Tuti menemani Clara keliling gudang sambil menjelaskan sistem pekerjaan di sana. Gudang penyimpanan full berisikan makanan anjing, kucing, kelinci dan bahkan hamster. Gudang terbagi menjadi tiga ruangan yang terpisah. Satu ruangan besar berisikan pakan hewan yang aman di kantong pemilik hewan, makanannya pun kebanyakan untuk kucing dan anjing, baik untuk makanan basah ataupun makanan kering. Lalu ruangan kedua yang lebih tertutup berisikan makanan hewan kualitas premium yang empat ratus gramnya sudah diharga lima puluh ribu dan sepuluh kilonya seharga satu juta lebih, sementara ruangan lain berisikan kandang dan pasir untuk kucing, dan hamster.
Clara mengangguk takjub ketika melihat beberapa karung makanan hewan ditumpuk rapi sampai menggunung. "Anak-anak pasti bekerja keras membuat gudang serapi ini."
Mandor yang berdiri di belakang mereka berdua, berkata. "Wajar harus serapi ini, biar memudahkan kami dalam bekerja. Ngomong-ngomong sudah lama ibu tidak datang ke sini semenjak bercerai dengan bapak."
Clara tertawa renyah lalu memberikan bingkisan di tangannya ke mandor. "Kami sudah bercerai dan memiliki kegiatan masing-masing, kedua putraku juga sama."
"Kapan-kapan main ke sini lagi bu, kami tidak gigit kok."
Semua orang tertawa begitu mendengar candaan jayus sang mandor.
Vera melihat dari lantai atas ruang kerjanya yang terhubung dengan gudang belakang. Interaksi mereka membuatnya iri, seolah tidak memiliki beban di dalam hidupnya.
Vera menghela napas panjang lalu kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaan. Tanpa sadar, seorang anak kecil menarik lengan bajunya, dia terkejut begitu melihat Axel berdiri di sampingnya, tersenyum penuh minat.
"Kakak." Sapa Axel sambil melambaikan tangan mungilnya.
"Mama kamu ada di bawah, kenapa di sini?" tanya Vera yang celingukan kanan kiri. "Kalau di sini, pura-pura tidak kenal kakak ya."
Axel cemberut. "Kenapa?"
"Karena-" Vera memutar otaknya.
"Kakak lagi sembunyi?"
"Apa?"
"Sembunyi dari orang jahat."
Vera terpaksa mengangguk, dia tidak punya ide lain lagi.
"Kalau begitu, Axel mau bantu tapi ada syaratnya."
"Syarat?"
"Kakak menggambar buat Axel dong."
"Gambar ya-"
Axel mengangguk antusias.
Vera mengambil kertas yang sudah dipotong menjadi dua di printer lalu menggambar kepala karakter manga dan menulis nama Axel, dia sengaja tidak menulis namanya sendiri supaya tidak ketahuan.
Selesai menggambar, dia langsung menyerahkannya ke Axel. "Ini."
Kedua mata Axel berbinar ketika melihat gambar yang dibuat Vera lalu menunjuk tulisan kecil. "Ini nama Axel?"
Vera mengangguk kecil. "Ya."
Axel tertawa lebar lalu menunjuk mulutnya. "Sama."
Vera jadi gemas melihat tingkah lucu anak ini, sayang sekali kelakuan ayah dan kakak Axel menjengkelkan baginya.
"Ini upah Axel ya, uang tutup mulut."
Vera menghela napas panjang. "Siapa yang mengajari kamu kalimat itu?"
"Kakak, kakak selalu bayar Axel supaya tidak ketahuan pacarnya."
Vera menaikkan salah satu alis. "Apa?"
"Kakak mau tahu?" tanya Axel dengan tatapan polos.
Vera menggeleng ngeri. "Tidak, aku tidak mau tahu."
"Oke." Ucap Axel sambil lari menuruni tangga.
Vera spontan menjaga Axel turun. "Hati-hati! Jangan lari begitu!"
Begitu mencapai bawah tangga, Vera terkejut melihat Bryan sudah berdiri di bawah tangga dan menangkap Axel yang tertawa terbahak-bahak.
Bryan menangkap sosok Vera di tengah tangga dan ikut terkejut.
Tawa Axel lenyap ketika melihat ibunya datang dari arah gudang.
Clara tersenyum melihat putra mungilnya dipeluk sang ayah. "Axel, kenapa ayah memeluk kamu seperti itu? Kamu nakal ya?"
Vera yang berdiri di tangga dengan diapit tembok di sisi kanan dan kiri, hanya berdiri diam, tidak berani bergerak.
"Dia lari di tangga, Vera tadi mengejarnya supaya tidak jatuh. Untung aku tangkap lebih dulu." Bryan cerita ke Clara.
Vera bisa melihat sorot mata cinta dan sedih Bryan ke Clara. Posisi yang tidak bisa aku gantikan.
Clara menatap ke arah tangga lalu tersenyum. "Terima kasih sudah mau menjaga Axel, anak ini memang nakal."
Vera menjawab dengan senyum canggung.
Bryan melirik sekilas Vera lalu menarik bahu Clara. "Kamu sudah makan? Aku pesankan makan ya."
"Aku baru saja kasih kue buatanku ke anak-anak."
"Jatahku?"
"Kamu mau?"
"Kamu melupakanku?"
"Nanti aku buatin deh."
Meskipun Vera tahu bahwa dirinya tidak pantas cemburu, tapi rasanya menyakitkan. Harusnya dia tidak menyerah soal uang, hingga tidak terjerumus sampai sekarang.
Vera kembali ke kantornya dan berusaha melupakan kejadian tadi.
-----------
Vera yang memutuskan tidak pulang cepat dan duduk di kafe sambil mencari lowongan pekerjaan part time, terkejut ketika ada seseorang yang mengetuk mejanya.
"Thomas."
Thomas menatap kesal Vera dan duduk di hadapannya. "Aku mencari kamu kemana-mana, apakah kamu ganti nomor handphone?"
"Aku hanya ingin sendirian."
Thomas mengambil handphone Vera lalu mengerutkan kening ketika melihat list pekerjaan. "Kamu ada masalah di tempat kerja?"
"Tidak, aku-"
"Ah, aku paham sekarang! Kamu ada masalah di kantor dan tidak ingin aku terlibat." Decak Thomas lalu cek nomor baru Vera. "Kamu bisa kerja di hotel aku, dengan begitu aku bisa menjaga kamu."
"Tunangan kamu bagaimana?"
"Kami hanya tunangan secara formal, hatiku tetap untuk kamu. Kamu tahu 'kan dunia bisnis, kami harus menikah untuk mendapat keuntungan."
Vera merasa rendah diri ketika mendengar perkataan Thomas.
"Aku tidak bisa publish hubungan kita tapi setidaknya aku bisa memperlakukan kamu seperti ratu."
Vera mengambil kembali handphonenya. "Aku bukan wanita rendahan seperti itu."
"Aku tidak pernah menjadikan kamu wanita rendahan, kamu kekasihku."
"Aku-"
"THOMAS!"
Thomas dan Vera menoleh, Bryan memergoki mereka berdua dengan marah.
"Kenapa kamu di sini? Siapa dia?" tanya Bryan sambil berjalan mendekati putranya.
"Ayah kenapa ada di sini?"
"Ayah hanya keluar bersama teman setelah mengantar ibu dan adik kamu pulang, kamu selingkuh?"
Thomas menjawab dengan santai. "Kami hanya bertemu tidak sengaja. Kenalkan, ini."
"Aku tidak butuh kenal dia, pulang sekarang!" potong Bryan. "Kamu ke sini naik mobil?"
Thomas menatap kesal Bryan. "Aku sudah dewasa, aku hanya bertemu teman. Lagipula tunangan aku lebih cantik darinya, bagaimana bisa aku dicurigai selingkuh?"
"Bryan, ayah tidak pernah bicara sekasar itu."
"Aku benar tidak sengaja bertemu, aku ke sini hanya untuk cari penghiburan dan temanku kasih tahu tempat ini cocok untuk menyendiri."
"Pulang atau ayah hukum kamu!"
Thomas berdiri dan berjalan melewati Bryan, sampai akhir pun Bryan tidak menatap Vera.
Efan menghela napas panjang. "Untung saja tadi orang itu datang pakai mobilku."
Vera membereskan peralatan tulisnya ke dalam ransel.
Efan yang melihat itu, membantunya. "Kamu, jangan tersinggung dengan sikap Bryan ya. Memang dia orangnya seperti itu, tapi dia baik."
Vera melirik sekilas Efan lalu mengangguk.
Efan yang melihat sikap Vera, bertanya. "Kamu kesini naik apa? Biar saya antar."
Vera memakai tas ransel. "Tidak apa, saya bisa pulang sendiri. Terima kasih.
Efan menjadi penasaran. "Kamu datang sendiri atau bersama pria tadi?"
Vera hendak menjawab lalu terdiam dan menatap lurus Efan.
"Tidak mau menjawab?"
"Anda- mungkin tidak akan percaya dengan jawaban saya, tapi daripada memikirkan cinta, di kepala saya hanya ingin menyelesaikan masalah yang sedang saya hadapi."
Efan terdiam.
"Permisi." Vera berjalan melewati Efan.
Efan menatap miris punggung wanita itu. Dia tidak cocok menjadi istri Bryan, kasihan. Batinnya.