DELAPAN

1048 Kata
Saat pet shop dibuka Ayu. Thomas menemui Ayu. "Ayu!" Ayu terkejut lalu menoleh. "Kamu tahu nomor Vera yang baru?" Ayu mengerutkan kening dengan bingung dan balik bertanya. "Dia ganti nomor?" "Kamu tidak tahu?" tanya Thomas dengan curiga. "Aku tidak tahu, soalnya dia jarang main ke sini." "Kamu tahu alamat tempatnya bekerja?" "Gak mungkin kamu mau ke sana, di sana ada anjing dan gudang pakan hewan." Thomas mengerutkan kening dengan jijik lalu mendecak kesal. "Buat apa sih dia mau kerja di sana?" "Kalian kan bertemunya di toko ini." Thomas melirik kesal Ayu lalu mencoba hubungi Vera lagi. Tidak tersambung. "Sudahlah, kalau memang dia tidak mau sama kamu lagi. Jangan dikejar." "Kamu tidak tahu masalahku dengannya!" bentak Thomas lalu pergi meninggalkan pet shop. Ayu melambaikan tangan dengan santai. Sementara di tempat kerja, Vera tenggelam dalam pekerjaan. Saat ini mandor sedang sibuk bongkar pasir hewan sementara Vera mengawasi sales, dua kuli dan sopir untuk muat barang yang akan dikirim besok. Sales bernama Seto naik ke lantai atas gudang dan melempar barang dari atas lalu ditangkap dengan salah satu kuli, kuli lainnya oper barang ke truk yang ditata oleh sopir. "Creamy treat cat lima puluh boks dan dog dua puluh boks," teriak Seto sementara Vera mencatat orderannya. Sekitar tiga jam, truk sudah penuh dengan muatan, diganti dengan truk lainnya sementara Seto sedang membuat nota untuk customer. Vera kembali mencatat sekaligus memastikan barang itu benar atau tidak. Karena kadang kala sales tidak memperhatikan barang yang dilemparnya sesuai. Misalnya barang A punya berbagai macam jenis, si sales tidak memperhatikan jenis barang itu. Lain halnya jika dalam bentuk karung. Setelah semua selesai, Vera segera masuk ruangannya dan potong stok sales ke sistem. Tiba-tiba sales bernama Jaya naik ke ruangan Vera dan bertanya dengan khawatir. "Stok pakan kucing mister b yang ikan sisa berapa?" Vera segera melihat di sistem. "Seratus dua puluh empat." "Di gudang ada sembilan puluh tiga sak." "Hah?" "Berarti belum kamu potong semua?" "Sudah kok, ini yang terakhir malah. Wait, aku coba cari dulu. Kamu coba cari di cctv sama Tuti." Tuti dengan sigap berdiri dan membantu Jaya untuk melihat barang keluar pakan itu sementara Vera mencari selisih barang. Tidak lama Jaya keluar sambil mengirim pesan ke customernya. "Kalau donat ada berapa?" Vera segera menjawab tanpa memalingkan wajah. "Sembilan puluh tiga." Jaya bergegas turun dan menghitung sisa barang di gudang lalu naik ke kantor Vera dan menghela napas lega. "Ada bolong satu dan ditaruh di tempat terpisah, itu tetap aku hitung 'kan?" "Ya." Angguk Vera. "Berarti benar." "Kenapa memangnya?" tanya Tuti yang sudah duduk di mejanya. "Aku kirim barang terus kurang satu, untung memang ketinggalan." "Aku sudah potong stok di sistem lho," kata Vera. "Iya, ini aku kirim segera ke customernya. Terima kasih." Ucap Jaya lalu turun. Bryan memperhatikan kesibukan Vera lewat cctv di kantornya yang tersambung dengan handphone saat di hotel. "Sibuk juga dia atau memang menyibukkan diri?" Thomas yang baru datang, terkejut saat melihat ayahnya sudah duduk di dalam ruangan. "Ayah?" Bryan melihat jam tangan. "Jam sebelas siang, dari mana saja kamu baru datang jam segini?" Thomas meletakkan tasnya di atas sofa. "Ibu telepon, minta diantar ke mall sebentar. Setelah drop, aku langsung ke kantor. Ayah tumben ke sini, biasanya di gudang." Bryan mendecak miris. "Kamu lebih suka kerja di hotel daripada datang ke gudang? Memang serendah apa pekerjaan ayah di mata kamu?" "Hotel ini milik keluarga ayah, aku hanya meneruskan. Masalah bisnis ayah yang lain tentang hewan, serahkan saja ke Axel." "Kamu benci hewan?" "Tidak juga. Tapi aku tidak suka ruangan kotor. Ayah, ada yang bisa aku bantu? Atau ada masalah apa sampai datang ke hotel?" Bryan yang memakai kemeja dan dasi, bersandar di kursi putarnya dan menatap lurus putra sulung. "Sebentar lagi kamu menikah, apakah kamu tidak ingin hadiah dari ayah?" Thomas yang berdiri berhadapan dengan ayahnya dan hanya berbatasan dengan meja marmer besar, menatap bingung sang ayah. "Kenapa ayah tiba-tiba bertanya?" "Karena ayah ingin bertanya." "Ayah tetap duduk di posisi semestinya, aku yang akan menangani semua, ayah tidak perlu khawatir lagi." Bryan menaikan kedua alisnya. "Senang punya anak yang pengertian." Thomas tersenyum. "Rasanya ayah merasa bersalah karena sudah membuat kamu menjadi anak broken home." "Ayah masih bertanggung jawab padaku dan Axel sementara ibu juga masih menyayangi kami meskipun sudah menikah, jadi kami tidak merasakan hal itu." Bryan menatap datar Thomas. "Jika kamu ingin sesuatu, hubungi ayah. Selama ayah bisa mengabulkannya, akan ayah lakukan." "Ya, terima kasih. Untuk saat ini tidak." Bryan menyipitkan matanya dengan curiga. "Kamu tidak selingkuh?" Thomas tertawa. "Ayah bicara apa? Aku tidak mungkin selingkuh, tunanganku sudah sempurna." Bryan menatap tidak percaya Thomas. Lalu bagaimana dengan Vera? "Ayah, jika di sini untuk mengganggu- sebaiknya pergi ke gudang dan urus bisnis ayah sendiri. Aku mau bekerja." "Ei, anak nakal. Apa salahnya sih ayah di sini sementara kamu di sana? Lagipula kamu tidak pernah sekalipun pergi ke gudang dan toko-toko ayah, ayah dapat banyak uang juga dari sana." "Terima kasih, aku tidak tertarik. Aku lebih nyaman menjalankan hotel." "Ah, begitu ya." Tok tok tok. "Masuk." "Pak Thomas." "Ada apa?" "Ada tamu komplain soal air kamar mandi yang macet, ketika di cek memang airnya tidak keluar. Saya sudah panggil tukang tapi belum ada yang datang. Saya suruh pindah kamar mereka tidak mau karena pemandangannya cocok buat melukis, itu memang kamar yang dia sewa setiap tahun." "Pelukis itu lagi?" "Ya." "Sudah tahu setiap tahun si pelukis datang untuk booking kamar, kenapa kalian tidak cek kamar? Dimana manager operasional dan engineering?" "Manager sedang keluar meeting dengan grup, engineering sibuk di hotel cabang karena anda suruh mereka membantu cabang." Thomas memegang kepalanya yang sedikit pusing. Vera tidak bisa dihubungi, ayahnya yang tiba-tiba datang, lalu masalah di hotel juga. "Ini tugas kalian, kenapa kalian limpahkan ke aku? Tujuan kalian aku bayar untuk apa?" "Tapi- tamunya ingin bicara dengan general manager." "Bilang saja dia pergi, aku tidak perlu menemui mereka!" Bryan melihat cara putranya bekerja, tidak sesuai dengan harapannya selama ini. Dia lalu mengambil alih intruksi Thomas ke fo. "Suruh sebagian engineering balik ke hotel dan memperbaiki kerusakannya, berikan tamu servis gratis makan malam sebagai permintaan maaf, dia pelanggan tetap kita. Tidak bisa dikecewakan." "Baik, terima kasih tuan besar." Kata staff fo itu lalu menutup pintu dengan sopan. Bryan menatap miris putra kandungnya. "Jadi begini cara kamu bekerja selama ini?" "Ayah, moodku sedang buruk. Aku tidak bisa berpikir jernih." "Itu bukan alasan," kata Bryan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN