Koper Hitam

1535 Kata
Koper berwarna hitam pemberian paman Jono, Sisil mengatakan pada lelaki itu bahwa dia sama sekali tidak ada tas maupun koper. Akhirnya, paman Jono menyuruh Sisil dan sang Ibu pergi menuju pasar. Sisil memilih koper untuk mempermudahkan dia hanya sekedar mendorong, atau menariknya. Dia tidak akan repot-repot menjinjing yang Sisil rasa itu sangat menyulitkannya nanti Membaringkan koper itu di atas tempat tidur dengan posisi terbuka. Satu persatu bajunya mulai di masukan ke dalam koper. Berat hati di rasakan Sisil berusaha menguatkan hati yang terus lirih. Mengosongkan lemari dari baju-bajunya yang tidak seberapa itu. Baju-baju dalam lemari itu mulai menipis, Sisil beralih pada kopernya. Sambil berkacak pinggang, Sisil menelan salivanya. Gadis itu merasa ada yang kurang untuk kepergiannya besok. Sisil mengedarkan pandangannya sekitar kamar tidak luput pada pigura yang menempel di dinding. Dua pigura yang digandingkan satu bingkai, menampakkan dirinya dengan sang ayah dan pigura mereka bersama. Sisil tersenyum simpul, melihat sosok cinta pertamanya jatuh pada sang ayah tanpa senyuman di sana dan seorang anak perempuan berusia dua tahun dalam dekapan hangat penuh cinta dan kasih sayang. Sosok lelaki yang tidak akan tergantikan selamanya. Bukan hanya dirinya, tetapi sang Ibu juga tidak berniat mencari pengganti sang ayah. Alasannya cukup simpel dan menghangatkan hati yaitu cinta. Cinta yang tulus dari sang ayah tidak mampu membuat ibunya menggantikan dengan lelaki lain. Dia hidup berjuang menghidupkan dua orang anak yang kini telah beranjak remaja dan dewasa. Sisil menaikan tangannya keatas untuk mengambil bingkai foto itu. Debu tipis menutupi pigura mereka. Sisil meniup debu itu sehingga membuat debu berterbangan kemana, di bantu tangannya menghapus pigura itu. Usapan lembut dari tangan Sisil di pipi sang ayah, membuat gadis itu tersenyum getir. Air wajahnya berubah sendu, hidung terasa panas juga menjalar pada dua bola matanya yang ikut berkaca-kaca. Andai sang ayah masih ada, dia tidak akan merasakan kalut saat ini. Andaikan mereka masih dalam dekapan sang ayah mungkin Sisil akan merasakan ketenangan yang teramat. Andai, andai, andai dan andai. Namun, kenyataannya sekarang hanya dalam sebuah angan-angan yang tidak akan tercapai. Semua yang bernyawa, pasti akan pulang ke penciptanya. Kata-kata itu yang membuat hati Sisil bisa tegar kembali. "Yah, maafkan Sisil tidak bisa melanjutkan sekolah. Bukannya Sisil tidak mau, keadaan kita tidak memungkinkan. Maafkan Sisil, besok Sisil harus pergi. Sisil hanya bisa mendatangi makam ayah dan Sisil pamit berangkat besok. Do'akan Sisil Yah, agar sisil bisa membahagiakan ibu. Ini bakalan pengalaman Sisil tinggal jauh dari Ibu,"gumam Sisil, tidak terasa air matanya berderai seperti air hujan. Tisu yang ia ambil di meja belajarnya, untuk mengeluarkan ingus yang terus mengalir di hidungnya. Sisil tidak ingin siapapun yang melihatnya menangis. Gadis itu pun buru-buru menghapus cairan bening itu dari mata, dan pipinya. "Kak Sisil?" panggil Diana yang masuk ke kamar sang kakak. Kamar yang hanya di tutupi tirai dan pintu terbuka membuat Sisil gelagapan untuk mengusir penuh cairan bening di manik matanya. Sisil yang sempat menoleh tadi, membalikan tubuhnya melihat sang adik. Cairan bening yang terlanjur membekas di pipinya itu membuat Sisil kesulitan untuk menghapus seperti semula. Melihat mata sang kakak berbeda di penglihatannya, berhasil membuat Diana menarik etensinya. "Kakak kenapa? Kaka menangis?" cecar Diana, dahi yang dalam berkerut penuh itu cukup membuat Diana mengerti sang kakak tidak dalam baik-baik saja. "Siapa juga yang menangis?kau tidak lihat," Sisil memperlihatkan pigura itu pada Diana."Debu ini sangat tebal. Kakak habis membersihkannya. Ehh ... malah mengenai mata kakak, jadi perih." Diana termanggut-manggut seiring bibirnya membulat. 'Kau mungkin bisa membohongiku kak dengan ucapanmu, tetapi tidak dengan matamu yang berair itu." Batin Diana pilu. Diana duduk di sisi ranjang Sisil yang terlihat rapi. Bukan untuk waktu yang cukup panjang, satu malam lagi gadis itu masih bisa menempati ranjang yang rapuh itu. Namun, tidak untuk malam-malam selanjutnya. Tempat tidur itu akan kosong dalam jangka waktu lama. Waktunya tidak dapat di tentukan. Diana hanya melihat pigura itu di masukan Sisil ke dalam koper. Melihat koper itu sudah terisi penuh dan lemari sudah terlihat kosong, Diana merasa hatinya tidak mau melepaskan sang Kakak pergi. Segurat sendu juga terlihat di wajah gadis itu. "Kak, apa tidak bisa di batalkan perginya? Aku ... aku tidak mau kaka pergi," tatapan Diana tertunduk, ia harus bisa menahan matanya agar tidak berkaca-kca. Bukan hanya Diana yang sedih, Sisil orang pertama dalam kesedihan ini dan juga dilema berat. Andaikan ada pilihan lain, Sisil tidak akan memilih pergi dari kampung ini. "Kau bicara apa sih, dek? Jelas-jelas tiketnya sudah ada. Mana mungkin kakak membatalkan ini semua. Harga satu tiket saja mahal loh! Kalau sampai kakak membatalkan ini, lalu pakai apa kita mengganti tiket yang sudah di beli paman Jono?" Sisil mendekati Diana, menggenggam tangan adiknya sebagai seorang kakak."Doakan saja, kakak baik-baik saja di sana. Kakak akan mengirimkan kau dan Ibu uang setiap bulannya. Tapi, kau harus janji ..." Sisil memgeluarkan jari kelingkingnya."Kau harus rajin belajar dan bantu Ibu. Sekolah dengan benar." Diana pun mengaitkan kelingkingnya pada sang Kakak. Berusaha tersenyum menutup rasa sedihnya. Diana mengangguk tegas, seraya berdehem. Selesai mengemas barang juga di bantu oleh Diana, mereka keluar dari kamar. Tepat kaki Sisil berada melampaui pintu, paman Seno berada di depannya. Mata mereka saling bertemu dengan paman satu-satunya yang mengerti dengan keadaan orang tua Sisil, perkataannya pun tidak menyakiti gadis itu. "Paman, kapan paman datang?" tanya Sisil, matanya berbinar-binar. Kehadiran paman Seno, cukup membuat perasaannya di leburkan dari rasa sedih. "Sudah dari tadi," paman Seno melirik ke arah ruang tamu semua adiknya ada di sana."Paman dengar, kau mau berangkat besok?" Sisil berdehem pelan, raut wajahnya sengaja menunduk."Sisil pamit ya, Paman. Selama Sisil tidak ada di rumah, tolong jagain Diana dan Ibu. Lagian, mau ngapain Sisil di rumah. Sekolah juga sudah lulus, cari kerja di kampung ini susah." "Semoga ini pilihan terbaik untukmu, Sil. Paman hanya bisa mendoakan, agar kau menemukan kesuksesan di kemudian hari. Jaga dirimu baik-baik, kesehatanmu hal yang nomor satu. Kalau paman Jonomu marah, jangan ambil hati anggap saja angin lalu. Ambil baiknya saja, ok!" Paman Seno hanya bisa menasehati Sisil. Dia yang juga hidup pas-pasan dengan keluarganya meski belum mempunyai anak, jika sekedar jajan Sisil dan Diana mungkin dapat dari paman Seno. Meski tidak tiap hari, paman Seno tidak pelit masalah uang. Jika ada pasti lelaki itu akan berikan. Sisil tersenyum, amanah sang paman sungguh tersimpan baik di hatinya. Diana juga ikut tersenyum, ketika di saling lirik dengan sang kakak. "Barang-barangmu sudah di kemas? Jam tujuh kita sudah berangkat ke bandara," sambar paman Jono di antara pembicaraan mereka. "Sudah," sahut Sisil singkat. "Siti tidak bareng denganmu berangkatnya?" tanya paman Seno, pada sang adik--Jono. "Tidak! Katanya dia akan nyusul nanti," "Ya sudah, kalian besok hati-hati. Aku tidak bisa ke sini besok. Besok ada yang meminta menanam benih di sawahnya," paman Seno yang baru mengetahui kabar keberangkatan Jono dan Sisil, terpaksa tidak bisa mengantarkan mereka ke bandara. Dia sudah terlanjur janji dengan orang. Ponsel yang berdering nyaring di kamar Sisil, membuat gadis itu masuk ke kamar untuk mengambil benda pipih itu di atas tempat tidurnya. Si pemanggil ternyata Frilly, Sisil pun mengangkat panggilan itu. "Hallo, ly," ucap Sisil sambil mendarat duduk di pinggir tempat tidur yang tidak terlalu luas itu. Tidak lupa bunyi kecutan --besi tua berasal dari tempat tidur itu. "Sil, berangkatnya kenapa mendadak? Sorry, tadi data ponsel aku matikan. Baru bisa lihat sekarang," Frilly yang ada di kamarnya saat ini hanya bisa memandang pigura dia dan Sisil di atas nakas. "Aku telah menghubungimu siang tadi, siapa suruh matiin data? Sekarang sudah malam, dan besok pagi aku harus berangkat jam tujuh," gerundel Sisil, ia juga tidak bisa keluar. "Sil, maafkan aku. Aku tidak ingin kau pergi. Tapi aku juga tidak bisa untuk menahanmu. Semoga saja kita bertemu juga nanti. Aku do'akan kau baik-baik saja." Hati Frilly pilu. "Frilly? Lah, malah diam!" "Kita enggak dapat ketemu dong, Sil? Belum tau kan, kau pulang kapan?" d**a Frilly terdengar sesak, sahabat sejatinya akan pergi meninggalkannya. "Mau gimana lagi, untung kemaren kita sempat jalan. Kalau tidak, entah kapan lagi," "Nanti kalau aku pulang," Sisil terkekeh. Sedikit merenggangkan suasana pilu dengan sahabatnya itu. "Lama lagi!" Fi tengah pembicaraan lewat telepon itu, kehadiran Ibu Melisa membuat Sisil harus menghentikan pembicaraannya."Ly, udah dulu ya! Besok aku kabarin kalau sudah berangkat." Sambungan panggilan pun di matikan. Ibu Melisa melihati koper yang kini berdiri dan terlihat padat akan isi di dalamnya. Tentunya, sang anak telah mengemasi barang keperluannya dari dalam lemari."Sudah siap semuanya?" Sisil mengangguk."Sudah, bu." "Jangan tidur terlalu malam, nanti telat bangunnya, nak," titah Ibu Melisa, seraya mendarat duduk di pinggir tempat tidur. Mengusap lembut pucuk kepala sang anak."Nanti di sana jangan telat makan. Sesibuk apapun nanti di sana, utamakan kesehatan. Isi perutmu dulu." Sekali lagi Sisil mengangguk. Langsung mendaratkan pelukan hangat pada sang Ibu yang nanti akan ia tinggalkan dalam waktu yang lama."Ibu baik-baik di kampung. Kabari Sisil kalau terjadi apa-apa." Ucapnya terdengar lirih. "Iya sayang, Jangan pikirkan Ibu. Di sini akan ada Diana dan paman Seno yang akan melihat Ibu,"ujar Ibu Melisa, tentunya ingin melihat sang putri tidak kepikiran dengannya. Jujur, ini untuk pertama kalinya ia dan sang putri pisah jauh. Ada sedih menyuluti hati kecil wanita itu. Namun, ia berusaha untuk tidak memperlihatkan pada Sisil. Agar Sisil tidak kepekiran meninggalkan ibunya. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN