Mama ngomong apa, sih Ma?" Om Fandi memutar langkah untuk mendekatiku. Dan tanpa basa-basi langsung mendaratkan bibirnya ke keningku.
"Ulala ... manisnya ...." Tak diduga, mama mengambil gambar menggunakan handphonenya.
"Mama apa-apaan, sih." Wajah Om Fandi terlihat merah, tapi bukan karena marah.
"Lihat, nih!" Mama Memperlihatkan hasil jepretannya. Terlihat Om Fandi tepat mencium keningku.
"Astaga, Mama. Untuk apa ambil foto seperti itu?"
"Mau pamerlah. Mama pasang jadiin wallpaper akun media sosial. Mama mau pamer kalau Mama sudah punya mantu."
"Terserah, deh. Asal nggak aneh-aneh bikin captionnya. Ya sudah, aku berangkat dulu."
"Nggak di cium lagi?"
"Kan sudah, Mama."
"Mama belum ...!"
Om Fandi terdengar bergumam sambil berlalu meninggalkan aku dan mama.
"Sudah ini, Mama mau nunjukin sesuatu."
"Apa, Ma? Mayra membereskan ini dulu, ya?" Aku menumpuk piring-piring kotor.
"Nggak usah, biar pembantu yang membereskan. Bik ...!" Mama menarik tanganku.
"Iya, Nyah." Bik Atun datang dari belakang.
"Bereskan makanannya, ya?"
"Baik, Nyah."
Aku menuruti keinginan Mama. Penasaran juga dengan sesuatu yang dibawa. Mama memintaku untuk membuka kamar. Untuk apa ke kamar? Malah bertambah penasaran saja.
"Kalian tidur satu kamar, kan May?" tanya Mama saat kubuka pintu.
"Iya, Ma. Kenapa, Ma?"
"Cuma mau memastikan kalau Fandi sudah move on dari mantan istrinya." Ucapan mama membuatku penasaran.
"Memangnya, mantan istri Om Fandi ke mana, Ma?" tanyaku makin penasaran.
"Ada, sudah menikah lagi. Sudah ah, kok jadi ngomongin si Rena. Mama kan mau kasih ini buat Mayra." Mama menyodorkan barang bawaannya yang masih terbungkus plastik dengan rapi.
Aku menerimanya, "apa ini, Ma?"
"Buka saja," Mama menatapku sambil terus tersenyum, matanya dikedip-kedipkan nakal.
'Apa sih, maksudnya?'
Aku membuka bungkusan pertama, "Astaga, Mama!" Gaun yang ada di tangan hampir terlepas. Ternyata berisi gaun tidur yang transparan. Dan bingkisan yang kedua sebuah lingerie dengan renda-renda di depan d**a.
"Nggak pa-pa. Namanya juga usaha."
"Usaha apa?"
"Usaha biar Mama cepet dapat cucu."
***
Mataku melotot membolak-balik dua pakaian super transparan ini. Memandangnya saja sudah bergidik, apa lagi sampai memakainya. Mana mungkin om Fandi setuju aku mengenakan pakaian kurang bahan seperti ini?
Biar kusimpan saja. Tidak mungkin menolak pemberi mertua. Terlebih, mama sangat menyayangiku. Jadi ingat peristiwa di hari pernikahan kemarin. Mama adalah orang pertama yang meyakinkan aku untuk menikah dengan Om Fandi. Ada binar kebahagiaan yang terpancar jelas ketika aku bersedia dinikahi anaknya, sebagai ganti cucunya.
Seandainya Dipo tidak melarikan diri, mungkin aku akan memanggilnya Oma, bukan Mama.
Kumasukkan kedua pakaian ini kedalam pembungkusnya dan menyimpan ke dalam lemari.
Mungkin kapan-kapan akan kukenakan.
***
Om Fandi lama sekali pulangnya. Aku sudah menunggu satu jam. Biasanya, jam-jam segini sudah pulang.
