"Hati-hati di jalan ya, Mas," ucap Mama Ningsih, sambil mencium punggung tangan sang suami. Papa Herman mengangguk."Hati-hati di rumah, aku berangkat dulu." Mama Ningsih mematri kepergian lelaki itu yang perlahan menjauh dari hadapannya. Lambaian tangannya mengudara ketika mobil Papa Herman mulai berjalan keluar dari gerbang rumahnya. Seharusnya perusahaan itu telah di kelola oleh sang anak, agar Papa Herman tidak terlalu di sibukkan dengan pekerjaannya. Namun, takdir berkata lain. Di usianya menginjak hampir lima puluh tahunan, ia gagal membimbing Rendra untuk menjalankan bisnis ini. Pada hal semua harta yang ia miliki juga jatuh pada Rendra sebagai anak semata wayang mereka. Terkadang Papa Herman sangat iri dengan anak rekan bisnisnya. Anak mereka benar-benar menekuni apa yang telah

