POV Fandi Kali ini lebih mengalir, santai tanpa beban dan paksaan. Tak seperti sebelumnya yang bahkan terjadi adegan mendadak pinsan. Sepertinya, Mayra mulai menikmati, entah juga karena mulai terbiasa. Mayra terlihat pasrah. Tak perlu banyak kata memintanya untuk mengerti, hanya butuh kesabaran dan sedikit trik ajaib. Aku menarik diri, memberi sedikit jarak. Tindakanku membuat Mayra terkejut, tetapi ditutupi dengan senyum simpulnya “Kenapa?” tanyanya ambigu. Aku mengulum senyum, memindahkan satu tangan ke kepalanya dan meninggalkan kecupan di sana. “Sudah malam, tidurlah!” Aku mengancingkan piyamanya yang sempat kulepas. Ia tak berusaha membantu walaupun aku terlihat kesulitan dengan satu tangan. Kutatap sekali lagi netranya di bawah pencahayaan yang temaram. Terlihat gurat kec

