18

1360 Kata
Mobil Rafli berhenti di parkiran taman kota. Rafli turun lebih dulu, berniat membukakan pintu untuk Alana namun Alana membuka pintu sendiri dengan ekspresi polos pada Rafli yang berdiri didepan pintunya. "Cepat," ucap Rafli dingin melangkah sendiri disusul Alana yang tersenyum pada beberapa orang yang juga tersenyum padanya. "Eh, itu Kak Rafli kan?" "Iya, sama Alana!" "Mereka beneran punya hubungan spesial ya?!" Rafli menoleh pada Alana yang terdiam mendengari bisikan para gadis yang mungkin adalah murid SMA Samudera. "Lana," panggil Rafli menggandeng tangan gadis itu meninggalkan para gadis yang terang- terangan membicarakan mereka. "Mau makan sate?" tawar Rafli. "Boleh," jawab Alana yang sudah duduk di kursi taman sementara Rafli memesan makanan untuk mereka. "Tunggu, ya. Antriannya banyak," jelas Rafli setelah duduk disamping Alana. "Iya," jawab Alana lagi tersenyum singkat pada Rafli. Rafli terdiam, bingung harus berkata apa. Tiba- tiba Alana menepuk pelan lengan Rafli. "Kak, itu Kak Alden kan?" tunjuk Alana hingga Rafli mengikuti arah pandangannya pada Alden yang tengah tertawa bersama seorang gadis, duduk santai memakan sosis bakar. "Iya, Nea mana ya?" tanya Rafli mengira kalau Nea juga ada ditempat tersebut. "Mau kemana?" tanya Alana saat Rafli bangkit dari duduknya. "Kesana bentar, nemuin Alden," ucap Rafli berniat sekedar menyapa sahabatnya. "Nemuin Kak Alden, atau nyari Kak Nea?" tanya Alana memegang jaket Rafli. Rafli kembali duduk sambil menghela napas lalu mengangkat tangan menyentuh kepala Alana. "Kan udah gue bilang, gue sama Nea nggak ada hubungan apapun." Ulang Rafli sekali lagi. "Iya," jawab Alana. "Aku juga nggak berhak negur Kakak," tambah Alana menunduk tanpa menghiraukan tatapan berbeda dari Rafli. "Aku kan... cuman babu Kakak," ucap Alana mencoba tersenyum. "Lo cewek gue, perlu berapa kali sih gue bilang?" ucap Rafli menggenggam tangan Alana. Alana mengangguk saja hingga makanan mereka datang dan berkali- kali Rafli melayangkan pandangannya pada Alden yang tengah duduk bersama seorang gadis. Apakah memang tak ada Nea disana. "Udah selesai?" tanya Alana menyadarkan Rafli. "Udah, habis ini mau kemana?" tanya Rafli balik. "Pulang aja," ucap Alana menatap ponselnya sejenak. "Liat HP lo," pinta Rafli menadahkan tangan sambil meneguk minumannya. "Buat apa?!" tanya Alana bingung. "Liat," pinta Rafli lagi. Alana menyerahkannya, ponselnya memang bukan ponsel mahal tetapi sudah cukup membuatnya dapat memberi kabar pada sang ayah, juga mengerjakan tugas sekolah. "Teman- teman lo minta kerjain tugas sama lo?" tanya Rafli membaca beberapa pesan masuk di w******p gadis itu. Alana mengangguk membenarkan. "Berhenti pakai HP ini, ganti nomer!" tegas Rafli memasukkan ponsel Alana ke sakunya lalu membayar makanan mereka. "Kak, tapi---" "Enggak ada tapi- tapian! Ayo," ajak Rafli membuat Alana kembali mengangguk hingga mobil mereka pergi meninggalkan kawasan taman. Tatapan seorang gadis yang bersama Alden tertuju pada kursi Rafli dan Alana yang sudah kosong. Gadis itu tersenyum kembali menatap Alden. Kini mobil Rafli kembali memasuki kawasan Mall membuat Alana berpikir apakah Rafli ingin membeli barang mahal seperti kemarin. "Ayo," ajak Rafli dan kali ini ia membukakan pintu untuk gadis itu. Rafli menggandeng Alana hingga memasuki sebuah toko ponsel. Alana menyerngit, dengan mudahnya Rafli menunjuk ponsel yang bahkan nominalnya membuat Alana meneguk saliva. "Kak," cegah Alana saat Rafli benar- benar berniat membeli ponsel tersebut. "Bukannya HP Kakak masih bagus ya?" tanya Alana ragu. Rafli tak menghiraukannya lalu membayar ponsel mahal tersebut dengan kartu kreditnya. "Atas nama Samuel? Anda mendapat potongan harga, juga bonus yang akan segera kami siapkan. Silahkan menunggu," ucap kasir dengan senyum ramah. "Sekalian sama kartu teleponnya," ucap Rafli lalu mengajak Alana duduk, membuat Alana gelisah. "Kak," tegur Alana lagi. "15 juta, bisa buat beli motor!" ucap Alana spontan membuat Rafli tertawa akan tingkah gadis itu. Seorang pelayan menghampiri mereka menyerahkan papper bag juga boneka menggemaskan berukuran sedang. "Terimakasih sudah berkujung," ucap pelayan tersebut melambai pelan pada kepergian Rafli dan Alana. "Kak, bonekanya buat aku aja ya?" pinta Alana. "HP nya juga," unjuk Rafli menyerahkan papper bag pada Alana. "HAH?!" kaget Alana membuat beberapa orang menoleh padanya. Rafli terkekeh merangkul bahu gadis itu hingga mereka kembali berada di mobil. "Kak? Maksud Kakak? Buat aku?" tanya Alana tak percaya. Rafli mengangguk saja lalu menjalankan mobilnya. "Kakak serius?! Ini, mahal banget!" ucap Alana kembali membuat Rafli tersenyum dan saat mobil berhenti di lampu merah, Rafli menoleh menatap gadis itu yang masih menampilkan tatapan lugu. Rafli kembali melajukan mobilnya dan berhenti di jalan setapak menuju rumah Alana. Pemuda itu membuka papper bag lalu menyalakan ponsel bermerk apel gigit keluaran terbaru bahkan lebih unggul dari ponsel Rafli yang sering terbanting. "Kak... ini, kemahalan," cicit Alana. "Bukannya aku nggak terima pemberian Kakak, tapi HP aku yang dulu masih bisa digunain kok," ucap Alana lagi. Rafli tak memperdulikan itu, ia memasukkan beberapa nomer telepon di ponsel tersebut kemudian menyerahkannya pada Alana. "Disini cuman ada nomer gue dan Ayah lo," jelas Rafli menyerahkannya pada Alana. "Kak..." ragu Alana menerima ponsel tersebut. "Makasih banyak," ucap Alana tersenyum menatap Rafli. "Sama- sama, sayang." Rafli menjawab mengusap kepala Alana. Pipi Alana memanas mendengar nada bicara lembut dari pemuda itu. Tiba- tiba ponsel Rafli berdering dan ternyata panggilan yang berasal dari Nea. "Angkat aja," ucap Alana. Rafli mengangguk memilih mengeraskan volume agar Alana juga mendengar percakapannya. "Apaan?" tanya Rafli meraih tangan Alana agar berada dalam genggamannya. "Si Alden, songong banget punya cewek!" Rafli tertawa pelan mendengar nada bicara Nea hingga membuat Alana sadar kalau ia dan gadis bernama Nea Thalia Atthara, sangat berbeda. "Yaudah, lo cari cowok juga," jawab Rafli tak berniat menceritakan kejadian saat ia bertemu dengan Alden pada Nea. "Lo dimana? Gue mau kerumah lo." Rafli menoleh pada Alana yang juga tengah menatapnya. "Gue di luar, sama Alana," ucap Rafli. "Dih! Songong banget! Sama aja kayak si Alden!" Rafli kembali tertawa membuat Alana juga tersenyum. "Gue matiin deh! Enggak mau ganggu kalian, jiakhhh!" Nea memutuskan panggilannya sepihak membuat Alana terkejut. "Ayo, gue antar pulang," ucap Rafli berniat kembali melajukan mobilnya. "Aku jadi nggak enak sama Kak Nea," ucap Alana jujur. Rafli menoleh, menatap ekspresi murung gadis itu. "Udah biasa kayak gitu, Alden emang sering gonta- ganti cewek," jelas Rafli melajukan mobilnya hingga tiba didepan rumah Alana. "Besok sekolah sama gue ya?" pinta Rafli. Alana mengangguk bergegas turun dari mobil membawa boneka dan juga papper bag ponsel yang dibeli Rafli. "Lana," panggil Rafli menahan pergerakan Alana. "Kenapa?" tanya Rafli pada gadis itu. "Enggak papa, makasih ya. Aku turun----" Alana melotot, saat Rafli mencium pipinya. "Kkak---" gugup Alana meneguk salivanya dengan susah payah. "Biar, gini dulu..." pelan Rafli memejamkan matanya. Esok harinya, Rafli kembali membukakan pintu untuk Alana hingga membuat Alana tersenyum. "Sekarang Kakak beda," ucap Alana jujur. "Lebih hangat," ucap Alana membuat Rafli menggenggam tangannya berniat mengantarkan gadis itu kekelas namun langkah mereka terhenti saat melihat Alden berjalan dengan gadis tadi malam. "Hai Kak Rafli!" sapa gadis itu membuat Rafli menyerngit. "Apaan sih," sinis Rafli menyenggol bahu Alden masih menggenggam tangan Alana. "Maksud lo?" tanya Alden menoleh pada Rafli. "Nggak jelas lo," ucap Rafli dingin. "Mau- maunya sama lont---" "Kak!" cegah Alana sebelum Rafli melontarkan kalimat kasar yang mungkin saja menyakiti perasaan Alden juga gadisnya. "Jaga omongan lo," tunjuk Alden pada Rafli. "Nafsu lo yang dijaga," dingin Rafli mengeratkan genggamannya pada Alana. "Selera lo rendah banget," cibir Rafli membuat Alden naik pitam. Buk!! Alden mendorong Rafli hingga pemuda itu mundur beberapa langkah bahkan genggamannya pada Alana terlepas. Rafli melepas tasnya, melemparnya asal lalu membalas perbuatan Alden bahkan sampai memukul Alden hingga Alden terjatuh. "Kak Rafli!" cegah Alana berusaha melerai namun Rafli tak peduli. Rafli duduk diatas tubuh Alden lalu memukuli wajahnya tanpa ekspresi apapun. "Boy!" Jantung Rafli berdegup mendengar nada bicara itu. Ia menoleh, begitu pun Alden yang sudah babak belur. "Aduh! Kok kalian berantem?! Kenapa nggak langsung bunuh- bunuhan aja? Nanggung banget," celoteh Rafka berdiri disamping Alana. Nea geleng- geleng kepala pada tingkah dua sahabatnya itu. "Dia, harus dapat pelajaran karena nyakitin Nea!" ucap Rafli tanpa menghiraukan lelaki yang hanya berdiri melipat tangan. Tatapan seantero sekolah sudah tertuju pada mereka. Termasuk beberapa guru. "Rafli! Lo apa- apaan sih?!" kesal Nea menjauhkan Rafli dari Alden sementara Alana hanya terdiam bingung harus berbuat apa. "Gue nggak mau lo disakitin sama siapapun! Termasuk Alden!" umpat Rafli memeluk Nea menatap Alden yang masih tersungkur tanpa memperdulikan Alana. "Lana, malam ini mau jalan?" tawar Rafka pada Alana, membuat tatapan Alana tertuju pada pemuda itu. "Lo!" bentak Rafli hendak mendekat namun Alana malah mundur seolah menghindari Rafli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN