“Ovi? Kamu sudah sadar, Nak?” Yang gadis itu lihat pertama kali adalah Rika, sang bunda. Rika yang saat itu baru saja pulang dari pengadilan terkejut mendapati anaknya yang pingsan. Ia pikir gadis ini hanya tidur di kasur tempat ia dan Dika tidur, namun beberapa kali ia panggil sang anak malah tidak ada respon. Sempat bingung, namun Rika mencoba tidak panik. Dia segera mencari minyak angin karena berasumsi jika sang anak pingsan. Dan benar saja, beberapa saat kemudian mata putrinya pun terbuka dan menampilkan tatapan sendu. Bahkan mata gadis itu bengkak, dan Rika pun tahu jika anaknya kembali bersedih.
Gadis itu hanya mengangguk menjawab pertanyaan Rika. Sepertinya ia tidak memiliki tenaga hanya sekadar menjawab pertanyaan dari bundanya. Rika dengan sigap mengambilkan air yang kebetulan selalu tersedia di kamar. Ovi meminumnya sedikit dan kembali merebahkan tubuhnya. Rika memandang anak sendu. Saat ini dia sudah resmi bercerai, dia tidak ingin bercerita kepada sang anak yang mungkin akan menambah kesedihan gadis itu.
“Kamu mau makan?” tanya Rika perhatian.
“Bunda nangis?” Bukannya menjawab, gadis ini malah balik bertanya. Dengan segera Rika menghapus air matanya yang entah sejak kapan sudah mengalir.
“Nggak, kok. Bunda kelilipan barusan,” elaknya yang tentu saja gadis itu tidak akan langsung percaya kepada bundanya.
“Bun ....”
“Iya?”
“Tadi Ovi mimpi,” ungkap gadis itu memandang Rika kembali dengan tatapan sendu. Sepertinya gadis itu mimpi buruk.
“Mimpi apa?”
“Aku mimpi ada di bukit. Bukitnya bagus banget. Rumputnya hijau, banyak bunga dan kupu-kupu. Udaranya juga sejuk.” Rika yang mendapat binar kebahagiaan dari mata anaknya pun ikut merasakan bahagia. “Aku, Bunda, dan Papa ada di sana. Kita main di tempat itu. Tempatnya sepi, nggak ada orang dan hanya kita bertiga. Aku senang, Bun, kita bisa jalan-jalan bareng,” lanjut gadis itu yang membuat Rika kembali menegang.
“Tapi ....” Mimik wajah gadis itu berubah menjadi sendu, “Papa tiba-tiba nggak ada. Bunda juga nggak ada. Kalian ninggalin Ovi sendirian di sana,” lirih gadis itu. Sontak saja Rika segera memeluk sang anak yang tampak teringat sekali dengan mimpinya itu.
“Itu hanya mimpi, Sayang. Bunda nggak akan tinggalin kamu. Bunda akan selalu ada di samping kamu,” kata Rika sambil mengecup kedua pipi Ovi dengan sayang. Gadis itu pun hanay diam sambil memikirkan mimpinya tadi. Mimpi itu indah, tapi berakhir buruk.
Ada tiga hal yang tidak bisa kita ubah di dunia ini. Rejeki, jodoh, dan takdir. Ketiga hal itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Entah itu baik ataupun buruk, semuanya sudah ditentukan. Seperti takdir gadis bernama Ovi ini. Setelah hidupnya terjebak dengan pemuda bernama Reon yang terkadang baik dan terkadang buruk, serta perceraian kedua orang tuanya, dan kini dia harus mendapatkan kenyataan pahit lagi.
“PAAAPPPAAA,” teriak histeris gadis itu sambil memeluk tubuh yang sudah terbujur kaku di kasur rumah sakit. Kabar mengejutkan mengenai kematian sang papa pun mengguncang jiwa gadis itu. Pagi ini dia berharap bahwa semua hal yang terjadi dalam hidupnya adalah sebuah mimpi, namun semuanya nyata.
“Dengan keluarga Pak Dika?”
Pagi-pagi sekali ada panggilan telepon dari seseorang. Kebetulan saat itu Ovi yang mengangkat karena Rika sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan mereka. Ovi yang memang tidak tahu apa pun mengiyakan pertanyaan si penelepon. Gadis itu berpikir jika mungkin itu adalah salah satu orang yang memiliki urusan dengan papanya.
“Kami dari Rumah Sakit Amanah ingin menyampaikan berita duka bahwa Pak Dika mengalami kecelakaan dan nyawanya tidak tertolong. Diharap pihak ke—”
Suara dari seberang sana seakan menulikan segala indra gadis itu. Dika? Papanya? Meninggal? Tidak. Baru beberapa hari yang lalu dia memeluk pria itu. Tidak, pasti semua ini mimpi.
“Ovi.” Reon telah sampai di rumah sakit. Pemuda itu baru tadi subuh pulang dan langsung mendapat berita mengejutkan seperti ini. Entah apa yang Tuhan takdirkan dengan hidup kekasihnya yang berkali-kali mendapat musibah. Gadis itu terus saja memeluk jenazah sang papa dan tidak menghiraukan panggilan Reon. Mengenai Rika, wanita itu sepertinya syok mengetahui jika orang yang ia cintai menginggal dan pada akhirnya ia jatuh pingsan.
“Papaaa,” lirih gadis itu yang masih terus saja menangis dan membuat pemuda yang sejak tadi menunggunya pun ikut larut sedh.
“Ovi.” Pemuda ini memaksa kekasihnya untuk sedikit menjauh dari jenazah Dika, namun gadis itu tidak mau.
“Aku mau peluk Papa,” tolaknya, “Papa, jangan tinggalin Ovi. Papa sudah janji mau datang ke wisuda Ovi nanti,” ucap gadis itu mengingatkan kepada papanya tentang janji mereka, namun nyatanya tubuh itu tidak merespon segala tindakan dari sang anak.
“Ovi. Lepasin tangan kamu,” perintah Reon yang ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Bukan maksud pemuda itu ingin memisahkan kekasihnya dengan sang papa, namun pihak rumah sakit sejak tadi meminta untuk diberi ruang agar bisa memandikan jenazah.
Reon yang memang tidak sabar dan kesal melihat Ovi yang keras kepala pun segera menarik gadis itu menjauh. Dan langsung saja pihak rumah sakit membawa jenazah Dika untuk dimandikan dan tidak memedulikan Ovi yang meronta dan memanggil nama sang papa.
“PAPA.”
“PAPA.”
“PAPA.”
“Diam!” bentak Reon tanpa sadar, namun mampu membuat gadis itu menjadi diam meskipun masih terdengar suara sesenggukan di sana. Gadis itu terlihat kacau. Muka yang basah karena terlalu banyak air mata yang ia keluarkan, baju acak-acakan karena terus meronta ketika Reon membawanya menjauh dari sang papa serta pandangan kosong yang ia tampilkan. Hal ini membuat diri pemuda itu menjadi sedih dan tidak tega. Dia tidak bisa melihat Ovi-nya menjadi sedih apalagi memburuk seperti ini.
Seakan keadaan gadis itu sedikit membaik, Reon memegang kedua pipi Ovi dan menghapus jejak air mata gadis itu meskipun usaha Reon akan sia-sia nantinya.
“Ovi,” panggilnya dengan lembut. Gadis itu menoleh dan mendapati pemuda yang sudah tiga tahun ini selalu menemaninya.
“Reon,” balas gadis itu yang langsung memeluk kekasihnya dengan erat. Sepertinya dia baru sadar dengan kehadiran Reon, padahal pemuda itu sudah berada di dekatnya cukup lama. Pemuda bernama Reon itu juga membalas pelukan Ovi tak kalah eratnya. Dia tahu gadis itu saat ini pasti membutuhkannya.
“Papa ....” Seakan tidak ingin mendengar hal buruk dari kekasihnya, Reon memilih semakin memeluk gadis itu agar dia juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh kekasihnya.
“Sttt, semuanya akan berlalu. Kamu tidak sendirian, ada aku di sini. Aku akan selalu jaga kamu,” janjinya yang didengar oleh Ovi. Reon yang tidak mendapat balasan apa pun dari kekasihnya pun mengernyit bingung, hingga dia pun menyadari jika Ovi ditelan oleh kegelalapan. Ya, gadis itu kembali memilih kegelapan sebagai temannya.