Sekarang, tahun 2009
Pagi ini Shia terlihat lesu di meja makan. Ia bahkan hanya makan separuh porsi nasi kuningnya saja, padahal nasi kuning yang dibeli di warung Bu Sam itu nasi kuning terenak menurut Shia. Semalam ia bermimpi tentang Zidni dan Varya, ketika mereka masih kecil dan para orang tua mereka mengajak berlibur ke Situbondo selama dua hari dua malam. Mungkin karena sehari sebelumnya mereka membicarakan tentang Zidni, jadi Shia sampai terbawa ke mimpi. Pembicaraan tentang perjodohan dengan Zidni di ruang tengah kemarin juga berhenti sampai sana, tidak ada tanda-tanda dari Mama maupun si tukang gosip Ivy untuk membuka obrolan tentang topik kemarin. Ini sama sekali tidak wajar. Untuk pertama kalinya, Shia merasa jika orang-orang ini mengetahui satu hal yang dia tidak ketahui, dan perasaan marah mulai menggelegak di dalam dirinya.
Sekolah Shia libur pada hari Sabtu dan Minggu, sehingga dia punya banyak waktu luang selama dua hari ini untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah yang menumpuk, dan mungkin menemui Felicia di rumahnya yang bisa ditempuh dengan angkot. Dia butuh seseorang untuk diajak bicara, dan menurutnya Felicia adalah orang yang tepat. Mereka bersekolah di tempat yang sama mulai SD hingga SMP, namun ketika SMA Felicia memilih untuk masuk SMA Katolik, alih-alih bersekolah di tempat yang sama dengan Shia. Meski sekolah mereka berjauhan, Shia dan Felicia tetap menyempatkan untuk bertemu setidaknya seminggu sekali. Kadang mereka saling menginap di rumah satu sama lain setiap akhir pekan.
“Ma, aku nanti mau ke rumah Feli,” ucap Shia sambil menyimpan sisa sarapannya ke dalam kotak makan di dapur. Di rumah ini tidak boleh ada makanan yang terbuang. Shia terbiasa menyimpan makanannya yang tidak habis untuk dimakan kembali nanti. Mama Shia mengangkat alisnya mendengar pernyataan tersebut.
“Zed mau ke sini lho, Shi,” ucap Mama Shia sambil terus melanjutkan mencuci piring. Shia meletakkan piring kotornya di samping Mama seraya memicingkan mata.
“Lho, kok tumben?” Shia ingin mengatakan lebih banyak pertanyaan dari sekadar itu, ingin meluapkan segala pikiran yang membebaninya. Namun, ia berusaha untuk menahan diri agar Mama tidak menuduhnya sedang berada dalam fase-fase pemberontakan remaja. Zidni hampir tidak pernah pergi ke rumah Shia seorang diri, murni didasari keinginan untuk bersosialisasi. Setiap kali Zidni ke rumah mereka, biasanya bersama dengan Tante Amalia. Itupun seringnya dia menunggu di luar, duduk di atas jok motor bututnya sambil membaca buku. Kadang ia mengantarkan jahitan baju ke rumah, tetapi tidak pernah mampir ke dalam meski dipaksa Mama Shia. Ketika mengetahui kalau Zidni mau ke rumah mereka dengan sukarela, Shia jadi berpikiran yang macam-macam tentang cowok itu.
“Dia mau ngomong langsung sama kamu.” Mama selesai mencuci piring dan sedang mengeringkan tangan di serbet gantung dekat wastafel. “Kemarin kamu mungkin dengar dari Ivy tentang rencana Tante Amel. Tapi, Mama nggak langsung menerima tawaran itu, kok. Makanya Mama minta ke Tante Amel biar kalian berdua sendiri yang ngomong.”
“Tentang perjodohan itu?” Shia mengangkat kedua alisnya. Tidak ada jawaban dari Mama. “Pertama, Mama nggak mau tanya dulu gitu, apa aku ada pacar atau enggak, kok langsung main jodoh-jodohan?” Shia mendengkus kesal. Segala emosi yang tersimpan di dalam hatinya menggantung rendah di ujung lidah, siap untuk dilontarkan. “Kedua, Zidni ‘kan pacaran sama Varya, sejak kami masih kecil sekalipun. Aku nggak mau jadi perusak hubungan orang.”
“Shia, Zidni sama Varya tuh cuma temen.”
Mama terkekeh mendengar pernyataan Shia, seolah yang dia katakan hanya permainan masa kanak-kanak mereka. Mungkin benar orang dewasa pada saat itu tidak terlalu serius menganggap kedekatan Zidni dan Varya hanya sebagai teman belaka. Namun, Shia tahu betul jika mereka tidak hanya sekadar teman. Terlebih, ketika dia melihat sendiri Zidni dan Varya diam-diam berjanji untuk selalu bersama hingga tua.
Terdengar suara ketukan di depan pintu rumah. Mama Shia buru-buru beranjak ke ruang depan untuk membukakan pintu, sementara Shia berlari ke kamarnya. Ia tidak ingin menemui Zidni hari ini, jadi dia harus buru-buru mengambil tindakan. Shia mencari ponselnya yang tersimpan di bawah bantal lalu menghubungi nomor Felicia meski pulsanya pas-pasan. Mengirim SMS pada Felicia sepagi ini tentu bukan pilihan terbaik, di saat dia tahu jika Felicia selalu bangun siang setiap hari libur.
“Ada apa?” tanya Felicia dari seberang telepon dengan suara sengau. Benar, ‘kan, Felicia baru bangun karena Shia meneleponnya.
“Aku mau ke rumahmu sekarang.” Shia memasukkan buku-buku PR-nya yang sudah ia persiapkan sejak semalam ke dalam ransel, lalu berlari membuka lemari dan menjejalkan beberapa potong pakaian juga untuk berjaga-jaga jika dia harus menginap ke rumah Felicia.
“Sekarang?” tanya Felicia. Setidaknya kini dia sudah lebih terjaga dari sebelumnya. “Ada apa?”
Shia menggertakkan giginya, “Aku bakal cerita nanti. Nggak cukup pulsanya. Udah ya, nanti bukain pintu kalau aku SMS udah di depan.”
“Oke, oke. Hati-hati.”
Shia mengakhiri panggilan telepon tersebut, lalu melanjutkan berkemas. Ia menarik jaket yang tergantung di belakang pintu setelah mengganti pakaian rumah dengan celana denim dan kaus bergambar My Chemical Romance, band kesukaannya. Shia mengambil celengan yang ia sembunyikan di balik meja belajar dan mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan dua puluh ribu, lalu menyimpan di dalam kantong depan ransel. Shia buru-buru turun dan dia berpapasan dengan Zidni di ruang tengah. Zidni masih memakai seragam sekolah. Anak SMK tidak libur pada hari Sabtu, tetapi dia mungkin masuk agak siang karena sekarang sudah jam tujuh lebih, tetapi tidak ada tanda-tanda Zidni tampak terburu-buru masuk sekolah.
Sejak masuk SMA, Shia tidak lagi mengukur berapa senti selisih tinggi badan mereka, karena di samping mereka tidak lagi rutin berpartisipasi dalam acara reuni tahunan para orang tua, jarak di antara Shia dan Zidni menjadi semakin jauh karena keberadaan Varya. Namun, Zidni yang berdiri di hadapan Shia kini nyaris bukan seperti Zidni yang Shia kenal. Shia bukan orang yang pendek. Dibandingkan Ivy yang 168 senti atau Felicia yang 172 senti, mungkin dia terlihat mungil. Tetapi dengan tinggi 164 senti, Shia tentu mengungguli Varya yang hanya 157 senti. Tetapi Zidni, mungkin tinggi Zidni sekarang sekitar 175-an.
“Kaneishia mau ke mana?” tanya Zidni. Di antara semua orang yang Shia kenal, hanya Zidni yang memanggilnya dengan nama lengkap, sejak dia mengetahui nama lengkap Shia. Zidni bahkan tidak memanggil Varya dengan Avaryana, tetapi dia memanggil Shia dengan Kaneishia.
“Apa urusanmu?” jawab Shia ketus. Menyadari Zidni menjinjing tas bepergian pada satu tangan serta ransel di punggung, membuat Shia jadi ingin balas bertanya. “Kamu sendiri ngapain ke sini?”
Zidni meletakkan tas jinjingnya di lantai lalu mengamati penampilan Shia dari atas ke bawah. “Mau aku antar?” tawarnya. Shia memutar bola matanya dengan geram. Zidni jarang bicara banyak padanya, jadi cukup mengherankan mendengar tawaran tersebut darinya.
“Nggak usah, aku mau ke rumah Feli. Mau belajar kelompok.” Shia menunjuk ranselnya.
Zidni mengangkat kedua alis dengan heran. “Bukannya kalian nggak satu SMA?”
“Emangnya kalau nggak satu SMA, pelajarannya beda?” tantang Shia tidak mau kalah. Dari arah depan, Mama Shia muncul sambil membawa seikat kangkung dan sawi putih, sepertinya dibeli dari penjual sayur keliling yang biasa lewat di komplek rumah mereka.
“Shia mau ke mana?” tanya Mama Shia heran. Beliau tentu menyadari jika Shia dan Zidni sedang berdebat, jika dilihat dari gestur keduanya yang tampak waspada.
“Mau ke rumah Feli. Aku tadi ‘kan udah bilang.” Shia beranjak ke teras untuk memakai sepatu.
“Jangan lama-lama mainnya,” tutur Mama. “Malam ini Zidni nginep, pulangnya besok Minggu.”
Shia belum pernah merasa semujur ini karena dia memasukkan dua potong pakaian ganti ke dalam ranselnya. Sambil mengulas senyum penuh kemenangan, Shia membalas, “Wah, padahal aku mau nginep di rumah Feli, tuh.”
Tanpa menunggu balasan dari Mama maupun Zidni, Shia berlari keluar pagar rumah, lalu berjalan cepat menuju depan komplek untuk naik angkot.