Setelah makanan sampai mereka berdua menyantap makanan yang akan di makan ini tidak tahu harus berkata apa, Ria memang menjadi orang yang beruntung mendapatkan perhatian luar biasa dari kekasihnya yang super cuek kepadanya.
"Syukurlah, aku juga awalnya ragu dengan kejutan yang aku buat ini, dan akhirnya kamu menyukai nya juga, terima kasih juga kamu sudah mau menerima hal sederhana ini."
"Sederhana apanya? Ini sangat mewah membuat aku terkagum saja, jarang sekali kau memberikannya kepadaku, bagaimana lagi aku cara berterima kasih kepadamu. Memang menjadi terbaik untukmu itu sangat susah, perjuangan aku untuk mendapatkan perhatianmu yang lebih saja aku tidak bisa.
"Hm... kamu ini sudahlah membahas membahas itu, sekarang kita habiskan malam romantis ini berdua." Ucap Brian dengan nada yang berat.
Setelah selesai mereka menyantap makanan, Brian duduk di sofa yang mengarah pemandangan kota di depan matanya, dan Ria menghampirinya dan duduk di samping Brian, sambil memeluk tubuh kekasihnya itu. "Sayang, sekali lagi terima kasih. Jangan pernah tinggalkan aku tetap menjadi Brian yang aku kenal, aku tidak ingin di sakiti lagi. Jauh di pikiran aku juga untuk menyakiti hatimu yang sudah tulus."
"Jangan di pikirkan hal itu, aku malas untuk membahasnya dan apa yang selama ini sikapku itu sudah mendarah daging, aku berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk kamu Ria." Ucap Brian yang berusaha meyakinkan hati Ria yang masih meraguinya.
Di dalam pikirannya hanya menutupi kesalahna dirinya, bayangan tertuju kepada Kayla, dia begitu sagat penasaran apa yang telah di lakukan oleh Kayla.
Di dalam hatinya merutuk terus menerus, Aku susah memahami, bagaimana pun Kayla teman nya. Jangan pernah berpikir akan tetap terus mendapatkan yang terbaik untuk dia. Ria pun yang melakukan itu, agar semua kejahatannya yang dia buat akan terbongkar. Entah apa yang di pikiran Brian dan apa rencana yang akan di buat. Dan kita tunggu smpai dia tau bahagaimana akhirnya akan mendapatkan sesuatu tersebut.
Brian memejamkan matanya sebentar saat mendengarkan alunan musik dan suasana pemandangan yang sangat indah, Ria yang terbawa suasana langsung duduk di pangkuan Bria, pria itu sangat terkejut dan dia berkata "Kamu kenapa? Tidak biasa seperti ini."
"Apa kamu tidak menginginkannya?" Tanya Ria dengan wajah penuh menggoda.
"Sudahlah, duduk di sampingku saja, jangan memasangkan wajah menggoda begitu, aku rasa kita tidak perlu melakukan hal yang aneh di sini."
"Kenapa? Tidak ada yang tahu juga, aku tahu pasti kamu juga menginginkan."
"Ria! Jangan duduk di depanku, kamu hanya menghalangi pemandangan kota yang begitu indah, tidak pernah aku mendapatkan suasana yang sangat nyaman ini, sekarang kamu pilih mau pulang atau menghabiskan waktu ini di sini dengan tenang."
"Hm... iya aku ingin menghabiskan waktu bersamamu saja, kenapa kamu tidak seperti pria yang lain di luar sana ?" Tanya Ria dengan wajah yang sangat tidak menyenangkan.
"Apa yang kamu pikirkan sekarag ini tetaplah menjadi wanita yang lemah lembut dan tidak akan membuat masalah. Paham?"
"Oke baiklah."
Di detik-detik terkahir Ria meletakkan minuman di hadapan Brian membuat dia terbaring lemah dan berkata "Ria kenapa aku merasa lelah, aku merasa ingin beristirahat dulu. Jika kamu ingin pulang pergilah atau kau ingin menemani aku di sini?"
Tanya Brian yang sudah merasa pusing.
Ria tersenyum miring da berkata "Kenapa sayang? Ayo... aku antarkan ke dalam ruangan agar kamu bisa beristirahat dengan nyaman, dan aku akan menemanimu sampai kamu tidak merasa sakit lagi."
"Oke baiklah."
Ria mengantarkan Brian ke tempat tidur yang sudah di siapkannya, di dalam hatinya berkata, Hahaha... ini rencana yang sudah lama ingin aku lakukan, apapun yang membuat aku bahagia, dan aku sangat ingin mendapatkanmu seutuhnya. Akan aku serahkan semuanya untukmu Brian.
Dada Brian semakin sesak dan dadaku panas, dia langsung membuka bajunya dan berkata "Aku sangat pusing dan dadaku panas. Tidak tahan lagi aku ingin melepaskan semuanya agar aku merasa nyaman, Ria dekap aku jangan lepaskan aku."
Ria langsung memeluk erat tubuh Brian, wanita ini merasa puas apa yang di rencanakan nya berjalan dengan baik, di dalam hatinya berkata Brian akhirnya kamu terjebak di perangkap aku hahaha...
Semua yang di lakukan nya Ria untuk membuat Brian menjadi miliknya seorang, posisi mereka sudah berada di atas tempat tidur, Ria mengelus lembut tubuh Brian dan dia berkata "Brian, sampai kapan pun kamu satu-satunya untukku saja, dan secepatnya Kayla akan aku singkirkan secepatnya."
Brian yang baru setelah sadar sambil memegang kepalanya, dan dia berkata "Aw... kepala aku semakin sakit, apa yang sedag kamu lakukan Ria."
"Ikuti saja aku, tetap lah tidur dengan tenang, aku akan menyerahkan semuanya untukmu Brian."
Brian berusaha menolak dengan tubuh yang sangat lemah, lalu berkata "Ria! Berhentilah jangan melakukan hal ini."
Ria yang sudah berada di atas tubuh Brian, dengan ganas nya wanita itu menyelinap ke arah leher jenjang milik Brian. Kecupan yang di berikan itu membuat Brian merasa sensasi yang berbeda.
Brian baru sadar dia langsung mendorong tubuh kecil Ria yang ingin mengecup bibir nya, "Stop!!!" Teriak kan Brian yang sangat kuat membuat Ria terkejut, tubuhnya yang sudah terjatuh di lantai dan wajah yang sangat syok itu berkata "Brian! Kenapa kamu tega sekali melakukannya kepadaku." Ria langsung menundukkan wajahnya sambil menangis.
"Kamu tidak pernah mengerti apa yang aku katakan, berhentilah egois! Aku tidak bisa melakukannya."
"Kenapa?" Tanya Ria dengan suara lantang.
"Aku memang benar belum siap!"
"Hm... kenapa dengan aku saja seperti itu, dengan wanita lain kamu bisa memperlakukannya dengan baik. Contohnya saja kamu dengan KAYLA bisa dirimu menjadi orang yang berbeda, terkadang aku sedih."
"Oo... ini yang menyebabkan kamu ingin mencelakakan Kayla?" Ucap Brian dengan sinis.
Dengan wajah panik Ria berkata "Eehm ...Eehm ... tidak karena itu, dia memang ingin menjahati aku, dari dia memilih untuk menemui kamu di tempat lain itu sudah menunjukkan kalau dia ingin merebut kamu dari tanganku."
"Kamu sangat salah, dia tidak seperti itu. Aku hanya kasihan melihat dia yang tidak pernah merasakan bahagia sejak dulu. Memang aku tidak mengenal dia sejak di bangku sekolah dulu, tetapi semenjak satu kampus ini dan dia menjadi temanmu, aku sangat paham dia akan terus saja menjadi orang yang tidak pernah memikirkan masalah orang lain, dan sampailah dia terkena masalah ini, tidak ada satu pun yang ingin membelanya. Padahal dia tidak bersalah."
"Apa! Kamu kenapa berpihak dengannya? Aku ini kekasihmu sampai hati kamu berbuat seperti itu. Brian perlu kamu tahu aku yang terlebih mengenal dia, jadi aku lebih tahu apa maksud dia sekarang."
Brian hanya menggelengkan kepalanya, lalu dia berkata, "Huft... aku tidak mengerti harus bagaimana. Terserah kamu saja! Aku harap jangan sibuk mencari kesalahan orang lain. Sekarang hubungan ini akan terus berjalan dengan baik. Jika kamu masih tetap seperti itu, aku akan ikhlas untuk kehilanganmu."