Aku membuka-buka lagi buku yang baru saja datang. Terasa pusing, sebab sedari tadi pekerjaanku hanya membolak-balik buku yang sama. Seminggu lagi baru masuk kuliah. Rasanya sudah tak sabar menunggu momen itu. Sebab, aku sudah cuti dari kampus selama dua semester.
Awalnya satu semester untuk mengulur waktu.
Usaha bapak pailit, sehingga tidak mampu membiayai kuliahku. Kemudian aku memutuskan untuk bekerja. Uang yang kutabung dari hasil kerja sebagai waiters selama enam bulan sebenarnya sudah cukup untuk meneruskan kuliah. Hanya saja, bapak lebih membutuhkan uang untuk mengangsur utangnya pada rentenir. Akhirnya Aku gagal. Perpanjangan cuti kuajukan lagi.
Suara klakson mobil mengagetkan aku. Pasti Om Fandi. Aku bergerak cepat untuk menyambutnya.
"Biar aku yang buka, Bik." Bik Atun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.
"Iya, Non."
Kurapikan rambut, merapikan tatanan poni dan membenahi baju yang sedikit kusut. Kubuka handle pintu depan, memasang senyum semanis mungkin.
"Om baru pulang ...!"
Senyumku lenyap seketika, langkahku terhenti.
"Dipo!" Aku berbalik, menutup pintu kembali dan berusaha mengabaikan panggilan Dipo.
"Tunggu, May." Dipo berusaha mengejarku, "May! Mayra tunggu dulu." Lagi dan lagi terus memanggil. Sampai akhirnya tanganku berhasil ia gait.
"Lepaskan, Dipo." Aku berontak saat kedua tangannya memegang erat lenganku.
"Dengarkan dulu, May. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan."
Semakin meronta, pegangan Dipo semakin kencang membuat lenganku terasa sakit.
"Lepas Dipo, sakit!"
"Maaf, May. Kalau nggak begitu, kamu nggak akan mendengarkan penjelasanku."
"Percuma. Sudah terlambat."
"Aku mencintaimu, May. Aku baru menyadari kebodohanku beberapa hari terakhir ini. Setelah kamu dinikahi Om Fandi, aku menjadi hancur. Aku sakit, May."
"Masa bodoh dengan rasa sakitmu. Di mana kamu saat aku mati-matian menahan sakit dan rasa malu secara bersamaan. Kamu pengecut. Kamu tak cukup punya nyali untuk memperjuangkan perasaanmu. Aku ... sudah tak percaya lagi padamu."
"May, terserah kalau kamu mau marah, memaki tapi yang jelas, aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Aku akan meminta Om Fandi untuk melepasmu. Kemudian kita bisa memulai lagi dari awal. Aku berjanji tidak akan mengecewakan kamu lagi seperti yang sudah-sudah. May ... aku--"
"Lepaskan Mayra, Dipo!"
Om Fandi sudah berada di ambang pintu. Rahangnya mengeras, Om Fandi marah.
Aku menyentak kedua tangan hingga terlepas dari Kungkungan Dipo. Segera berlari ke arah Om Fandi
"Om, tolong lepaskan Mayra. Aku bersungguh-sungguh mencintainya. Om tolong--"
"Tidak. Om tidak akan melepaskan Mayra."
"Jangan egois, dong! Coba Om tanya Mayra, apakah dia bersedia menikah dengan Om Fandi? Mayra pasti merasa terpaksa, Om. Iya 'kan, May?"
Aku terdiam, tak seluruhnya ucapan Dipo salah.
"Ngomong dong, May. Benar 'kan kalau kamu cuma terpaksa?" Dipo kembali mengulang pertanyaannya. Aku sendiri bingung mau menjawab apa?
"Mayra, sekarang Om yang tanya, kalau kamu merasa tersiksa dan terpaksa bersama Om, Om akan melepasmu."
