bc

Match Made in Heaven

book_age16+
583
IKUTI
2.1K
BACA
arranged marriage
kickass heroine
independent
drama
bxg
campus
highschool
childhood crush
coming of age
enimies to lovers
like
intro-logo
Uraian

Shia dan Zidni tidak menyukai keberadaan satu sama lain. Zidni merasa jika Shia selalu mengganggu kekasihnya Varya, sejak mereka kecil. Sedangkan Shia merasa Zidni tidak adil karena dia selalu membela Varya yang suka play victim padahal dia duluan yang cari masalah dengannya.

Saat mereka duduk di bangku SMA, orang tua Zidni mengalami PHK hingga mereka dengan terpaksa meminjam uang pada orang tua Shia dengan jaminan menjodohkan Zidni dengan Shia. Shia dan Zidni tidak setuju dengan rencana itu. Shia bahkan meminta teman sekelasnya Himeka untuk berpura-pura jadi pacar demi menjauhkan Zidni darinya. Varya juga merasa jika Shia telah merebut Zidni, karena perjodohan itu membuat mereka terpaksa putus.

Seiring bertambahnya usia mereka, Shia dan Zidni yang semula saling bermusuhan, lama-lama jadi melunak. Masalah datang dari Himeka, teman sekelas Shia di SMA, yang kembali hadir, kali ini untuk merebut Shia dari Zidni.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAGIAN SATU: Latihan yang Tertunda
Sekarang, tahun 2009 “Depan Apotek Podo Joyo kiri, Pak.” Shia meninggikan suara ketika angkot yang ditumpanginya sudah dekat rumah. Ia turun dari angkot setelah membayar tiga ribu rupiah, sesuai tarif anak sekolah. Hari Jumat sore ini Shia pulang lebih awal dari biasanya. Jam belajar mengajar mungkin berakhir jam 11 siang sebelum Jumatan, tetapi Shia ada beberapa kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang membuatnya pulang sekolah menjelang Magrib. Namun, sore ini Shia pulang lebih awal karena jadwal ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja ditiadakan, sehingga setelah latihan rutin Paduan Suara, Shia langsung kembali ke rumah. Dari depan Apotek Podo Joyo Shia berjalan kaki sekitar seratus meter menuju gerbang komplek perumahan Graha Persada, lalu dari sana, masuk beberapa blok lagi menuju tempatnya tinggal. Sepanjang perjalanan menuju perumahan, Shia melewati beberapa penjual makanan kaki lima yang mulai menata dagangannya. Jalan depan komplek tersebut memang cukup ramai dipadati pedagang setiap malam. Shia jadi tidak perlu repot-repot mencari makanan setiap kali mamanya sedang tidak masak, atau makanan di rumah sudah habis. Tinggal jalan sebentar ke depan, lalu dia bisa membawa pulang sate ayam satu porsi, satu kantong gorengan yang bisa dibeli dengan uang lima ribu rupiah saja, serta sebungkus cilok. Shia sampai di rumahnya sekitar sepuluh menit kemudian. Waktu Shia tiba, pintu pagar rumah terbuka lebar dan ada satu motor yang tidak dia kenal terparkir di emper garasi. Sepertinya Mama sedang kedatangan tamu, jadi Shia masuk lewat pintu samping yang berada tepat di samping dapur. Dari arah dapur, Shia bisa melihat jelas adiknya Ivy sedang mengintip ke ruang tamu dari balik dinding ruang tengah. Ia menghampiri Ivy dengan langkah mengendap-endap seperti maling, lalu menggertak keras, meski tidak cukup keras hingga bisa terdengar oleh tamu mereka di ruang depan. “Kak Shia!” seru Ivy geram. “Ngapain sih pake ngagetin segala?” Shia terkekeh, “Lah habisnya kamu pake ngintip-ngintip segala. Emang ada gosip ibu-ibu apa lagi yang lagi seru?” Ivy mungkin hanya tiga tahun lebih muda dari Shia. Sekarang dia masih SMP kelas 8. Namun, pengetahuannya tentang gosip terpanas antara ibu-ibu kompleks atau paguyuban ibu-ibu manapun yang Mama mereka datangi, selalu yang termutakhir. Seperti misalnya, Bu Santika yang tinggal di rumah nomor 7 memiliki anak di luar nikah dengan pernikahannya terdahulu yang diam-diam dititipkannya di rumah saudara jauh. Atau Bu Belinda yang tinggal di rumah nomor 12 diduga dulunya laki-laki, makanya meski telah menikah dengan Pak Candra selama lebih dari 10 tahun, mereka tidak kunjung dikaruniai keturunan. Terkadang gosip-gosip tersebut terdengar cukup jahat di telinga Shia, meski dia baru berusia 17 tahun. Ia bahkan sedikit heran ketika Ivy yang jauh lebih muda darinya memahami beberapa referensi tentang kehidupan orang dewasa di setiap obrolan tersebut. “Kak Shia nggak asyik, ah!” Ivy memberengut kesal. “Padahal ini yang lagi diomongin ada sangkut pautnya sama nasib Kak Shia, lho.” “Ivy, Shia. Kalian ngapain di sini?” Mama Shia tiba-tiba muncul di ruang tengah sambil berkacak pinggang. Shia hanya mengangkat bahu sambil diam-diam menunjuk Ivy dengan pergerakan bola matanya. “Shia, ganti baju dulu, mandi atau apa gitu. Pulang sekolah kok bukannya beres-beres malah nguping.” Mama berjongkok agar pandangan matanya sejajar dengan Ivy. “Ivy juga. Mama udah bilang berapa kali kalau nggak baik nguping omongan orang dewasa. Sebagian besar yang kamu dengar itu nggak bener. Lagipula, kamu juga terlalu muda untuk bisa mencerna semua kejadian itu.” “Jadi, rencana perjodohan Kak Shia sama Mas Zed juga bohongan, Ma?” tanya Ivy dengan polosnya. Jantung Shia seperti melompati satu denyutan ketika mendengar hal tersebut. Perjodohan? Apanya yang mau dijodohkan? Shia saling bertukar pandangan dengan Mama, mencoba mencari tahu kebenaran dari sorot mata Mama, namun Mama malah memalingkan wajah dan kembali fokus untuk menegur Ivy. Shia mengintip ke balik tembok ruang tengah untuk mencari tahu siapa tamu Mama. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan dan telapak kaki Shia ketika melihat Tante Amalia dan Om Yoga di sana. Shia mundur beberapa langkah, membalikkan badan dengan cepat, lalu berlari ke kamarnya. Dia? Zidni? Perjodohan? Bentar, bentar, dia perlu mencerna semuanya dengan saksama terlebih dahulu. Jika Shia mau bicara tentang Zidni, berarti dia juga akan bicara tentang bagaimana orang tua Zidni dan orang tuanya berteman akrab sejak SMA hingga setua ini, dan kelompok pertemanan mereka rutin mengadakan acara reuni tahunan berbarengan dengan acara halalbihalal. Mama dan Papa Shia dulunya adalah school couple alias pasangan sekolah. Mereka sudah pacaran sejak SMA, dan jika mereka sampai menikah sekitar delapan tahun kemudian dari hari itu, orang-orang di sekitar mereka pun menganggap ini sebagai hal yang wajar dan sudah seharusnya. Namun, tidak demikian dengan teman-teman mereka dalam satu kelompok. Ada delapan orang dewasa yang selalu hadir di setiap acara reuni. Mama dan Papa Shia yang sudah pacaran sejak SMA, lalu orang tua Zidni, Tante Amalia dan Om Yoga, meski Om Yoga bukan lulusan dari SMA yang sama, tetapi beliau hadir di sana sebagai suami Tante Amalia yang sahabat karib Mama Shia. Ada juga Tante Diana, mamanya Felicia. Kalau Felicia sih, bestie-nya Shia. Dulu, mereka bertiga ini bestie banget, bahkan ketika Tante Amalia hamil, Mama Shia juga ikut hamil, dan menyusul Tante Diana beberapa bulan kemudian. Kok bisa ya, ada orang hamil yang nular begitu? Sampai sekarang Shia masih tidak tahu apa penyebabnya. Tetapi, yang dia tahu, di antara dirinya, Felicia dan Zidni, Zidni-lah yang paling tua. Dia lahir sekitar empat bulan sebelum Shia, lalu Shia lahir, dan Felicia menyusul lahir sekitar setengah tahun kemudian. Usia mereka mungkin berdekatan, tetapi Felicia setahun di bawah Shia ketika mereka masuk sekolah. Lalu, ada Om Guntoro, papanya Rangga. Dia bestie-nya Papa Shia. Mama Rangga meninggal ketika melahirkan Rangga karena komplikasi, sehingga Rangga besar tanpa sosok ibu. Om Guntoro pun juga begitu setia pada almarhumah istrinya, sehingga beliau tidak menikah lagi dan fokus untuk membesarkan Rangga. Terkadang, Mama Shia membantu mengasuh Rangga ketika Om Guntoro ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, dan Rangga perlu dititipkan pada seseorang. Rangga dan Ivy seumuran, hanya beda beberapa bulan saja. Om Guntoro bekerja sebagai dokter spesialis bedah di salah satu rumah sakit pendidikan di kota mereka, jadi wajar jika pekerjaan beliau mengharuskannya untuk tetap siaga jika ada panggilan darurat. Dan yang terakhir di kelompok reuni ini ada Om Danur dan Tante Ira. Sama seperti orang tua Zidni, di sini Tante Ira datang ke acara-acara reuni yang diadakan karena beliau istri dari Om Danur. Mereka memiliki dua orang anak, Kak Rafa yang lebih tua 5 tahun dari Shia dan Varya yang sebaya dengannya. Seperti halnya ketika para ibu-ibu janjian hamil, Tante Ira pun sedang hamil Varya. Tetapi, mungkin karena dia bisa dianggap seperti orang luar karena tidak satu sekolah dengan Mama Shia, Tante Diana dan Tante Amalia saat SMA, jadi Tante Ira jarang muncul di foto-foto kebersamaan klub ibu hamil ini. Mungkin itu sebabnya Shia juga tidak terlalu akrab dengan Varya. Justru, Varya dekat sekali dengan Zidni, dan bisa dibilang dialah alasan mengapa Shia tidak bisa dekat dengan Zidni, sebagaimana mamanya dekat dengan Tante Amalia. Shia merebahkan tubuhnya di ranjang setelah mengganti seragam dengan pakaian rumah. Seharusnya sore ini dia masih ada di klub Karya Ilmiah Remaja dan membuat proyek penelitian kecil-kecilan dengan teman sekelompoknya yang lain, jadi dia tidak harus kepikiran tentang Tante Amalia dan Zidni seperti ini. Mungkin saja rencana perjodohan itu cuma omong kosong. Mungkin Ivy bohong atau salah dengar. Segala kemungkinan lain berbondong-bondong mengisi pikiran Shia, mencoba memberikan dirinya sendiri alasan logis mengapa dia dan Zidni sama sekali nggak cocok dipersatukan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hati Yang Tersakiti

read
8.3K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
1.5K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.0K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.4K
bc

I Love You Dad

read
297.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook