Dina pun tersenyum. Bisa melihat mereka lagi saja sudah membuatnya sangat senang. Eza menatap Dina dengan lekat, ingatannya kembali lagi saat pertemuan Bunda mereka dan wanita paruh baya di depannya itu. Eza langsung menggenggam erat tangan Ella. Ia menarik Ella agar berdiri di belakangnya. Senyum Dina sedikit pudar melihat sikap Eza dan Ella. Mereka seperti tidak suka dengan kehadirannya. "Kenapa kamu ada di sini?" tanya Eza dingin. Ella tau kakaknya tak suka dengan wanita paruh baya yang berdiri di depan mereka. Ella juga begitu, mengingat Bunda yang ketakutan melihat wanita paruh baya itu. "Eza, Ella. Ini Oma, Sayang." "Jangan mendekat, kamu udah buat Bunda kami sakit," sahut Eza. Hati Dina seperti tertusuk ribuan pisau ketika melihat cucu-cucunya menolak kehadirannya. Tak lama ke

