POV Fandi Entah apa yang ada dalam otakku. Rasa menginginkan diri Mayra begitu besar, sebesar rasa kekhawatiran akan datangnya Dipo dalam kehidupan kami. Kalah saing, jelas aku takut akan hal itu. Di mana, untuk segala alasan apapun aku pasti akan kalah darinya, keponakanku itu. Dia lebih tampan, lebih menarik, lebih muda bahkan masih sangat muda, secara gaya dan perawakan Dipo menang dari segala segi. Aku tak mau kalah, tak mau mengalah juga, apalagi menyoal Mayra. Pada akhirnya, ingin kutahlukkan diri Mayra dengan caraku sendiri, meskipun terdengar egois. Maaf, Mau, aku harus melakukannya. Kini, tubuh mungil ini berada dalam rengkuhanku. Matanya yang teduh, menatap penuh kepasrahan. Dari hitungan menit proses pendekatannya secara alami, akhirnya aku mekiha perlahan matanya terpeja

