Alana berlari meninggalkan kerumunan dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi hingga ia menabrak seseorang yang ternyata adalah Nathan Danial.
"Alana?" panggil Nathan menyentuh dua bahu gadis itu.
"Rafli Razza Samuel."
Jonathan bersuara, membuat semua orang terdiam termasuk Rafka sendiri.
"Opa!!" panggil Nesya menghampiri sang kakek kemudian memeluknya.
"Iya, Nesya?" tanya Jonathan lembut.
"Boleh dong, tambahin uang jajan!" pinta Nesya hingga lehernya langsung dirangkul oleh Rafka, apakah Nesya tidak tahu kalau suasana tengah menegang.
"Argh! Rafli mau kejar Alana! Rafli langsung pergi tanpa menghiraukan kehadiran sang kakek.
Nadira, gadis itu membantu Alden bangun. Membuat Nea hanya menampilkan ekspresi datar. Ia memang tak masalah jika Alden memiliki kekasih, memang sejak dulu. Namun sepertinya kali ini Rafli lah yang marah hingga terjadi pertengkaran seperti sekarang.
"Kalian ini..." ucap Jonathan dengan gelengan kecil.
"Nesya mau jajan apa sayang?" tanya Jonathan membuat Rafka dan Nea melongo.
"Yeay!!" girang Nesya menjulurkan lidahnya pada Rafka.
Alana menangis duduk diatas rerumputan taman belakang sekolah tanpa mempedulikan Nathan yang hanya diam menatapnya.
"Jangan sedih dong, kalau lo sedih, Ibu lo juga bakalan sedih," ucap Nathan membuat Alana menatapnya.
"Kamu, tau sesuatu kan tentang Ibu aku?!" tanya Alana tak sabaran.
"Mungkin," jawab Nathan terkekeh mengusap air mata Alana dengan jemarinya.
"Dimana Ibu aku?" tanya Alana menahan isakannya.
Nathan tersenyum mengendikkan bahunya.
"Jawab aku!!" pinta Alana mencengkram dua bahu pemuda itu.
"Alana!"
Rafli menarik Alana menjauhi Nathan yang kini tertawa mendongakkan kepalanya.
"Kak Rafli!"
Plak!
Pipi Rafli memanas setelah mendapat tamparan dari Alana. Alana mulai memucat, menutup mulutnya tak percaya atas apa yang baru ia lakukan.
"Kk-- Kak..." gugup Alana menggeleng pelan saat Rafli kembali membuka mata menatapnya tanpa ekspresi apapun.
"Aw!" Alana meringis saat Rafli menariknya, ah lebih tepatnya menyeret dirinya meninggalkan Nathan yang masih duduk di rerumputan.
"Kak! Aww..."
"Sakit!!"
Rafli membawa Alana masuk ke ruangan sebelumnya lalu mengunci pintu. Ia mendorong pelan Alana hingga gadis itu jatuh ke lantai mengusap tangannya.
Rafli melonggarkan dasinya, duduk dikursi menatap Alana yang masih berada di lantai menatapnya dengan takut.
"Berlutut!"
"Kak..." lirih Alana menangis tersedu- sedu.
"Berlutut!!" bentak Rafli kasar.
Perlahan, Alana mengubah posisinya menjadi berlutut, masih menangis menundukkan wajah.
Rafli mendongakkan kepalanya, menatap langit- langit ruangan. Pemuda itu memejamkan mata masih dengan tangan terkepal mencoba menenangkan emosinya hingga isakan Alana berhenti.
"Lana," panggil Rafli parau.
Tangannya bergerak hendak menyentuh wajah Alana namun Alana berpaling, membuat pergerakan Rafli terhenti.
"Lana," panggil Rafli lagi tak kunjung membuat Alana menatapnya hingga Rafli bangkit mengusap wajahnya lalu menendang kursi meluapkan kekesalannya.
Alana terkejut, dengan tangan gemetar, menatap lututnya yang terus dijatuhi air mata.
"Udah gue bilang jangan dekat sama cowok lain! Apalagi cowok tadi!!" tegas Rafli menarik kasar dagu Alana hingga menatapnya.
"Hiks... Kakak..."
Alana kembali terisak mengusap air matanya.
"Aku takut..."
"Maafin aku..."
"Hiks..."
Apakah Rafli mengira, Alana tidak terluka melihatnya memeluk Nea? Ah, Alana tidak bisa berkata demikian karena ia tak punya hak mencegah Rafli dengan perempuan lain. Ia, hanyalah babu untuk Rafli dan selamanya akan terus begitu sampai pemuda itu merasa bosan dengannya. Mungkin juga Alana yang merasa bosan dengan Rafli.
"Maaf..." ucap Alana lagi.
Rafli tak akan pernah berubah, pikir Alana kalut bingung harus berkata apa lagi selain kata maaf.
Rafka mendengarkan diluar ruangan dengan tangan terkepal, saat ia hendak masuk rupa- rupanya pintu terkunci membuat Rafli tersadar kalau ada seseorang diluar mendengari percakapan mereka.
"Rafli! Buka!" teriak Rafka mulai menendang- nendang pintu.
"Buka pintunya!!" ucap Rafka lagi.
Rafli mengepalkan tangan, menarik satu kursi bersiap membuka pintu.
"Kakak!" cegah Alana saat Rafli sudah mengangkat kursi siap melayangkannya pada Rafka jika pintu terbuka.
"Jangan! Hiks!" isak Alana menahan pintu yang terus di tendang oleh Rafka berharap agar Rafli mengurungkan niatnya.
"Rafli!"
"Apa yang lo lakuin ke Alana!"
"Sialan!! Buka!!"
Rafka berteriak emosi.
"Kak Rafka.. pergi.." usir Alana menahan isakannya.
"Enggak! Rafli udah kelewatan!" tegas Rafka masih menendang pintu.
"Kalau lo masih disini, gue bakal sakitin Alana lebih dari ini!" ancam Rafli menatap Alana tajam.
"Buka!!"
Alana jatuh meringsut memeluk dirinya.
Brak!!
Untung saja Rafli dengan segera menarik Alana yang hampir saja terkena reruntuhan pintu yang sudah rusak akibat tendangan brutal Rafka.
"Lana!"
Rafka mengambil alih Alana dari dekapan Rafli.
"Alana, lo nggak papa?" tanya Rafka panik menangkup wajah gadis itu.
"Aku... nggak papa..." pelan Alana membohongi diri sendiri.
Rafka memeluknya, bahkan mencium kepalanya dihadapan Rafli yang masih terduduk dengan mengepalkan tangan.
"Rafli! Lo benar- benar ya!" kesal Rafka masih mendekap Alana berusaha menenangkan gadis itu.
Rafli bangkit, menarik kursi yang berada didekatnya hingga Alana yang menyadari hal itu langsung menghadap Rafli berusaha melindungi Rafka.
Buk!
Lemparan kursi tersebut tepat mengenai tembok di dekat Alana dan Rafka.
Alana memejamkan matanya hingga tangannya terasa di tarik lembut oleh seseorang yang pastinya adalah Rafka.
"Lepasin tangan lo dari cewek gue!"
Rafka menghentikan langkahnya, menatap saudaranya dengan senyum meremehkan.
"Kita buktiin omongan gue tadi malam," ucap Rafka menantang.
"Alana, lo pilih gue atau Rafli?" tanya Rafka mengusap pelan kepala gadis itu.
Alana terdiam, menatap senyum manis Rafka dan juga Rafli yang terlihat memalingkan wajah sebab Rafli sudah tahu jawaban gadis itu.
"Maaf..." ucap Alana pelan.
Rafli mengumpat dalam hati dengan mata terpejam, tangannya terasa digenggam oleh seseorang yang ternyata adalah Alana. Rafka menganga tak percaya atas tindakan Alana.
"Aku... udah janji," ucap Alana menundukkan wajah.
"Gadis pintar..." puji Rafli mengusap pelan kepala Alana dengan senyum kecil.
Rafka mengepalkan tangan, kemudian pergi hingga mendapati Alden yang tengah di obati oleh Nadira di UKS.
"Kak Rafli?!" kaget Nadira tersenyum senang.
"Gue Rafka," jawab Rafka duduk di samping Alden dengan entengnya menoyor pelan kepala pemuda itu.
"Apaan sih?!" kesal Alden meringis.
"Tolol..." umpat Rafka.
"Kak Rafka, gimana keadaan Kak Rafli?" tanya Nadira khawatir.
"Masih angkuh," jawab Rafka singkat menatap kedatangan Nesya, Nea dan juga Jonathan.
"Pergi lo!" usir Nesya pada Nadira. Nadira pun pergi dengan decakan kesalnya.
"Nih, jagoan kita," ucap Jonathan menyindir Alden hingga Nea dan Nesya tertawa diikuti Rafka.
"Opa," kekeh Alden menggaruk lehernya.
"Abang ngapain sih? Pacaran sama tuh cewek?!" tanya Nesya melipat tangan.
"Gabut," jawab Alden jujur.
"Dih! Sok ganteng!" kesal Nea diangguki Rafka.
"Rafli mana?" tanya Jonathan.
"Tau," jawab Rafka merebahkan diri di kasur UKS dengan mata yang mulai terpejam berniat tidur.
"Opa, ngapain kesini?" tanya Alden kikuk.
"Gabut," jawab Jonathan langsung membuat Rafka terbahak diikuti yang lain.
"Huh... ini udah jam masuk, kok kalian enggak masuk kelas?" tanya Jonathan berkacak pinggang.
"Hehehe... Samudera, mah bebas!" ucap Rafka, Alden, Nea dan Nesya kompak.
"Ada- ada aja! Yaudah Alden, gimana luka kamu? Apa perlu Opa tambah?" tanya Jonathan tentu saja membuat Alden menggeleng dengan kikuk.
Sementara itu, Nadira mendapati Rafli tengah berjalan menuju rooftop sekolah membawa dua kaleng minuman juga roti.
"Kak Raf---"
Kalimat Nadira terhenti, ternyata disamping Rafli terdapat seorang gadis yang tangannya digenggam oleh Rafli.
Nadira mengepalkan tangan.
"Awas aja Alana! Gue bakal rebut Kak Rafli dari elo!" tukas Nadira.
Nathan yang mendengar hal tersebut sontak tertawa hingga tatapan Nadira tertuju padanya.
"Apaan sih?" tanya Nadira kemudian pergi.
"Alana... Alana..." gumam Nathan dengan gelengan kecil menatap sepasang remaja yang menaiki tangga.