Jangan Hina Anakku!

1294 Kata

"Selamat malam Bu Halwa," sapa seorang suster mendorong troli makanan. "Malam, Sus." "Gimana keadaannya sekarang?" "Sudah lebih baik, Suster," jawabku lesu. "Makan yang banyak ya," ucapnya sembari memeriksa layar detak jantung janinku. "Detak jantungnya sudah mulai normal lagi," ujarnya. "Alhamdulillah kalau begitu Sus." Aku merasa lega, bayiku sudah baik-baik saja. "Kamu akan jadi anak yang kuat kaya kakak Bian ya sayang." Elusku pada perut yang mulai terasa bergetar. "Ih, perutmu bergetar, Hal," pekik Radit antusias. Aku hanya tersenyum, lalu kembali mengelusnya. Radit mendekat, terlihat binar matanya bergerak beraturan, memperhatikan getaran perutku. "Kamu nanti akan merasakan bahagianya punya anak sendiri, Dit," ucapku pelan. Dia diam, matanya terangkat menatapku lekat. "

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN