Bagian 17

1552 Kata
Pastinya kematian orang tersayang adalah hal buruk yang sangat tidak diinginkan oleh banyak orang. Akan tetapi, semua orang pasti akan segera kembali ke sang pencipta. Tentunya keluarga yang ditinggalkan akan merasa sedih yang teramat dalam, begitu juga yang dialami oleh Ovi dan Rika. Kedua perempuan berbeda generasi ini sama-sama merasakan kehilangan. Reon masih setia berada di samping kekasihnya. Ketika gadis itu bangun dari pingsannya, ia kembali histeris dan teringat dengan sang papa. Dengan sigap pemuda ini menanganinya, meskipun sedikit dibantu oleh pihak rumah sakit. Rika yang melihat keadaan sang anak pun kembali menjadi bersedih. Wanita paruh baya itu sudah lebih dulu bangun dari tidur panjangnya dan segera menemui sang suami untuk terakhir kalinya. Gadis itu masih setia menatap gundukan tanah yang masih basah di depannya. Di sebelahnya ada sang bunda yang setia menemani sang anak yang masih seakan tidak percaya jika orang yang mereka sayangi telah tiada. Dunia mereka seakan runtuh seketika. Kabar buruk berdatangan secara bersamaan dan itu mengganggu batin gadis bernama Ovi ini. "Sayang, kita pulang, yuk," bujuk Rika kepada anaknya yang mendapat penolakan berupa gelengan kepala. Reon yang sejak tadi hanya mengamati pun akhirnya mencoba turun tangan. Karena akan percuma saja membujuk Ovi jika gadis itu belum sadar sepenuhnya. Reon meminta Rika untuk kembali lebih dulu ke mobil, dan wanita paruh baya itu menurut menyisakan sepasang kekasih ini. Reon mensejajarkan tubuhnya dengan berjongkok. Pemuda itu setia berada di samping sang kekasih saat gadisnya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Ovi," panggilnya pelan dan gadis itu menoleh kemudian kembali menatap makam sang papa dengan sedih. Reon tahu apa yang dirasakan kekasihnya, ia sangat tahu sekali karena pemuda itu pun pernah berada di posisi ini. "Kamu nggak mau pulang?" tanya pemuda itu setelah beberapa lamaya keduanya nyaman dengan kesepian masing-masing. Gadis itu menggeleng dan Reon pun memakluminya. Dulu saat kedua orang tuanya tiada, dia juga sangat sedih bahkan tidak ingin meninggalkan tempat peristirahatan mereka. Dan dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan bagaimana kesedihan adiknya, Cia. Seketika Reon merindukan adik kesayangannya itu. "Kasihan Tante Rika sendirian," celetuk Reon yang membuat gadis itu menoleh dan sedetik kemudian, gadis itu menunduk sedih. "Apa ... apa boleh aku temani Papa?" tanya Ovi dengan tatapan sendunya. Reon memaklumi kekasihnya itu. Ia menggeleng. "Nggak boleh." Dan jawabannya membuat gadis itu kembali memandang makam sang papa dengan sedih. "Kalau kamu di sini, siapa yang akan jagain Tante Rika? Siapa yang akan temani Tante Rika? Dan siapa yang akan menghapus kesedihan Tante Rika?" Gadis itu diam. Karena tidak mendapat respon, pemuda itu akhrinya berdiri sambil menggenggam tangan kekasihnya. Dan gadis ini menurut untuk mengikuti jejak kaki Reon meninggalkan makam sang papa. Sesekali dia menoleh untuk memastikan jika semua hanyalah mimpi, namun semua nyata bersamaan dengan nama Dika di batu nisan gundukan itu. Ucapan berduka cita pun terus berdatangan dari orang-orang. Semua orang tampak tidak menyangka jika Dika akan pergi secepat ini. Rika mencoba tegar menghadapi para pelayat. Berbeda dengan Ovi, gadis itu mengurung diri di dalam kamar. Untung saja ada Reon yang menemaninya, tentunya dengan persetujuan Rika tentunya. Gadis itu masih memandang ke depan dengan tatapan kosong. Jujur, hati Reon sakit melihat Ovi seperti ini. Dia jadi membayangkan, mungkin adiknya dulu seperti Ovi saat ini. Menangis sepanjang hari dengan tatapan kosong, apalagi dia sebagai kakak tidak pernah berada di samping adiknya. Reon menjadi semakin bersalah dan dia ingin sekali memeluk adiknya saat ini juga. Mengucapkan beribu kata maaf yang belum sempat ia katakan. Pemuda ini melangkah mendekati gadis yang mukanya sudah penuh dengan air mata. Menangkup kedua pipi gadis itu agar dia bisa merasakan bagaimana kesedihan sang kekasih. Gadis itu tidak merespon sentuhan-sentuhan yang Reon lakukan. "Ovi, please jangan seperti ini," pinta pemuda itu dengan tatapan sendu yang sama sekali tidak ada balasan dari kekasihnya. Tatapan gadis itu masih kosong. Sesekali Reon mengguncang bahu kekasihnya agar segera tersadar. "Ovi," panggilnya sekali lagi dan ajaibnya gadis itu menoleh. "Please," pinta pemuda itu. "Re ... on," lirih gadis itu, sedetik kemudian gadis itu kembali menangis, dengan sigap Reon membawanya ke dalam pelukannya. Malam semakin larut, dan Reon masih setia berada di samping gadis itu. Mendengarkan segala keluh kesah sang kekasih. Mendengarkan segala kesedihan kekasihnya. Dan mendengarkan bagaimana tangisan kekasihnya yang begitu menyayat hati. Reon bahkan tidak sanggup, dan dia kembali membayangkan adiknya. Karena terlalu lelah dan banyak hal yang terjadi dalam beberapa hari ini membuatnya jadi lelah. Reon meminta gadis itu untuk istirahat, selalu berada di dekatnya agar gadis itu tidak pernah merasa sendirian. Dirasa Ovi sudah terlelap, barulah Reon keluar dari bilik gadis itu tanpa mengeluarkan suara. Di luar, Reon berpapasan dengan Rika, wanita itu mungkin sudah selesai menemani para pelayat dan terlihat lelah dan matanya masih ada jejak air mata. "Reon, kamu belum pulang?" tanya Rika yang baru mengetahui jika pemuda itu masih berada di dalam rumahnya ini. "Belum, Tante. Reon temani Ovi dari tadi." Rika tersadar jika sejak tadi anaknya tidak keluar dari kamar. Wanita itu menatap sendu pintu kamar anaknya. "Bagaimana keadaan Ovi?" tanya Rika kepada Reon. "Dia sudah tidur, Tante," jawab pemuda itu. "Dia pasti sangat sedih," lirih Rika yang kembali ingin menangis lagi dan Reon mengetahui itu. "Badai pasti berlalu. Semua kesedihan akan tergantikan dengan kebahagiaan." "Terima kasih ya, Nak Reon. Terima kasih sudah menemani Ovi sampai saat ini." Reon tersenyum. Ini adalah tugasnya menjaga gadis itu dan memastikan dia dalam keadaan baik-baik saja. "Kamu mau menginap atau-" "Aku pulang saja, Tante," tolak Reon langsung. "Hari sudah malam. Apa tidak sebaiknya kamu menginap? Masih ada kamar kosong di sebelah kamar Ovi," kata Rika. Reon menggeleng sambil menampilkan senyum manisnya. Ya, pemuda itu tidak pernah menunjukkan senyumannya. Dia hanya akan menunjukkan senyumannya kepada orang-orang tertentu saja. "Tidak usah, Tante. Aku bawa mobil," jelas pemuda itu yang membuat Rika tidak kembali mencegahnya untuk pulang. Sejujurnya Reon ingin selalu berada di sebelah Ovi, menemani gadis itu. Akan tetapi, beberapa pekerjaan kantor menunggunya di rumah. Ya, Reon akan segera menyelesaikan pekerjaan agar waktunya bersama sang kekasih lebih banyak. Ketika orang berada di titik kesedihan seperti ini, dia membutuhkan orang-orang untuk berada di sampingnya memberi kekuatan. Pemuda itu terbangun karena sinar matahari mengganggu penglihatannya. Saat ia membuka mata, sebuah bukit dengan satu pohon tumbuh di sana menyambutnya. Di bawahnya terdapat padang rumput luas yang tumbuh berbagai bunga di atasnya dan jangan lupakan kupu-kupu yang hinggap mengecup bunga-bunga cantik itu. Ini di mana? Mungkin satu pertanyaan itu yang ada di kepalanya. Dengan sigap pemuda itu menatap sekelilignya, mengamati setiap objek yang ada di sana, hingga dia pun menyipitkan kedua bola matanya ketika netranya menangkap sosok seorang gadis. Gadis? Gadis yang memakai dress putiu selutut dengan rambut hitam yang terurai begitu saja di kepalanya. Gadis itu tampak senang mengamati bunga-bunga yang dihinggapi kupu-kupu di sana. "OVI!" teriaknya memanggil gadis itu, dan gadis itu pun menoleh dan tersenyum saat orang yang ia kenal memanggilnya. "Hai, Reon!" teriak Ovi kembali memanggil pemuda itu. Ya, dia Reon yang tampak mengernyit bingung kenapa dia berada di sini. Pemuda itu berjalan mendekati kekasihnya itu yang selalu saja menampilkan senyum manisnya. "Reon, kamu di sini juga?" tanya Ovi dengan riang. "Iya. Tapi ini di mana?" tanya pemuda itu balik. Ovi tertawa menyaksikan bagaimana bingungnya pemuda yang sejak dulu melengkapi hidupnya itu. "Ini tempat favorit aku," kata gadis itu riang. "Di sini indah, banyak bunga, dan kupu-kupu," jelasnya sambil menunjukkan apa yang ia lihat di sana. Reon pun mengangguk setuju. "Reon, kenapa kamu di sini?" tanya gadis itu kembali. Pemuda itu mengangkat bahunya bingung. "Aku tidak tau kenapa bisa ada di sini," jawabnya. "Aneh. Kata Papa, tempat ini bukan tempat kita," jelas gadis itu tanpa keraguan. "Papa?" "Iya, Papa. Papanya Ovi, masa Reon lupa, sih!" kesal gadis itu. "Memang Papa ada di sini?" tanya Reon. Bukankah Dika sudah tiada? "Ada. Aku selalu sama Papa di sini. Tapi, kata Papa di sini hanya boleh ada aku dan Papa. Tempat ini milik kami," kata Ovi. Reon mengernyit bingung, kemudian sedetik selanjutnya dia paham. "Ovi, ayo kita pulang," ajak pemuda itu kepada kekasihnya. Gadis itu menggeleng tidak setuju, dia menyukai tempat ini dan di tempat ini ada Dika. "Nggak mau. Ovi mau tetap di sini, Reon. Kalau Reon mau balik, ya sudah balik aja ke rumah. Yang jelas aku akan tetap ada di sini," balas gadis itu yang keras kepalanya tidak pernah hilang. "OVI." Sebuah teriakan pria membuyarkan percakapan mereka. "Reon, itu Papa. Aku dipanggil sama Papa," kata gadis itu sedikit panik. Kemudia gadis itu bergegas membereskan barang-barangnya. "Ovi tunggu, kamu mau ke mana?" cegah Reon. "Aku mau ke Papa. Papa mau ajak aku ke suatu tempat," ujar gadis itu dengan polosnya. "Jangan Ovi. Tempat ini bukan tempat kita. Kamu tidak ingat Papa kamu ke mana?" "Papa ada di sana. Kamu tadi sudah dengar," jawab gadis itu. Reon menggeleng. "Sadar Ovi, Papa sudah nggak ada. Kemarin kita sudah mengantar Papa ke peristirahatan terakhirnya, bukan?" jelas Reon berharap jika kekasihnya cepat sadar dengan kenyataan yang mereka alami. "Reon bicara apa, sih!" sentak gadis itu tidak terima. "Udah ah, aku mau ke Papa," ucap gadis itu dan segera berlalu meninggalkan Reon dengan beralih ke arah suara Dika yang memanggil namanya tadi. Reon yang melihat Ovi pergi pun mencoba mengejarnya, tetapi semuanya terasa aneh. Semakin pemuda itu mengejar Ovi, gadis itu malah terlihat semakin jauh dan Reon pun menjadi frustasi sendiri, hingga dalam sekejap Ovi pun sudah tak terlihat dari pandangannya. "OVIII!!!" Nahloh?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN