POV Mayra Mas Fandi menatapku dengan tajam, seperti belati yang siap untuk ditancapkan. Tangan yang sedang memelukku bertambah erat membuat tubuhku dan tubuhnya tak lagi berjarak. Wajahnya menunduk dan terulang kembali kejadian tempo hari. Terasa lembut. Kali ini aku lebih menikmati sebab sudah ada sinyal-sinyal dari mas Fandi. Cukup lama hingga tiba-tiba nafasnya semakin memburu, kemudian berpindah ke leher. Nafasnya terasa hangat. Aku takut, debaran dadaku kian kencang. Aku tak bisa, aku belum siap untuk menerima perlakuan lebih dari ini. "Mas ... aku belum siap," bisikku. Mas Fandi menghentikan aksinya. Ia mengangkat kepala hingga netra kami saling menatap. Tangannya terulur lalu memhusap kepalaku. Senyumnya mengembang sempurna. "Gak papa, kita bisa rayakan dengan makan bakso." Ren

