Seminggu setelah kejadian malam di Bali, tidak ada keakraban seperti dulu antara Rini dan Dian. Pembicaraan mereka hanya sekedar tentang pekerjaan. Tidak ada canda-canda di sela waktu kerja, obrolan-obrolan kecil atau sekedar ajakan makan siang. Bahkan rasanya lebih buruk dari orang yang baru pertama kenal. Cleeekk! Dian membuka pintu toilet. Bergema suara kunci karena sepi sekali. Toilet yang cukup besar di lantai tujuh. Terhenti langkahnya melihat Rini duduk di depan cermin sedang asik memoles wajah. Perlahan Dian menghampiri "Riiin....." Dian duduk disampingnya. Rini acuh tidak menjawab, terus lanjut menebalkan alis. "Rin, kamu marah ? Aku salah apa ?" Rini berhenti menggarisi alis, dia melirik sinis sambil menjawab "Diajak clubbing ga mau, taunya malah mojo

