Bab 11 || Aku tahu kamu khawatir ||

1215 Kata
----- Pulang sekolah Mark udah janji mau ngajak gue ke pizza hut dan akhinya kita pun nyampe lalu gue dan Mark langsung duduk di kursi yang deket jendela. "Pesen aja sesuka lo,"titah Mark. "Lo bawa duit kan?"tanya gue. "Gue bawanya black card." "Awas aja kalau giliran bayar ujung-ujungnya ke gue." Setelah gue melihat-lihat menu lalu gue memesan dua pizza dengan ukuran medium. "Ra, gue mau nanya sesuatu sama lo." "Apaan?" "..." "Woyy lo mau nanya apaan?"tanya gue setelah melihat Mark lagi ngelamun. "Itu emm daleman lo warna apa?"tanyanya asal. "Ap-apa?!" "Ehh gue ke kamar mandi dulu"ucapnya panik lalu lari menuju kamar mandi. "Anjir kok gue malah nanyain itu sih ah sial! padahal gue mau nanya ke lo Ra apa lo naksir sama Jaemin?"batin Mark. "Lah kenapa pergi? baru aja gue mau jawab polkadot." Selagi nunggu Mark dan pesenan gue, eh gue ga sengaja ngeliat Jaemin lewat didepan pizza hut dan ntah apa yang ada dipikiran gue, gue malah pergi keluar dan ngejar Jaemin. "Jaem,"panggil gue sambil berlari mengejarnya. "Jaem tunggu gue." Gue ngeliat Jaemin udah jalan nyebrang dan gue tetep ngejar dia sampai gue ga sadar kalau lampu udah bewarna hijau, gue ngedenger ada suara klakson mobil yang datang dari arah belakang. Jaemin pun noleh ke arah gue dan dia lari ke arah gue lalu narik tangan gue dan gue pun jatuh ke dalam pelukannya."Ja-jae-min," panggil gue dan Jaemin masih meluk gue. "Lo gila kalau lo ketabrak gimana?!"ucapnya khawatir. "Jaemin,"panggil gue lagi lalu Jaemin pun melepaskan pelukannya dan natap wajah gue dengan serius. "Jangan lakuin hal ini lagi,"katanya sambil menyentil dahi gue. "Ma-ma-maaf,"sesal gue karna udah bikin Jaemin jadi khawatir gini. Jaemin pun kembali meluk gue dan ntah kenapa gue gamau Jaemin melepas pelukannya dari gue, rasanya sangat nyaman berada dipelukannya. "Jaemin, Ara." Gue dan Jaemin langsung ngelepasin pelukann itu dan menoleh ke arah belakang. "Mark?!"seru gue dan Jaemin bersamaan. "Ka-kalian kok?"tanya Mark. "Jagain tuh cewek lo jangan nyusahin orang,"kata Jaemin lalu pergi ninggalin gue dan Mark. "Lo kenapa?"tanya Mark bingung. "Ahh tadi gue hampir ketabrak mobil untung tadi ada Jaemin lewat jadinya gue ditolongin sama dia,"jelas gue. "Tapi lo gapapa kan? ga ada yang luka?" "Ngga kok hehe, ya udah kita masuk lagi yuk lanjut makan,"kata gue sembari menarik tangan Mark kembali menuju pizza hut. "Oh iya Mark tadi Jaemin nyebut gue cewek lo maksudnya apaan ya?"tanya gue bingung. "Besok pulang sekolah temuin gue di ruang teater,"ucapnya tanpa menjawab pertanyaan gue. "Tapi kok Ara bisa pergi keluar ya? dia mau ngapain?"batin Mark. ----- Keesokan harinya gue lagi jam istirahat dan kebetulan Joy laper terus minta di temenin ke kantin, sesampainya di kantin Joy langsung beli 5 mangkok soto dan itu abis sendiri sementara gue cukup ngeliatin Joy makan udah kenyang. "Mampus anjir,"kata Joy sambil menepuk dahinya menggunakan tangannya. "Kenapa lo?" "Ehehe lo cantik deh." "Najis langsung ke inti aja ga usah banyak bacod,"kata gue dengan hawa-hawa yang ga enak. "Gue lupa ga bawa dompet." "Terus masalah buat gue? masalah buat nenek moyang gue?" "Ahh lo mah kan kita sahabat jadi harus saling membantu ehe." "Anjir padahal gue ga makan apa-apa kenapa jadi gue yang bayar." Kebetulan di meja sebelah ada anak chewing gum lagi pada nongkrong sambil makan, karna salah satu dari mereka holang kaya jadi gue punya ide jahat buat mereka. "Oh iya bi, soto yang dipesen Joy dibayarnya sama itu tuh yang mukanya macem nya ikan lele tagih aja bi sekarang,"bisik gue. "Eh anjir lo gila ya pe'a,"ucap Joy. "Udah biarin aja." "Dek, tolong bayar soto 5 mangkok,"ucap si Bibi soto menghampiri Chenle. "Saya ga pesen soto bi,"ucap Chenle tiba-tiba Chenle ngerasa ada mahluk halus disekitarnya. "CHENLE BAYARIN YAAK!"teriak gue dan Joy bebarengan lalu kita berdua kabur. "Mampus kan ada dua kunti,"gerutu Chenle. "Hahaaha ga nyangka gue mereka bisa gitu"tawa Jeno. "Mampus anjir si lele,"ucap Jisung. "Dikerjain sama cewek haha,"tawa Mark. "Lo pada ngetawain gue, bayar sonoh makanan lo sendiri"ucap Chenle. "Bercanda Le ehehe,"tawa Renjun. "We love Chenle"ucap Jisung sambil membentuk hati menggunakan tangannya. "Le lo ganteng deh meskipun gue ga ikhlas bilangnya,"ucap Mark. "Chenle squad kita mah ya,"tambah Jeno. "Satu kata buat Chenle MERDEKA!!"ucap Haechan paling semangat. ----- Tok Tok Tok. Teringat dengan perkataan Mark kemarin, gue pun memutuskan untuk pergi ke ruang teater sesuai dengan apa yang Mark suruh. Begitu sampai di depan teater gue mengetuk pintunya tapi tak ada jawaban sama sekali lalu kebetulan pintunya ga dikunci jadi ya gue masuk aja ke sana. "Buset dah gelap amat serasa tempat uji nyali,"ucap gue karna melihat ruang teater yang gelap apalagi hordeng yang tertutup. Terdengar langkah kaki dari belakang gue, bulu kuduk gue udah berdiri aja nih kan bener uji nyali. "Woy,"ucapnya dengan tangan yang menepuk bahu gue. "ANJIR SETAN,"teriak gue. "Ini gue woy bukan setan,"ucapnya. "Lah lo siapa? gelap ruanganya jadi yang keliatan cuman gigi lo yang putih doang." "Gue lupa ga nyalain lampu,"ucapnya lalu lampu pun menyala. "Mark? lo ngapain ke sini?" "Kan gue yang nyuruh lo kesini pe'a,"ucapnya. "Ah iya lupa ehehe." "Ada yang mau gue omongin." "Ngomong aja." Mark pun membawa satu buket bunga bewarna biru yang sedari tadi ia sembunyikan di belakangnya. "Lo mau ngelayat siapa?" "Mau ngelayat lo,"ucapnya yang hampir emosi. "HAH GUE?" "Udah lah skip aja, kalau diterusin kaga bener jadinya." "Hahaha jadi kenapa lo bawa bunga segala?" "Kita udah lama kenal dari kelas 1 dan sekarang udah kelas 3 kalau dipikir sih udah mau 3 tahun kita kenal, dan gue juga jadi mulai deket sama lo yang awalnya kita ga saling kenal sampai kita sedeket ini." "Ah iya ga kerasa ya waktu berjalan dengan cepat." "Gue tau kalau gue bukan cowok yang termasuk tipe lo, gue tau gue ga seganteng Park Chanyeol yang sangat lo idolakan tapi setidaknya gue mau jadi cowok yang bisa ngejagain lo dan ngebuat hari-hari lo semakin bewarna disetiap waktunya,"jelasnya Gue masih mencoba mencerna perkataan Mark di benak gue. "I promise to make you happy always, and I will never make you cry... so please give me a chance to be your boyfriend because I have fallen in love with you,"ucapnya sembari menyerahkan buket bunga itu ke gue. Mark suka sama gue? tapi gue masih suka sama Jaemin terus gue harus jawab apa? "Mark an-anu,"ucap gue terbata-bata. "Ah lo ga usah jawab sekarang, gue tau pasti lo kaget karena gue tiba-tiba ngomong kaya gini jadi lo bebas mau jawab pertanyaan gue kapan aja yang penting lo jawabnya tulus dari hati lo,"ucapnya. "Maaf ya Mark gue belum bisa jawab sekarang." "It's okay, yang penting terima aja bunga pemberian dari gue." "Makasih ya Mark,"kata gue menerima bunga pemberian dari Mark. "Ya udah kita pulang, gue anterin ya?"tanya Mark. "Sebelum pulang mampir ke tukang martabak dulu ya." "Buat lo apa sih yang ngga." Di situlah awal kejadian Mark ngungkapin perasaanya ke gue. Gue bingung apa yang mesti gue lakuin karena gue emang masih suka sama Jaemin meskipun dia nyuruh gue buat jauhin dia tapi gue tetep ga bisa buat ngelakuin itu semua. Tapi sekarang gue harus ngelakuin apa? kalau gue nge gantungin Mark terus kan ga enak mending sih kalau yang digantungin badannya tapi ini hatinya yang gue gantung. "Kenapa gue mesti masuk ke kehidupan dua bersaudara itu?"ucap gue sembari menatap bunga yang diberikan Mark tadi. "Coba aja kalau dari awal gue jadi istrinya Chanyeol exo, ah dari pada stres mending gue goyang kokobop aja"ucap gue. -----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN