Maafkan Aku, Sil

1028 Kata
Semilir angin berhembus sejuk di pantai saat langit sore mulai tampak. Gelombang ombak riuh, menghempas ke tepi. Buih-buihnya pun ikut tertinggal dan di menghilang di pasir kecoklatan yang basah. Pandangan ke laut lepas sangat menyejukkan mata. Apa lagi di tengah laut terdapat tiga pulau kecil, di antara ketiga itu. Hanya satu nama pulau yang menjadi objek wisata yang dapat di kunjungi, yaitu "Pulau Angso Duo." Di sekitar pantai, berderetan payung warna-warni berukuran 180 centimeter. Tempat para pengunjung sambil menikmati pemandangan sore yang akan menunaikan langit jingga, dan menikmati pesanan minuman dan makanan yang mereka pesan lebih dulu daru pedagang yang terdapat di pinggiran jalan sebelum masuk ke pantai. Jangan lupa, tanyakan lebih dulu apa nama warung itu, karena kursi yang berada di pinggiran pantai di bawah payung warna-warni sudah tertulis nama pemilik warung. Pantai Gondariah namanya, sebuah panorama pulau-pulau kecil di pusat kota pariaman. Perpaduan posisi yang strategis, panorama yang indah dan konturnya yang landai, membuat pantai ini menjadi salah satu objek wisata pantai paling populer di sini. Di salah satu kursi dan meja plastik, di bawah payung warna-warni, Sisil dan Friy duduk menikmati makan dan minum mereka. Sambil menunggu waktu sore perlahan-lahan pamit undur, di tempat ini Sisil akan melupakan segala beban pikiran--Adik dari ibunya. Dia benci akan kepulangan adik-adik ibunya itu yang hanya kerap kali mematahkan impian Sisil. Masih teringat oleh Sisil, bagaimana bantahan dari Paman Seno, untuk tidak melanjutkan kesekolah menengah atas. Setelah lulus dari sekolah menengah pertama. Kesal, sedih dan marah bercampur baur dalam kekesalan hati terdalam. Bersyukur, karena Sisil bertekad keras untuk tetap sekolah, sampailah kelulusannya kini di sekolah menengah atas. Masih dengan orang yang sama, hatinya masih mendongkol. "Sil," seru frilly, melihat sahabatnya itu termenung setelah selesai makan. "Hmm ...?" Sisil berdehem, menoleh pada Frilly disebelahnya."Apa?" alisnya bergedik pada sahabatnya itu. "Kau kenapa? Seperti orang banyak pikiran," tembak Frilly langsung. Dahi Sisil berkerut, ketika sorotan matanya kosong menatap satu arah, namun nanar. Tidak ada yang lebih baik dari pada Frilly dalam mengenal siapa Sisisl. Mereka bersahabat sudah lama, dan sama-sama berada di keluarga kalangan bawah. Bersyukurnya, orang tua Frilly yang akrab di sebut dengan "lili" itu sudah memiliki rumah sendiri untuk anak-anaknya. Sedangkan ibu Melisa, masih tinggal di rumah tua sang nenek. Sisil terlihat menghembuskan gumpalan napas berat di hidungnya. Mengosongkan dan meredam hati yang memanas itu. "Aku sedih, Ly. Aku tidak bisa sambung kuliah. Pada hal aku ingin sekali menyambung pendidikanku, tetapi tidak ada yang mendukungkymu, termasuk ibuku sendiri." Sisil mengarahkan tubuhnya duduk ke arah Frilly. Gadis itu tercenung."Kau tahu kan, Paman Seno. Dia paling menyebalkan orangnya! Kenapa sih, harus dia yang oulang bersama bibi Siti." "Sil ... Hemm ... apa tidak sebaiknya kau kali ini memahami kondisi Ibumu? Aku bukan bermaksud mendukung Paman Seno, tetapi coba kau renungkan dulu. Tidak hanya kau yang bersekolah, tetapi dua orang adikmu juga masih bersekolah. Sil, jika kau tidak dapat menyambung kuliah, mungkin Tuhan memberi jalan lain di depan sana, untuk mengangkat derajat orang tuamu," titah Frilly. Ia tampak memilih-milih kata apa yang pantas untuk ia sampaikan pada sahabatnya itu. Agr tidak membuat Sisil marah padanya. Ibu Melisa telah mengatakan pada Frilly apa yang sedang terjadi saat ini pada keluarga Sisil. Frilly, tahu Ibu Melisa tidak bermaksud untuk mematahkan cita-citq sang anak. Namun, kondisi mereka benar-benar tidak mampu menuruti permintaan Sisil. Gadis itu hanya terdiam setelah melirik sekilas padanya. Sisil bergeming. Hanya hembusan angin pantai menyapu wajahnya yang di halangi rambutnya ikut bergoyang mengikuti arah angin. Sisil menyelipkan rambut yang menutupi pandangannya itu. Lalu, menoleh pelan pada Frilly."Apa kau di suruh Ibuku?" tebaknya. Frilly tertegun, tebakan sahabatnya itu benar. Dia di minta Ibu melisa untuk melunakkan hati Sisil. Frilly, juga mengetahui Sisil di minta ikut bersama paman Seno. Tetapi, Frilly merasa jika Sisil di sana kerja di restauran sang Paman, Sisil dapat menolong ibunya untuk membantu mendirikan istana kecil untuk Ibunya. Frilly, jika di tawarkan seperti itu, pasti ia mau. Sebab, Frilly ingin hidup mandiri di kota orang. Sayangnya, tidak ada orang yang membawa Frilly untuk bekerja di kota yang ia kenal. "Ti-tidak, aku sama sekali tidak di bujuk Ibumu. Karena ... jujur saja aku ingin hidup mandiri, aku ingin merubah masa depanku, tetapi ibuku tidak membolehkan aku pergi. Kau sendiri malah ada orang yang membawamu untuk bekerja di Jakarta. Sedangkan aku, kalau bukan aku menolong Ibuku dagang, siapa lagi?" titah Frilly, terlahir sebagai anak satu-satunya mereka. Sisil meraup rambutnya yang sedari tadi tergerai, dan sangat mengganggu di wajahnya itu. Gadis itu mengikat rambutnya, seperti ekor kuda."Aku tidak tahu apa yang harus apa pilih. Ini sungguh berat bagiku. Aku butuh waktu untuk semua ini. Apa lagi, paman Seno katanya dalam waktu dekat ini mengambil tiket. Hatiku masih berat." Ada kesedihan yang mendalam yang dapat di rasakan oleh Frilly pada Sisil. Ia sebenarnya tidak tega harus mengatakan ini pada Sisil. Jujur saja, Frilly takut di tinggalkan oleh sahabatnya. Kalau Sisil pergi dari kampung ini, Frilly orang pertama menangis di tinggal sahabatnya itu. Tadinya, ia Frilly ingin sekali menahan Sisil untuk tetao di kampung saja. Namun, mendengar kata dari ibu Melisa membuat Frilly tidak berkutik. Siapa dia? Melarang sepenuhnya Sisil. Sedangkan Ibu Melisa, orang tua satu-satunya yang di miliki Sisil di dunia ini setelah ayahnya meninggal. Ia menjadi tulang punggung setelah kepergian ayah Sisil. Sebagai buruh tadi itu tidak cukup untuk memenuhi ke butuhan keluarga. "Pada hal aku ingin sekali bekerja di kampung saja. Dari pada aku ikut Paman Seno," gerutu Sisil. "Bekerja di kampung kita ini,sama saja hal bohong. Kau tidak akan dapat hidup mandiri, karena ibumu masih ada di sekitarmu. Aku saja, kalau di perbolehkan ingin sekali pergi dari kampung ini. Mencari pengalaman untuk hidupku, Ibuku malah melarangku. Tidak ada yang akan membantunya jualan," Frilly berusaha menyemangati Sisil, ia sendiri merasa keberatan jika Sisil benar-benar meninggalkan dia di kampung ini. "Aku pikir-pikirkan dulu. Jujur saja, aku sama sekali tidak terpikirkan untuk pergi," sorotan mata Sisil meredup, pandangannya tertunduk lesu. "Apa pun pilihanmu, Sil, aku mendukungmu," Frilly mengusap lembut, bahu sahabatnya itu. Hatinya ikut sedih, karena harus merelakan Sisil untuk pergi. Ia juga menyadari, tidak boleh egois menahan sahabatnya itu. 'Maafkan aku, Sil. Maafkan aku ...." Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN