dia nyuruh gue buat jauhin dia sih? Dan dia juga kalau tau gue suka sama dia." "Serius lo?" "Iya makannya heran dia sama dia." "Gue yang udah kenal lama sama Jaemin, dia ga pernah gitu sih sama cewek mungkin ada alesan lain kali Ra dia ngomong gitu sama lo." "Alesannya apa? Tapi ada satu hal yang bikin gue tambah kepikiran." "Apaan lagi?" "Minggu kemarin Mark nembak gue." "Hah ?! serius lo? Wah ga nyangka sih si Mark akhirnya naksir sama seseorang." "Eh maksudnya?" "Dari dulu Mark tuh ga pernah naksir sama seseorang, bahkan banyak cewek yang naksir sama dia tapi selalu dia tolak." "Jadi gue orang pertama yang Mark suka?" "Ya like", ucap Renjun sambil memutar-mutar pensil menggunakan jarinya. "Terus sekarang gue harus gimana? Gue udah gantungin Mark selama seminggu dan disisi lain gue masih suka sama Jaemin dan ga bisa lupain dia gitu aja." "Ra sekarang itu semua tergantung sama lo, lo harus pilih salah satu kalau lo emang masih suka sama Jaemin lebih baik lo jujur ke Mark dari pada lo gantungin Mark dan ujung-ujungnya ntar lo malah nyakitin dia," jelas Renjun. "Ren, gue ga nyangka deh kalau lo bisa se dewasa ini." "Haha biasa aja kali Ra." " Thanks ya lo emang terbaik deh hehe." "Sama-sama Ra kita ini temen dan gunanya teman itu ya untuk saling membantu kan," kata Renjun sambil mengedipkan matanya kea rah gue. Yang membuat gue langsung mencubit, "Ih Renjun." "Ra mending lo pacaran sama orang lain deh selain Jaemin sama Mark." "Hah? Siapa?" "Sama gue," ucapnya kali ini dengan pembicaraan yang sedikit serius membuat gue terpaku. "Hahaha gue bercanda jangan bawa serius ntar baper," tawa Renjun sambil menjitak kepala gue lalu ia pun pergi meninggalkan gue. "Ishh Renjun!" Teriak gue dan Renjun masih terkekeh sambil melambaikan dan gue punah menyusul dia. ----- Karna gue masih pengen di sekolah jadi gue lebih pergi ke perpustakaan karna gue anak yang rajin, baik hati & tidak sombong. Sesampainya di perpustakaan gue langsung nyamperin Somi penjaga perpus untuk menanyakan password wifi . Dan jadinya gue menghabiskan waktu di perpustakaan dengan wifi -an kan lumayan wifi nya ngebut bener ngalahin kecepatan pembalap motor. "Ra," panggil seseorang dan gue masih diem karna earphone yang menutupi telinga gue. Orang itu pegang bahu gue, "EANJIR," kaget gue dan gue langsung menutupi mulut gue pake tangan. "Apaan sih?" Tanya gue. "Loh Mark? Jaemin? Ka-ka-kalian nga-ngapain di sini?" Tanya gue gugup setelah mendapati Mark dan Jaemin yang duduk disamping kiri dan kanan gue. "Lo ngapain sih serius amat?" Tanya Mark sambil memainkan buku-buku yang ada di hadapannya. "Ehehe biasalah lah kerjaan fans hehe," tawa gue sambil melepas earphone dan memasukan ponsel gue ke dalam tas. "Belum pulang?" Tanya Mark lagi dan gue hanya menggelengkan kepala. "Jadi mau pulang kapan?" "Emang jam berapa ya sekarang?" "5," jawab Jaemin. "Ohh jam 5 toh, HAH JAM 5?" Teriak gue. Mampus gue, kenapa hobi amat teriak anjir. Buru-buru gue langsung ninggalin perpustakaan karna takut ditegur lagi gara-gara gue teriak mulu. Dan Mark, Jaemin ngikutin gue dari belakang. "Mau pulang?" Tanya Mark. "Ah iya kayanya gue pulang sekarang deh, ntar bisa-bisa kak Yuta ngamuk, kalau gitu gue duluan ya dahh," pamit gue pas gue mau pergi eh lengan kanan dan kiri gue di tahan sama Mark & Jaemin yang ngebuat gue bingung. "Mark? Jaemin?" "Bareng gue," kata Jaemin dan Mark bebarengan. "Hah ?!" Lupa gue kalau mereka pada bawa kendaraan masing-masing dan intinya gue harus pulang sama siapa? bisa ga tubuh gue dibagi dua jadi kan adil: ') "WOYY MARK INI FLASH DISK LO KETINGGALAN," teriak Jisung sambil menghapiri kita bertiga. "Lah lo pada ngapain gandengan tangan gitu? Kaya mau nyebrang aja," ucap Jisung. Gue pun melepas tangan gue dari mereka berdua, "Eh Jisung lo mau pulang kan?" Tanya gue. "Iya kenapa?" Tanya Jisung balik. "Ehehe kebetulan dong, eh gue pulang bareng Jisung ya dadah," ucap gue kepada mereka berdua. "Hah kok tumben? Pasti kangen sama gue ya? Haha," tawa Jisung. "Ya kepengen aja," kata gue sambil terus meningkatkan Jisung ke parkiran. "Hmm tapi kok gue merasa aja baru dimanfaatin ya?" "Ah hahaha ngga kok." Maaf, Jisung gue ga punya pilihan lagi soalnya dari harus terjebak sama mereka berdua. -----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN