Angan

1096 Kata
POV Fandi Mayra sedang membuka buku-buku yang baru saja ia beli melalui online shop. Matanya berbinar, jemarinya yang lentik sibuk membolak-balik halaman buku, mulutnya terus bergumam. Aku, memperhatikan setiap gerak tubuhnya. “Kamu bisa masak, May?” Pertanyaanku membuat Mayra menatap, sejenak. Lalu sibuk kembali dengan halaman demi halaman buku yang dipangkunya. “Bisa. Om suka makan apa? Besok Mayra masakin, deh!” jawabnya tanpa menoleh. “Terserah, yang penting nggak masakan yang pahit.” “Oke, besok Mayra bangun pagi-pagi, deh.” Mayra menyusun buku-buku itu di atas meja. Aku memang belum sempat menyediakan rak buku untuk. Lebih tepatnya masih bingung. Aku juga sama dengan Mayra yang bimbang dengan hubungan ini. Bersama hanya sebuah kebetulan yang dipaksa. Terkadang hidup ini lucu. Berniat menolongnya orang, tetapi malah kita sendiri yang menjadi korban. Coba dulu kubantu pak Haryanto dengan ikhlas, tanpa harus memberi syarat, mungkin tidak begini kejadiannya. Mayra tak harus menjadi korban keegoisan aku, juga bapaknya. Beruntung juga, Mayra gadis yang penurut. Sehingga apapun permintaan bapaknya, mudah ia loloskan. Meskipun dengan mengorbankan masa depannya sendiri. Menjadi pengantin pengganti merupakan kebodohan besar yang pernah aku lakukan seumur hidup. Seharusnya, aku dan keluarga meminta maaf saja atau membayar semua kerugian akibat tindakan Dipo yang tidak dewasa itu. Dengan begitu, aku tak akan mendapat beban. Tetapi malahan, aku menawarkan diri untuk menjabat tangan pak Hartanto. Tentu awalnya Mayra menolak. Bahkan sempat menangis seperti anak kecil. Membujuknya butuh waktu yang lama, memaksanya berpikir dewasa untuk menyelamatkan nama baik sang bapak. Sifatnya yang periang, nyaris menipu setiap mata kalau sebenar, Mayra juga sangat terluka. Gadis itu, terlihat lebih muda dari usianya, manja dan juga judes tapi aku suka sifatnya yang terbuka, tidak basa-basi dan jujur. Apa yang kulalui bersama Mayra tiga hari belakangan ini, terasa seperti mimpi. Tiba-tiba hidup bersama, tanpa ikatan cinta sebagai pondasi. “Om!” Mayra memanggil, membuatku segera mengalihkan pandangan darinya. “Apa?” “Dari tadi liatin Mayra terus. Jangan-jangan Om naksir, ya?” Aku tertawa mendengar tuduhannya. Mendasar juga walaupun aku yakin, itu hanya candaan. “Kok Cuma senyum aja, sih!” “Terus ...?” Aku bergerak menjauhi pintu balkon. Masuk ke dalam dan menutup pintunya. Mayra tak menjawab, hanya terdengar gumaman tak jelas. “Bobok, May. Om sudah ngantuk.” Aku menaiki ranjang, sedangkan Mayra masuk ke kamar mandi setelah selesai menyusun buku-bukunya. Aku mulai terpejam, tapi gerakan tubuh Mayra yang sedang menaiki ranjang membuat mataku terbuka lagi. Ia merebahkan diri di sampingku. Menarik selimut hendak menyelimutiku tetapi gerakannya terhenti karena mataku menatapnya. “Kirain sudah tidur. Malam, Om.” Aku menaikkan selimut yang tadi sempat dilepas oleh Mayra, “ malam juga.” Jawabku. Hening. Tak ada suara apapun. Mayra sudah terlelap. Terlihat sekali raut wajahnya yang tenang. Wajahnya cantik alami berkulit putih. Rambut panjang, poninya dibiarkan tergerai. Kadang dibiarkan menutupi bagian matanya. Tiba-tiba, seperti ada yang menggerakkan tangan ini untuk menyentuhnya. Tanganku terulur ... menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Ada yang mendesak dari dalam sini. Sebuah keinginan untuk ... astagfirullah! Aku mengusap wajah. Haruskah menahan keinginan pada sosok yang halal ini? Mungkinkah jika kuutarakan keinginan, Mayra akan memaklumi? Tidak. Itu tidak mungkin. Mayra tidak mungkin menerimanya dengan ikhlas. Tidak mungkin juga kupaksakan keinginan ini hanya demi penuntut sebuah kewajiban. Yang ada, Mayra akan terluka atau bahkan menjadi trauma. Sial! Kepalaku menjadi pusing karenanya. Kuputuskan beranjak pergi. Menyambar selimut dari dalam lemari. Kemudian keluar menuju ruang kerja. Lebih aman begini. Jadi ... pikiranku lebih bisa terkendalikan tanpa melihat sosok Mayra. *** POV Mayra “Pagi, Om,” sapaku pada pria ganteng yang baru saja tampak dalam penglihatanku. Wangi parfum maskulinnya mengalahkan aroma semur ayam yang masih kuaduk. “Pagi,” jawab Om Fandi sambil mengetik pesan sepertinya, “wangi, May,” tangannya meraih segelas air putih, lalu meneguknya. “Spesial ini, Om. Perdana masak harus bikin kesan di pertama memukau, dong!” Aku memindahkan masakan ke wadah yang sudah tersedia. Hanya menu ini yang belum tersaji, menu lainnya sudah menunggu untuk dieksekusi. Aku memindahkan mangkuk ke atas meja makan, “siap, Om. Mayra ambilkan, ya?” “Hem.” “Om ... Kenapa semalam tidur di ruang kerja? Gak dingin apa?” Aku menyendok nasi ke atas piring dan menambahkan beberapa menu lain di atasnya. “Lembur.” “Kok nggak ngomong mau lembur? Mayra ‘kan bisa nemenin,” tanyaku sambil meletakkan piring tadi ke hadapan Om Fandi. “Kalau ada kamu, nanti nggak jadi lembur.” Om Fandi mulai menyendok makanannya. “Mayra kan nggak ganggu.” Aku mengisi piringku juga. “Tetep aja, nggak fokus.” “Tapi nanti malam Mayra temenin, ya? Janji, nggak ganggu, deh!”.. “Nggak usah, May.” Om Fandi menolak. Aku mencebik, alasan yang diutarakannya tak logis. Iya kalau aku menemaninya sambil terisak-isak atau jungkir balik. “Nggak usah sewot, gitu. Om Cuma ng—“ “Sepi amat, pada keman, sih!” Tiba-tiba suara seseorang dari arah luar mengalihkan perhatianku dan Om Fandi. Aku baru saja berdiri untuk mencari tau, ternyata sosok wanita setengah baya langsung tersenyum padaku. “Mayra ...?” “Mama,” aku dan Om Fandi bersamaan. “Tumben Mama ke sini.” Om Fandi berucap sambil menyendok makanan yang sempat terjeda karena kedatangan mama. Sedangkan aku harus menyambut dan menyalami mama. “Mama sengaja datang pagi-pagi mau numpang sarapan. Kayaknya enak masakannya.” “Kebetulan Mayra masak banyak,” Om Fandi menyudahi makannya. “Wah ... Mayra bisa masak, ya? Benar-benar istri idaman ini, Fan.” Ucapan mama membuatku tersipu. “Mama memamg suka heboh, May. Nanti pasti bakal bikin sesuatu yang lebih heboh lagi.” Om Fandi mungkin menangkap rona merah wajahku. Pantas bilang begitu. “Sudah, kamu berangkat kerja aja. Mama mau interogasi mantu Mama.” Mama menggeluarkan barang bawaan ke atas meja. “Apa itu, Ma?” tanya Om Fandi. Akupun penasaran. “Rahasia. Nanti kamu juga bakal tau.” “Main rahasia-rahasiaan sekarang, ya? Ya sudah, aku berangkat dulu.” Om Fandi beranjak pergi. “Eit, tunggu!” ucap mama membuatnya berbalik lagi. “Ada apa, Ma?” “Nggak pake cium?” protes mama. Om Fandi mencebik malas. Berjalan pelan ke arah mama hendak mencium mama tapi mama malah mendorongnya. “ Eh ... bukan Mama yang dicium. Noh, istrimu.” “Uhuk-uhuk!” Aku terbatuk. Rupanya sisa-sisa nasi yang ada di dalam mulut salah masuk ke saluran hidung. “Kenapa, May? Pelan-pelan makannya. Buruan cium Mayra. Kerja itu harus dapat ridho dari istri, biar bertambah berkah dan rejekinya mengalir.” “Mama ngomong apa, sih Ma?” Om Fandi memutar langkah untuk mendekatiku. Dan tanpa basa-basi langsung mendaratkan bibirnya ke keningku. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN