"Duduk," titah Rafli meminta Alana untuk duduk di sampingnya. Alana kembali menoleh pada pintu kamar yang terkunci, ini adalah kali pertama ia masuk ke kamar seorang Rafli Razza Samuel. Nuansa kamar dengan lampu berwarna biru membuat Alana merasa tenang, ditambah aroma maskulin yang menyeruak masuk ke indera penciumannya. Kamar Rafli terasa begitu nyaman, pantas saja Rafka sering menghabiskan waktu di kamar saudaranya. "Kak---" Kalimat Alana terhenti saat Rafka menarik tangannya hingga ia tepat duduk dipangkuan pemuda itu. Pipi Alana memanas, apalagi saat lengan Rafli melingkar sempurna di perutnya. Jangan lupakan wajah Rafli yang sudah berada di lekukan lehernya. "Aku kangen..." ucap Rafli. "Banget..." tambah pemuda itu. Alana meremang, merasakan bulu kuduknya berdiri, tubuhnya tera

