PoV Fandi Meskipun marah, Mayra tetap mau melaksanakan sholat Maghrib bersamaku. Kali ini, ia lebih banyak diam, tidak seperti biasanya yang lebih mendominasi pembicaraan. Dia marah. Wajar jika dia marah. Tapi jangan lama-lama, May. Kamu bisa menyiksaku. Aku memutar badan ketika usai sholat, memandang bidadari di hadapan yang masih lengkap mengenakan pakaian kebesaran shalat. Seperti biasa, kuulurkan tangan dan Mayra menyambut. Ia masih mencium tanganku. Setelahnya, tangannya tak kulepas. Aku bergeser agar lebih bisa memandangnya dengan puas, dari jarak yang sangat dekat. “Mas sayang sama kamu. Terkadang, yang terlihat di depan mata kita, tidak sama seperti kenyataannya. Mas nggak punya perasaan apa-apa sama Lisa. Tolong Mayra percaya. Apa yang Mayra lihat tadi cuma sebagian kecil ucapa

