THE MEETINGS

1826 Kata
        Biru luas tanpa batas terhampar di depan mata. Gulunggan ombak tinggi dari kejauhan menghantam tebing. Langit mulai menampakkan garis kuning cakrawala senja.         Jacuzzi, kolam kecil berisikan runtuhan kelopak mawar menggeliat terebus air hangat. Dian melepas bathrobe lalu perlahan membiarkan tubuhnya menikmati air hangat berhiaskan bunga-bunga mawar. Sungguh, tenang !!! Dian bersandar sambil memainkan cipratan air dan bersenandung kecil. "iih, kok nggak ajak-ajak sih !" Rini datang bernada agak kesal. Dia melepas bathrobe lalu ikut menikamati air hangat di dalam Jacuzzi. Rini selalu datang mengacaukan suasana. "Duh, akhirnya bisa bebas juga yaa sampai besok !" seru Rini mencoba mengajak Dian mengobrol. "iyah !" jawab Dian dingin.         Dua hari berturut-turut mereka mengadakan meeting di resort milik perusahaan di Bali. Sudah rutinitas setiap tahun meeting ini diadakan. Terbayang betapa lelahnya mereka duduk seharian mendengar presentasi, menyiapkan keperluan bos-bos besar, dan termasuk menyiapkan keperluan bos Gilang, si manusia perfecsionist. "iih, ga usah jutek gitu deh iiaan ! Aku juga capek sih, tapi yaudahlah nikmati ajah selagi gratis" Rini bergeser ke depan lalu menyandarkan dagunya ke balkon. "Riin, awas jatuh ! Jangan terlalu maju" tegur Dian. "enggak kok, ini aman. Sini, sini, sebentar lagi sunset" Dian ikut bergeser ke depan balkon.         Mereka memandang kagum melihat garis matahari terbenam setengah lingkaran di hadapan mereka. Langit orange bercampur merah muda memantulkan cahaya diatas air laut. "itu, samudera hindia. Luas banget yaa !" Rini menunjuk laut di hadapan mereka. "ooh, itu samudera hindia ? keren banget !" seru Dian. Matanya masih menatap kagum laut biru. "iyaah, jadi kalau mau ke Australi, kamu bisa berenang ajah dari sini. Hahaha" canda Rini. "ah kamu bisa ajah ! Dimakan hiu nanti" Dian ikut tertawa. "Eh Rin, aku boleh tanya-tanya nggak ?" Dian ingin bertanya serius. "tanya ajah !" "Uhm, sebenarnya Adit siapanya kamu sih ?" Dian penasaran. "Duh, kamu masa lupa sih ! Dia itu teman aku, senior kampus dua tahun di atas aku" jelas Rini bernada santai sambil menggosok-gosok lengan tanganya. "beneran, cuma teman ?" "Iyaah, Diaan. Aku sama dia, pure cuma teman" "apa kamu nggak punya perasaan sama sekali sama Adit ?" lanjut Dian makin mengintrogasi.         Alis mata Rini naik sebelah, dahinya mengkerut "kamu kok jadi curiga gitu ? Kan aku yang kenalin ke kamu, masa aku mau ngerebut dia sih ?"  Dian diam tertunduk lalu berpikir. Terkadang ada benarnya, untuk apa Rini memberi tapi diambil lagi ? "Uhm, apa kamu pernah ada rasa sama Adit ?" Dian semakin memberanikan diri bertanya. "rasa ??? Enggak tuh, kita fine fine ajah sebagai teman" jelas Rini sambil meraup runtuhan mawar.         Dian tertunduk lesu lagi, meski pertanyaan itu terjawab tapi masih ada yang mengganjal di lubuk hatinya. "Diaaan....." Rini merangkul bahunya. "Adit sedang berusaha memiliki kamu selamanya, kamu harus percaya" jelas Rini tersenyum. Dian menghelakan nafas lalu berusaha tersenyum. "Iyah !" Dreeet.....dreeet.....handphone Rini bergetar di samping jacuzzi. "eh, kamu bawa handphone ?" Dian terkejut. "iyah, sebentar yaa" Rini menepi meraih handphone. Dilihatnya panggilan video call w******p. "haaay Adiiit !" Rini melambaikan tangan. Loh, kok Adit video call Rini ? Kenapa diangkat ? Mereka sedang pakai bikini.         Adit dan Rini saling bertegur sapa akrab. Sementara Dian semakin menepi merasa terbuang. Sejak tadi siang tidak ada kabar, w******p pun tidak di balas. Kenapa tiba-tiba malah video call Rini ? "Niiih, pacar kamu niiih lagi ngambek tuuh!" Rini menyorotkan kameranya ke Dian. Dian merendahkan tubuhnya hingga sebahu. Dia malu, tidak ingin dadanya terlihat. "Iih, kok kamu jadi pendek sih ?" canda Rini. "Haay, sayang kamu kok gitu ?" sapa Adit. "Uhm, enggak kok ! Nggak apa-apa" jawab Dian gugup. "Inih, dia cemburu sama kita Dit !" celetuk Rini. "Tuh kan, kamu ngambekin itu lagi kan ?" tegur Adit bernada halus. "Yaa kamu sih, nggak balas wa aku" "maaf, aku baru dapat sinyal disini. Tadi aku telepon kamu ga diangkat, jadi aku telepon Rini ajah" ujar Adit lalu menceruput secangkir kopi.         Dia sedang berada di pingir sungai besar menikmati secangkir kopi sambil memandang matahari terbenam. Hari ini tepat tiga bulan mereka menjalani long distance relationship. Adit dipindah tugaskan ke Kalimantan, mengawasi proyek perusahaan. Penghasilan dan jabatan yang menjanjikan membuat Adit tergiur menerimanya. "Sabar yaa sayang, nanti aku pasti bawa kamu ke sini !" "Iyaah ? Janji loh yaa" Dian tersenyum. "Eh helooo, udah belum sih ? Nanti kan bisa yaa ngobrolnya!" ujar Rini sambil memegang handphonenya. Gara-gara Dian malu terlihat dadanya, Rini rela memegang handphone selama mereka bicara. "Kayaknya ada yang marah tuh !" Canda Adit. "Iyah, aku marah. Udah yaa, pokoknya tenang ajah ! Dian aman sama aku" balas Rini bercanda seraya pamit mengakhiri video call. Dian meringis sambil melambaikan tangan di belakang Rini.         Buang jauh-jauh rasa curiga ! Buang jauh-jauh prasangka ! Karena prasangka itu, hanya membuat ribut, ribut dan ribut.         Apalah daya Dian, perempuan lugu yang sering menjaga jarak dari laki-laki, dan menjauh dari sekelompok perempuan popular di kantor.         Yaa memang, pertemanan dikalangan karyawan popular antara laki-laki dan perempuan tidak bisa dibedakan, mana hubungan spesial, mana hanya berteman. Sudahlah Dian, cukup percaya dan jalani ! ********         Deburan ombak menggulung ketepian pantai menarik butiran pasir. Cahaya rembulan bersinar terang ditemani gemerlap bintang-bintang di atas langit.         Semilir angin bertiup menggoyahkan api lilin di atas meja makan. Sendok gula berputar-putar di dalam secangkir kopi hitam. Dian duduk bersandar di sofa menghadap pantai. Dia termenung sendiri di sebuah balkon restoran hotel. Sesekali Dian menceruput kopi hangat memandang tebing-tebing tinggi disekeliling pantai. "Dian ?" sapa suara dibelakangnya.         Sontak membuyar lamunan Dian, dia menoleh ke belakang. Dilihatnya Gilang berpakaian santai memegang secangkir capucino ditangan. Gilang duduk di samping Dian lalu menaruh cangkirnya ke atas meja. "loh, kamu minum kopi hitam malam-malam ?" tegur Gilang heran. "iyah" jawab Dian singkat. "nanti susah tidur loh !" "enggak kok, sudah biasa" Dian tersenyum sambil mengaduk kopi.         Aaduh, senyum itu ! Muncul lagi. Senyum membungkam seribu bahasa dan membuat sekujur badan kaku. Dian memakai setelan piyama dilapisi cardigan, wajahnya polos tanpa make up, rambut tebal lurus sebahu sudah memanjang lima centi. "eehmm.....kamu nggak ikut clubbing sama anak-anak yang lain ?" tanya Gilang basa-basi. "enggak Pak, disini ajah lebih tenang" Dian tersenyum lagi. "Bapak nggak ikutan ?" lanjut Dian bertanya. "Bapak ???" "Eh, maksudnya Gilang" Dian tertawa. "Nah, gitu dong ! Masa lupa sih, kita kan seumuran" ikut tertawa. "kok kamu nggak ikut clubbing ?" lanjut Dian bertanya. "enggak, lagi nggak mood. Lagi mau santai-santai ajah" Gilang bersandar di sofa. "Apa kamu emang nggak suka tempat seperti itu ya ?" lanjut Gilang bertanya. "iyah, nggak suka. Ramai, berisik, banyak asap rokok" Dian tertunduk sambil mengaduk kopi.         Tubuh kecil, wajah pucat polos serta bibir tipis Dian memikat pandangan Gilang dihadapanya. Sejenak Gilang menarik nafas mengumpulkan keberanian membuang rasa gugup.         Saat ini, Dian milik orang lain. Meski Gilang yang mendekatinya lebih dulu, tapi kenapa Dian tidak peka ? Kenapa dia memilih Adit, si lelaki biasa itu ? Gilang menatap Dian penuh harap. Bola matanya berkaca-kaca, pipinya pun memerah. "Dian, kamu masih berhubungan sama Adit ?" Gilang mulai mengulik. "masih kok" Dian menceruput kopi. "Ooh gitu, kok dia jarang kelihatan ya ?" "Iyah, sekarang dia di Kalimantan. Mengawasi project di sana" jelas Dian sambil menaruh cangkir kopi ke atas meja. Tatapan matanya kosong memandang hamparan pantai di depanya.         Segaris senyum sinis tergambar di wajah Gilang. "sudah tau Dian, aku membuangnya ke Borneo !" ujar Gilang dalam hati merasa menang. Dia menyarankan Pak Anton agar Adit menjadi pengawas di Kalimantan dengan masa jabatan tiga tahun bahkan kalau bisa selamanya di sana. "Uhm, aku nggak ganggu kamu kan ? Kamu murung gitu" lanjut GIlang bertanya. "enggak kok, aku lagi bingung ajah" "bingungnya ? Jangan pikir soal kerjaan dulu, masih banyak waktu" Gilang memeluk bantal kecil di sofa. "Gilang, soal pertemanan Rini dan Adit, kok aku malah makin curiga ya ?" Dian tak tahan, mengungkapkan kegusaran dalam hatinya. "curiganya ?" tanya Gilang, duduk mendekat.         Dian pun menceritakan soal kelakuan Adit yang mulai cuek sejak dipindahkan ke Kalimantan. Mulai jarang menelpon apalagi sekedar menyapa di w******p. Alasanya mulai dari sibuk, tidak ada sinyal dan masih banyak lagi. Ditambah, Adit lebih sering berkomunikasi ke Rini daripada Dian.         Sampai saat ini, niat bicara serius untuk menikah hanya wacana belaka. Sabar, berpikir positif,     melupakan sejenak, cuma itu yang bisa Dian lakukan. Gilang diam terpana melihat wajah kosong Dian. "Yes, yes, yess !!!" ungkap Gilang dalam hati kegirangan. "aku harus gimana ya ?" Dian menunduk menahan air mata. "Uhm, kamu butuh hiburan ajah Dian ! Kadang relantionship itu ada titik jenuhnya" "Iyah, mungkin ! ...... Oh iyah, kamu nggak naik vespa lagi ke kantor ?" "uhhhm, males ah, nggak ada yang nemenin" menyilang kedua kakinya ke atas sofa.         Dian tersenyum melihat tingkah Gilang seperti anak kecil. Duuh, yang biasanya reseh, ngoceh melulu, asal ngomong, kok malah begajulan begini ya ? "aku sering meeting ke sana, ke sini, yaa masa aku bawa vespa sih ? Nggak kece dong ! Hahah" lanjut Gilang bercanda. Mereka pun larut dalam obrolan dan sekedar candaan kecil. Terpancar raut wajah kekaguman diantara mereka.         Sejenak Gilang terdiam menatap Dian yang sedang bicara. Bibir kecil itu terus bergerak menggodanya. Seakan terhipnotis, Gilang perlahan mendekat lalu membelai lembut rambut Dian. Cuuupp!!! Sebuah tap bibir meluncur cepat dibibir mungil Dian. Wajahnya memerah ranum, tertunduk salah tingkah. Jatungnya berdebar kencang, "apa ini ? Kenapa dia tiba-tiba menciumku ?" Dian memegang bibirnya. "Uuhm....maaf, aku lepas kendali !" Gilang jadi salah tingkah.         Bodoh Gilang ! Ingat, dia bukan perempuan agresif yang kalau dicium langsung dibalas bertubi-tubi. Aduh, jadi salah langkah ! Bisa-bisa dia marah. "Eeehhmmm....maaf Pak, lain kali jangan diulangi !" Dian masih tertunduk, enggan menatap wajah Gilang. "Pak ???" "Eh, maksudnya Gilang" tegas Dian kembali mengangkat kepalanya. "Uhm, permisi Pak !" sapa Rini tiba-tiba datang dari samping. Dia berdiri kaku sambil meringis di samping sofa. "Ooh iyah ! Ada apa Rin ?" Gilang sontak terkejut, ada orang terdekat tahu. "maaf Pak, saya mau minta kunci kamar !" Rini salah tingkah. "Diaan, ...." Rini membuka telapak tanganya.         Dian pun gugup seketika melihat Rini tiba-tiba ada di samping sofa. Dia meraba-raba saku sweaternya mencari kunci kamar. Tanganya bergemetar memegang kartu, dia mengulurkan tangan tanpa ada sepatah katapun. "Makasih, yaa. Lanjut ajah, lanjut...!" Rini meringis sambil berjalan mundur lalu pergi menghilang.         Gilang makin tersenyum sinis. Rini pasti akan bercerita ke Adit. Setelah itu, mereka saling berseteru dan putus !!!         Sementara Dian kebingungan, entah apa yang harus dia katakan nanti. Mau dibilang apapun, Dian memang diposisi yang salah. Tidak semestinya mereka duduk santai hanya berdua. Dian membisu murung. Dia hanya bisa membelai kusut rambutnya berulang-ulang kali. Dia berpikir, harus bilang apa kalau Rini si perempuan kepo itu bertanya detail. "kenapa ?" tanya Gilang tersenyum. "Oh, enggak kok, enggak !" jawab Dian berusaha menenangkan diri.         Gilang membelai sehelai rambut Dian dari ujung kepala. Tatap matanya penuh harap berkata "tenang, ada aku !" tersenyum manis.         Dian terpaku memandang senyum manis di wajah Gilang. Wajah yang biasa murung dan moody seperti iblis berubah menjadi malaikat pelindung. "aku menginginkanmu, Dian !" mengecup kening Dian. Dian diam. Shock berat, tidak bisa berkata-kata. Ingin rasanya membangkang melawan, namun luluh sendiri. Gilang, kamu berhasil membuat Dian membisu malam ini. Gilang bukanlah pecundang lagi. *********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN