Gebrakan pintu membuat Ovi terkejut. Gadis itu hanya berdiri kaku di dekat ranjang kekasihnya ini. Ya, pemuda itu membawanya ke rumahnya. Ovi sudah berontak tidak mau mengikuti pemuda ini, namun Reon memaksanya. Membawanya dengan paksa, bahkan pergelangan tangan Ovi sedikit membiru karena kuatnya cengkeraman dari Reon tadi. “Re, maaf, aku—” “Aku nggak akan pernah lepasin kamu, Vi. Dengarkan itu.” Dingin dan dalam. Reon kembali seperti dulu. “Re, beri aku kesempatan untuk jelasin,” pinta Ovi mencoba memohon kepada pemuda itu. Reon menutup matanya sejenak, mengatur napas dan emosinya agar tidak sepenuhnya keluar di depan gadis ini. Dia tidak ingin lepas kendali lagi. “Papa sudah nggak ada,” ungkap Ovi yang sudah sangat diketahui oleh Reon. “Aku dan Bunda diusir dari rumah. Saat itu aku g

