Aku tersadar, ketika ada yang mengetok pintu. Gila! Benar-benar gila! Aku masih merasakan napas hangat Gerald di leherku. Aku malah tersenyum bangga. Baru pacaran dan sudah tidur bersama. Dalam artian tidur beneran. Aku takut, orang di rumah ini mengira yang tidak-tidak. Nanti, aku dicap w**************n. Walau nyatanya, aku lemah dan bodoh. Aku menurut saja, ketika dia memerintahku. Seperti kerbau di cocok hidung. "Gerald bangun." Aku menguncang bahu Gerald napasnya masih teratur. "Bangun." "Bangun sayang." Aku menguncang badannya lagi. Aku memperhatikan tekstur wajahnya, sama seperti bule pada umumnya. Ku amati hidungnya, dan hidungnya begitu mancung, dengan hidung yang runcing di ujungnya. Aku menarik hidungnya, dan mencubit pipinya. Pipinya tirus, tidak ada isi sama sekali.

