"Ma aku mau pindah sekolah, boleh ya?" mohon gadis itu kepada ibunya.
"Nggak ada pindah-pindahan, kamu bakal tetep sekolah di SMA kamu! Nggak usah pindah," tolak Dinda sang ibu.
"Ih Mama aku kan pengen pindah, kalo nggak di pindahin aku nggak mau makan sebulan!" ucap gadis itu dengan nada kesal.
"Yaudah Mama juga enak, nggak usah masakin kamu sebulan," balas Dinda yang menganggap ucapan anaknya sebagai lelucon.
"Serah Mama." Lalu gadis itu pergi meninggalkan kamar orang tuanya dan kembali ke kamarnya.
"Lea!" panggil Dinda namun tak dihiraukan oleh gadis tersebut.
Allea Alison
Panggi saja dia Lea, Anak tunggal dari Dinda dan Alison. Memiliki rambut panjang, bulu mata melentik dan bibir tipis yang membuat senyumnya terlihat semakin manis.
"Mama nyebelin banget sih," kesal Lea setelah sampai didalam kamarnya.
Drrt drrt
Ponsel Lea berdering diatas nakasnya. Gadis dengan rambut setahu itu langsung menggapai ponselnya dan mengangkat sambungan telepon tersebut.
"Halo Lea, lo jadi nggak pindah ke sekolah gue?" tanya orang dari seberang sana.
"Mama gue ngelarang gue pindah Lin," balas Lea lesu kepada Alin sahabatnya.
Lea dan Alin sudah bersahabat dari bangku SD, namun mereka harus berpisah lantaran beda SMA.
"Lo paksa gitu nyokap lo biar bisa pindah."
"Udah gue cobak tadi, sampe gue bilang nggak mau makan sebulan. Tapi Mama gue tetep nggak ngizinin gue," balas Lea.
"Yah, jadi lo nggak jadi pindah nih," seru Alin kecewa.
"Ya gitu deh," balas Lea tak kalah sedihnya.
"Yaudah gue matiin dulu ya Le, kapan-kapan kita telponan lagi. Bye Lea"
"Bye," balas Lea tak semangat.
Tut
"Pokoknya gue nggak bakal makan sebelum gue pindah sekolah," ucap Lea dengan wajah seriusnya.
****
Tiga hari kemudian...
"Sayang bukain pintunya, sekarang kamu makan," panggil Dinda khawatir. Ternyata anaknya itu memang benar-benar tidak mau makan.
"Katanya Mama kalo Lea nggak makan, Mama bisa enak karena nggak usah masakin Lea lagi," balas Lea dari dalam kamarnya.
"Sayang maafin Mama ya, Mama kira kamu bercanda," ucap Dinda semakin sedih saat mengingat kata-katanya. Sekarang Lea bukan hanya mogok makan, namun ia juga tidak mau sekolah dan parahnya, gadis itu juga tidak mau keluar dari kamarnya.
"Sayang makan ya, Mama takut kamu kenapa-napa," bujuk Dinda lagi, berharap putrinya akan keluar.
Namun ternyata Lea masih betah didalam kamarnya, membuat wanita itu uring-uringan sendiri.
"Mas, bantuin aku bujuk si Lea keluar," panggil Dinda kepada Alison saat melihat suaminya melintas didepannya.
"Memang kenapa dia?" tanya Alison heran.
"Lea udah nggak makan tiga hari Mas hiks, aku takut dia kenapa-napa," jawab Dinda.
"Lea ini papa sayang," ucap Alison sambil mengetuk pintu tersebut.
"Kamu mau apa nanti Papa belikan, asalakan kamu makan," ucap Alison.
"Lea pengen pindah sekolah Pa, tapi Mama nggak ngizinin," balas Lea.
Alison langsung menatap kearah istrinya.
"Tapi kan bahaya Mas kalo Lea pindah sekolah, Lea harus tinggal dengan siapa," balas Dinda.
"Lebih bahaya mana jika Lea tidak makan terus menerus seperti ini?" tanya Alison.
Dinda pun mengangguk pasrah, ia tidak mau kehilangan Putri satu-satunya.
"Lea, Mama kamu udah setuju. Sekarang kamu buka pintunya ya!" ujar Alison.
"Nggak Papa bohong," balas Lea.
"Nggak sayang, Mama setuju kamu pindah asalkan kamu makan," balas Dinda cepat.
Ceklek
Tiba-tiba Lea keluar dari kamarnya.
"Mama benerankan?" tanya gadis itu.
"Iya sayang Mama setuju," ucap Dinda lalu memeluk erat putrinya.
"Sekarang kamu makan ya sayang, Mama takut kamu sakit."
"Lea memangnya kamu mau pindah ke sekolah mana?" tanya Alison.
"Lea mau sekolah bareng Alin lagi," jawab Lea.
"Oke papa urus surat pindah kamu nanti, dan besok kamu bisa langsung sekolah di sana. Papa bakal belikan apartemen deket sana, jadi kalau ada kegiatan sore kamu nggak kejauhan bolak-baliknya ke sini," balas Alison.
Lea langsung memeluk kedua orang tuanya dengan senang. "Huwaaa Makasih Pa, Makasih ya Ma," ucapnya senang.
"Mama pergi dulu ya, mau nyiapin sarapan buat kamu," ucap Dinda senang lalu pergi dari sana.
"Dasar gadis pembohong!" ucap Alison lalu mencubit hidung Lea dengan gemas.
"Ishh Papa, Lea beneran nggak makan kok," ucap Lea membela karena di katai pembohong oleh ayahnya.
"Terus siapa yang tiap hari mesen makanan dan minta di anter lewat jendela?" tanya Alison.
"Hehehe ketauan deh, tapi kan kalo nggak makan nanti Lea nggak jadi pindah sekolah," jawab Lea.
Sebenarnya Lea bukan benar-benar tidak makan selama tiga hari, namun gadis itu selalu memesan makanan dan menyuruh pelayannya untuk menaruh makan tersebut di jendela, agar ibunya tidak tahu.
"Jangan diulangi!"
"Baik Pah!" ucap Lea tegas dan mengangkat tangannya untuk memberi hormat kepada sang ayah.
****
"Ibu ada info baru buat kalian, dan ini pasti akan membuat kalian senang," ucap Bu Fatna.
"Apaan dah bu, jangan buat kami kepo deh bu!" seru Reza.
"Reza jaga mulut kamu!" tegur bu Fatna.
"Maaf bu, tadi lupa nggak di rem," balas Reza cengengesan.
"Ck kamu ini." Fatna memaklumi perlakuan Reza yang minim ahlaknya. "Baik agar tidak lama-lama kita panggil siswi nya langsung," ucap bu Fatna dan wanit itu pergi keluar sebentar untuk memenggil seorang siswi.
Bu Fatna kembali masuk dengan menggandeng murid baru. "Sekolah ini kedatangan murid baru, ayo sayang perkenalkan dirimu kamu!" Suruh bu Fatna kepada gadis disampingnya.
Semua murid penasaran dengan wajah sang murid baru, pasalnya siswi itu terus saja menunduk.
"Hai kenalin nama gue Allea Alison, kalian bisa panggil gue Lea," ucap Lea setelah mengangkat pandangannya.
"Wih Bening banget neng!" seru Reza.
"Sorry ya gue bukan air," balas Lea.
"Wih bar-bar juga tuh cewek," heboh Reza.
"Lea wah lo parah Le, lo katanya nggak jadi pindah. Tapi nggak papa sih gue seneng lo pindah," seru Alin.
"Eh lo kutu beras! Bisa diem nggak?" sarkas Fino kepada Alin.
"Eh apaan lo, terserah gue dong. Orang mulut-mulut gue," balas Alin kesal.
"Udah kalian jangan bertengkar, disini masih ada ibu. Sekarang Lea kamu duduk di--" ucapan bu Fatna menggantung saat sudah tidak melihat bangku kosong lagi.
"Disini aja bu, eh lo Dev pergi kek! Nanti gue beliin bakso kang Mamang deh," sogok Reza sambil mendorong-dorong bahu Devan yang berada disebelahnya.
"Apaan sih lo, seharusnya lo yang pergi biar gue bisa duduk sama Lea," balas Devan.
"Sudah kalian jangan bertengkar!" ucap bu Fatna frustasi.
"Sekarang Lea kamu duduk dengan Kevin, karena hanya bangku disebelah Kevin yang kosong. Jika kamu tidak mau ibu akan carikan bangku baru, tapi sementara waktu kamu duduk sama dia," putus bu Fatna, sebenarnya Fatna ragu karena takut Kevin tidak mau, tapi karena sudah tidak ada bangku lain terpaksa Lea harus duduk disana.
"Nggak papa bu," balas Lea lalu berjalan ke bangku Kevin. Sebelum melangkah Lea masih menatap kearah Kevin, sedangkan Kevin membalas tatapannya dengan begitu tajam, membuat Lea bergidik ngeri.
"Maaf Le, gue udah duduk sama Suci," ucap Alin tak enak.
"Sans Lin," balas Lea dengan senyumnya dan acungan jempolnya kepada sang sahabat.
"Akh senyum nya manis," ucap Reza sambil memegang dadanya seperti tertembak.
"Gila gue aja sampe mau pingsan," sambung Devan yang ikut terpesona dengan kecantikan Lea.
"Lebay lo semua," balas Fino.
"Julid banget sih lo Fin," kesal Reza. Jika ditanyakan siapa paling julid, ya jawabannya adalah Fino, pria itu terlalu sensitif terhadap sesuatu.
"Hehehe," Lea hanya terkekeh melihat tingkah teman-teman barunya, lalu gadis itu pun akhirnya duduk disebelah Kevin.
"Hai nama gue Le-lea," sapa Lea canggung kepada pria yang akan menjadi teman sebangkunya.
"Udah, tebar pesonanya?" tanya Kevin sambil berbisik di samping telinga Lea.
Deg
Tubuh Lea seketika menegang. Namun akhirnya gadis itu memilih menunduk sambil memainkan ujung rok nya dengan gelisah. Ternyata pria di sampingnya tidak suka ia pindah sekolah.
"Ma-maaf," gumam Lea yang hanya didengar oleh Kevin.
****
Kantin sekolah...
"Ha-halo Lea, kenalin gue Suci. Te-teman dekatnya Alin," sapa Suci canggung.
"Oh gue Lea, nggak usah canggung santai aja kalo sama gue," balas Lea.
"Iya le," balas Suci.
"Lea, gimana rasanya duduk di dekat ketua geng motor?" tanya Alin penasaran.
"Hah, Ketua geng motor? Kevin yang lo maksud?" tanya Lea bingung saat Alin tak menyebutkan nama.
"Iya siapa lagi kalo bukan dia, emang si Kevin nggak terkenal disekolah lo?" tanya Alin.
Lea menggelengkan kepalanya, pertanda ia tidak tahu.
"Ya ampun Lea, lo disana kudet banget sih. Untung lo pindah ke sini, nih ya si Kevin itu ketua dari Geng Lion King, si raja penguasa jalanan, rata-rata semua sekolah kenal dia," jelas Alin heboh.
"Oh, gue biasa aja kok duduk sama dia," balas Lea.
"Oh doang?" Alin menarik nafasnya sebentar lalu ia keluarkan kembali, "Nih Le, gue kasih tahu jangan sampe lo bikin masalah sekecil apapun sama Kevin. Atau lo bakal terus berurusan sama dia," peringat Alin.
"Emang kenapa?" tanya Lea yang semakin penasaran.
"Kevin itu anak dari pemilik sekolah ini, dia itu nakal banget. Sering banget buat masalah. Dan siswa yang buat masalah sama dia, langsung dikeluarin dari sekolah. Dan gue nggak mau lo juga berakhir sama kayak mereka," jelas Alin kembali.
"Seseram itu kah?" tanya Lea bingung.
Lea langsung mendapatkan dua anggukan dari Alin dan Suci.
"Eh ada Kevin sama geng LK," bisik Alin saat melihat 5 siswa yang masuk kedalam kantin.
Sebelum duduk di mejanya, Kevin sempat bertatapan sekilas dengan mata milik Lea.
"Gue takut banget sama Kevin," lanjut Alin sambil bergidik ngeri.
"Siapa dia?" tanya Lea saat melihat ada seorang gadis yang tiba-tiba menghampiri meja Kevin dan duduk disebelah Kevin.
"Dia Amel kelas dua belas IPS satu," jawab Suci.
"Kenapa Kevin nggak marah pas diganggu dia?" tanya Lea saat melihat Amel yang berusaha menggoda Kevin sedangkan Kevin hanya diam.
"Gue juga nggak tahu, tapi cuman dia cewek yang bisa ganggu Kevin dan Kevin nggak pernah marah."
"Denger-denger dia pacarnya Kevin, tapi kayaknya sikap Kevin ke dia biasa aja, Malah keliatan kalau Amel yang ke gatelan," imbuh Alin.
Lea hanya mengangguk paham setelah mendengarkan penjelasan dari sahabatnya. Namun sebenarnya gadis itu sedang mengepalkan tangannya dengan kesal dibawah meja, tanpa sepengetahuan siapa pun.