"Aku ...."
"Jujurlah!" Om Fandi meremas jemariku.
"Mayra." Om Fandi menatap dengan sorot mata yang sulit untuk kupahami. Apa ini saatnya untuk berkata jujur padanya? Pandanganku beralih pada seorang lelaki di sana. Dipo, lelaki yang telah menghancurkan setengah dari hatiku.
"Jawablah. Jangan takut, Om tidak akan marah."
"Aku ... aku mau bersama Om Fandi. Aku memang terpaksa menikah dengan Om, tetapi aku tidak mau berpisah." Ucapan itu lolos begitu saja. Sorot mata dan ketulusan om Fandi menuntunku untuk mengucapkan kalimat itu dengan sadar. Om Fandi terlihat menghela nafas lega setelahnya.
"Sekarang, kamu sudah mendengar pengakuan Mayra. Pergilah, Dipo. Ada banyak wanita di luaran sana yang bisa kamu ajak menikah," ucap Om Fandi dengan tetap menggenggam jemariku.
"Tidak, Om. Aku sudah terlanjur mencintai Mayra. Aku ingin Mayra berkata jujur kalau apa yang keluar dari mulutnya tadi adalah bohong."
"Kejujuran apa lagi yang mau kamu paksakan. Mayra sudah membuat pengakuan. Kamu harus menerima keputusannya."
"Aku nggak percaya, Om."
"Kalau kamu tidak percaya dengan kata-kata, Om akan tunjukkan dengan pembuktian. Kalau Mayra menolak, Om akan melepasnya."
Usai berucap Om Fandi langsung menarik tanganku. Menatap sejenak dan memindahkan satu tangannya ke bagian belakang kepalaku.
Om Fandi menarik kepalaku dan ... terasa dingin. Tubuhku dingin, tanganku juga. Dadaku berdetak dengan hebatnya.
Hening.
Lama ... lama sekali. Kenapa Om Fandi lama sekali?
Sepertinya jam dinding berhenti berdetak atau jangan-jangan bumi ini berhenti berputar. Yang akhirnya terdengar adalah suara dentuman pintu. Dari situ aku sadar bahwa Dipo sudah pergi.
Tubuhku jadi kaku, tetapi kakiku lemas. Mataku gelap.
"Mayra!"
Tubuhku rasanya ringan. Om Fandi membopong dan membaringkan aku di atas ranjang. Tangannya memijit pelan pelipisku. Aroma minyak angin pun tercium hingga membuat mataku terbuka.
Berulang kali Om Fandi memanggil. Sebenarnya aku tidak pinsan. Aku masih mendengar dan bisa merasakan saat-saat seperti tidur tadi. Hanya saja mulutmu tak bisa mengeluarkan suara.
"Kamu sudah bangun, May. Kamu nggak pa-pa?" Om Fandi terlihat sangat panik. Tangannya masih mengolesi minyak angin hingga ke bagian hidungku.
"Om akan membuat perhitungan sama Dipo. Biar dia nggak kurang ajar lagi sama kamu."
'Im Fandi ngomong apa, sih! Ya ampun, kenapa mulutku tak bisa bicara juga.'
"Gara-gara Dipo, kamu jadi seperti ini."
'Bukan gara-gara Dipo, Om. Tapi gara-gara Om.'
"Apanya yang sakit, May? Lengannya, ya? Pasti Dipo terlalu kasar mencengkram lenganmu."
'Bukan ... bukan lenganku, Om. Tapi ... tapi bibirku.'
"May, bicara. Jangan bikin om panik gini!"
'Aku syok kali, om.'
"May."
"Nggak tau apa, itu 'kan ciuman pertamaku. Om Fandi main sosor aja!"
"Kamu sudah bisa ngomong, May?"
Aku menutup mulut seketika. Tadi susah bicara, kenapa jadi lancar begini?
Next