TUJUH

1115 Kata
Setelah menemani Ayu sampai tutup toko di jam tiga sore, Vera masih enggan untuk pulang. Dia memutuskan pergi ke toko buku dan tanpa sengaja melihat Thomas dan tunangannya yang cantik sedang sibuk melihat buku di lantai dua. Vera jadi tidak berminat ke tempat itu lagi dan cepat-cepat menuruni tangga yang sialnya malah bertemu dengan si bos di tengah tangga. Bryan yang sedang digandeng mantan istrinya, terkejut. Vera melihat genggaman mesra mantan istri Bryan lalu mengalihkan tatapannya, pura-pura tidak kenal dan pergi menuruni tangga tanpa mengatakan apa pun. "Mas?" Bryan yang masih belum siap, tersenyum ke mantan istrinya. "Ah, ya." Mantan istri Bryan menarik tangan mantan suami dan segera bergabung dengan putra mereka serta tunangannya. Thomas bahagia melihat kedua orang tuanya mulai rujuk meskipun sang ibu harus berbohong pada suaminya sekarang supaya bisa keluar, dia memanfaatkan momen ini supaya sebelum hari pernikahan, keluarganya bersatu. Anak mana sih yang mau melihat keluarganya berpencar? Tunangan Thomas mencium tangan kedua orang tua tunangannya dan berkata. "Selama ini Thomas cerita tentang om, ternyata om awet muda juga ya seperti tante." Ibu Thomas tertawa bahagia dan menepuk pundak calon menantunya. "Kamu ini- jangan bikin malu kami. Tante senang kamu mau jadi istri anak tante. Semoga langgeng ya." Tunangan Thomas memeluk lengan dengan mesra. "Pasti tante, kami pasti akan bahagia." Bryan melihat kemesraan putra dan tunangannya lalu menepuk pundak Thomas. "Tapi kenapa kalian ingin bertemu disini? Apakah ada yang ingin disampaikan? Kan bisa di restoran nanti." Thomas dan tunangannya tersenyum penuh arti lalu menunjukkan satu deret buku yang masuk tulisan best seller. "Lihat, ini buku yang dihasilkan Vera. Ayah sama ibu pasti bangga." Senyum Thomas. Tunangan Thomas mencubit pinggang Thomas dengan malu. "Kamu ini-" Bryan melihat buku yang dipamerkan dan masuk kategori best seller. "Wow." Hanya ini yang bisa dia katakan. Ibu Thomas mengalihkan suasana dan cipika cipiki ke tunangan Thomas. "Selamat ya, tante bangga sama kamu." "Terima kasih tante. Oh ya, ngomong-ngomong adik kamu kemana?" tanya tunangan Thomas ke Thomas. Thomas menghela napas ironi. "Dia malas dan ingin tiduran saja di rumah, biarkan saja anak itu. Kita makan siang saja." Mereka berempat memutuskan turun dari tangga. Vera yang sudah turun ke lantai bawah toko buku dan melihat cat warna yang mahal harganya, tanpa sengaja melihat anak kecil yang juga melihat cat warna bermerk itu. Anak kecil laki-laki berusia lima tahunan dan berpipi gembul. Vera celingukan. Apa dia anak hilang? Ketika Vera memutuskan menjauh, anak kecil itu mengikutinya. Vera balik badan dan menjadi bingung lalu berjongkok setelah diberi tahu salah satu karyawan toko buku. "Hallo." Wajah anak itu seperti menahan tangis. Vera menjadi panik. "Aduh, maaf. Aku tidak bermaksud menakuti kamu, kemana orang tua kamu?" "Hilang, tersesat." "Ha- hah? Kamu kesini sama siapa?" tanya Vera lalu melirik salah satu karyawan toko buku yang juga khawatir. "Adek kesini sama siapa?" tanya karyawan itu. Anak itu masih menatap lurus Vera. "Kakak juga suka melukis?" "Ya?" "Kakak bisa melukis?" "Ah, aku tidak bisa melukis tapi aku bisa menggambar manga." "Terus kenapa lihat cat warna itu?" "Ah, hanya iseng." "Kakak mau Axel belikan?" "Apa?" "Tapi kakak harus ajarkan Axel menggambar juga, soalnya gak ada yang mau ajarin Axel." Vera jadi bingung. Anak ini sok kenal sekali, bagaimana kalau dia diculik? "Axel?" Vera menoleh dan terkejut melihat Thomas dan tunangannya sudah turun ke lantai bawah, di belakang ada Bryan dan mantan istrinya. Yang membuat Vera panik, Axel tiba-tiba memeluk leher Vera. "Axel, kenapa kamu ada disini? Seharusnya di rumah sama papa." Panik mantan istri Bryan. Papa disini adalah suaminya yang sekarang. Bryan mendekati Vera dan ingin menarik Axel tapi pelukan Axel semakin erat. Axel menatap ayah, ibu dan kakaknya. "Axel mau diajarin kakak melukis, Axel gak mau pergi!" Bryan melirik bingung Vera. Vera berusaha tidak menatap Bryan dan fokus dengan Axel. "Kakak tidak bisa, kakak punya kegiatan lain. Kakak harus pulang sekarang." Kedua mata Axel berubah menjadi sedih, bibir mungilnya cemberut menahan tangis. Bryan segera menggendong Axel. "Terima ka-" Vera segera berdiri dan beranjak pergi meninggalkan mereka. Mantan istri Bryan berkomentar. "Apa-apaan orang itu, tidak sopan." Thomas menatap punggung Vera yang sudah menjauh sementara tunangan melirik Thomas di sampingnya. Vera yang berhasil kabur menyentuh jantungnya yang berdetak keras. Gila! Gila! Ketemu pacar dan calon suami?! Aku bisa mati kena serangan jantung gara-gara mereka berdua! Vera menghela napas panjang dan menatap langit begitu sudah keluar dari toko. Bertahanlah, Vera. Hanya dua tahun! ------ Malamnya Thomas berusaha keras menghubungi Vera, tidak ada jawaban. Pakai nomor lain pun tidak diangkat. Apakah dia sudah mengganti nomornya? Thomas melihat aktifitas media sosial Vera, tidak ada pergerakan baru. Begitu ingin masuk ke media sosial Vera, dia terkejut ketika tidak bisa masuk. Dia mengganti nomor sandinya? Apakah dia ingin menghilang dari hidupku?! Tidak lama muncul pesan di nomor yang tidak dikenal. Thomas membacanya. Hai, aku memutuskan untuk menjauh dari kamu sementara waktu. Aku tidak ingin mengganggu kehidupan bahagia kamu bersama wanita cantik tadi, dia sangat cantik dan cerdas lho. Tidak bisa dibandingkan dengan aku yang mageran ini hahahaha- Berikan aku waktu untuk konsentrasi dan sendiri, aku sedang berusaha menghadapi masalah sendirian dan yang pasti tidak mau mengganggu kehidupan kamu. Jadi tolong, jangan cari aku sementara waktu. Setelah selesai membaca, Thomas segera menghubungi nomor itu. Nomornya sudah mati. Thomas melempar handphone di atas tempat tidur dengan kesal. Besok aku harus ke tempat petshop temannya itu, dia pasti ada disana. Tok! Tok! Thomas mengalihkan perhatiannya di depan pintu, melihat sang tunangan berdiri cantik membawa segelas jus. "Aku ingin memberikan ini, untuk menghilangkan haus kamu." Thomas melempar gelas pemberian tunangannya. "Kamu bertemu dengan Vera?" Tunangan Thomas terkejut. "Kamu bicara apa?" "Aku tanya, kamu bertemu Vera tidak?" "Tidak, aku tidak pernah bertemu dengannya. Kenapa kamu marah-marah begitu?" Thomas hendak mengatakan sesuatu lalu ditahannya, masih menatap curiga sang tunangan. "Kamu benar tidak menghubunginya kan?" Tunangan Thomas memutar bola mata lalu bersandar di samping pintu. "Mana mungkin aku menurunkan level untuk bertemu dengan seorang karyawan toko? Lagipula kamu aneh sekali, bermain sama perempuan seperti itu, dia pasti melihat harta kamu." "Vera berbeda!" "Seyakin itu kamu padanya, jangan sampai menyesal. Sebentar lagi kita berdua akan menikah, jadi jangan sampai ketahuan hubungan ini ke orang tua kita." "Aku tahu!" "Pernikahan ini memang untuk menguntungkan kedua ibu kita untuk berbisnis dan menjalin hubungan pertemanan sejak lama, kita berdua juga saling menghargai masa lalu. Aku tidak akan terima ada perselingkuhan di saat pernikahan makanya aku ingin kita saling berusaha menghapus masa lalu sebelum pernikahan. Jika kamu tidak bisa bangkit dari masa lalu, sebaiknya kita hentikan saja." Thomas menarik tangan tunangannya untuk dipeluk. "Aku tidak bermaksud kasar, aku memang tidak bisa bangkit untuk sekarang jadi berikan aku waktu sebentar saja." Tunangan Thomas menyandarkan kepalanya di bahu. "Aku tahu, makanya aku bersabar. Kita berdua sudah saling berjanji." Thomas mengeratkan pelukannya sementara sang tunangan tersenyum penuh arti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN