Jam pulang sekolah tiba, Rafli berjalan menggandeng Alana menuju parkiran mobil dan Alana hanya bisa terdiam mendengari bisikan para gadis yang tertuju padanya.
"Hai Kak Rafli, hai Alana?"
Nadira menyapa membuat langkah keduanya terhenti.
"Iya," jawab Alana pelan.
Tanpa menghiraukan Nadira, Rafli melanjutkan langkahnya membuat Nadira tersenyum miring.
"Tunggu di mobil, gue mau---"
"Kemana?" potong Alana pada ucapan Rafli setelah pemuda itu membukakan pintu mobil untuknya.
"Enggak jadi," singkat Rafli membuat Alana masuk ke mobil dan sekarang ia sudah duduk di kursi kemudi dengan satu tangan memegang ponsel dan satu tangan menyetir.
"Kak," panggil Alana, perhatian Rafli sejenak tertuju pada gadis itu.
"Malam ini, aku mau jalan- jalan sama Salsa," ucap Alana menatap Rafli yang juga tengah menatapnya.
Rafli menaruh ponselnya, memilih mengabaikan panggilan yang berasal dari Nesya.
"Sama gue aja, mau kemana sih?" tanya Rafli membuat Alana terkejut.
"Tapi, aku udah lama nggak jalan- jalan sama Salsa, ditambah sekarang juga jarang ke kantin berdua," ucap Alana membuat Rafli berdecak.
"Gue ikut," singkat Rafli penuh penekanan.
"Kak," keluh Alana menghela napas.
"Gue takut elo kenapa- napa! Ditambah malam hari!" jelas Rafli membuat Alana menoleh pada pemuda itu.
Apakah saat ini ia pantas menanyakan tentang perasaan Rafli padanya.
"Aku, bisa jaga diri. Kita juga jalan- jalan di temanin supirnya Salsa," ucap Alana memilih mengurungkan niatnya.
"Enggak," ucap Rafli mengakhiri pembicaraan hingga sampai di depan rumah gadis itu.
"Heh," tegur Rafli saat Alana langsung hendak turun dari mobil.
"Jalan- jalan sama gue aja yuk?" ajak Rafli ragu.
"Setiap malam jalan- jalan, Kakak nggak bosan ya?" tanya Alana dengan polosnya.
"Lo bosan sama gue?" tanya Rafli balik membuat Alana melotot dengan gelengan kecil.
"Enggak! Maksud aku," ucap Alana kembali menunduk, menatap sepatunya.
"Aku turun ya," ucap Alana hingga kecupan Rafli mendarat di keningnya.
"Kabarin gue," pelan Rafli mendapat anggukan dari Alana sebelum ia benar- benar turun dari mobil dan melambai kecil pada kepergian pemuda itu.
Rafli tiba di rumah, benar saja dugaannya kalau sang kakek dan neneknya tengah berada di rumah bersantai di sofa seolah menunggu kedatangannya.
Rafli berdecak menghampiri ruang tamu lalu mencium punggung tangan Jonathan dan Renata yang masih terlihat awet muda dengan senyuman khasnya.
"Bunda sama Ayah mana?" tanya Rafli duduk di dekat Renata.
"Ziarah ke makam," jawab Renata mengusap lembut kepala Rafli.
"Kok nggak ngajak Rafli?!" tanya Rafli sedikit terkejut.
"Lo sih lama, oh iya gue baru ingat kalau sekarang lo itu supirnya Alana," kekeh Rafka menuruni tangga membawa bola basket.
"Ck!" Rafli berdecak malas.
"Assalamualaikum..."
Azka melangkah memasuki rumah bersama isterinya.
"Waalaikumsalam," jawab seisi rumah.
"Bunda, kok nggak nunggu Rafli pulang dulu mau ke makam?" tanya Rafli saat sang ibu duduk di dekatnya. Sementara Azka diajak bicara oleh Jonathan menjauhi ruang tamu, mungkin membicarakan tentang bisnis.
"Maaf ya, kalau nunggu kamu kesorean," balas Ray lembut.
"Oh iya, tadi Bunda juga nggak sengaja ketemu Airi sama Mama Santi di makam," ucap Ray pada semua.
"Wah, Oma udah lama nggak ketemu Santi," ucap Renata jujur.
Ray tersenyum pada ibunya, senyuman penuh kerinduan pada seseorang yang sudah tiada. Rafli lah yang paling memahami hal sekarang ini, bahkan ia sering berkunjung sendiri ke makam seseorang bernama Alif Sanjaya untuk sekadar bercerita bagaimana hari- harinya.
"Semuanya, ayo shalat magrib berjamaah?" ajak Azka menghampiri.
"Rafli, kamu mandi dulu, sana," perintah Ray diangguki Rafli yang berjalan menuju kamarnya disusul Rafka.
"Pergi lo," usir Rafli mengambil handuk sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Jaga, Alana..." ucap Rafka pada saudaranya.
"Jangan bikin dia nangis lagi," pinta Rafka kemudian keluar dari kamar.
Malam pun tiba, mobil Salsa sudah menunggu di depan rumah Alana. Tak lama kemudian Alana membuka pagar mempersilahkan Salsa untuk masuk dulu namun Salsa menggeleng.
"Langsung jalan aja yuk!" ajak Salsa.
Alana tersenyum lalu masuk kemobil.
"Udah lama banget kita nggak jalan- jalan!" ucap Salsa memeluk Alana sejenak.
"Salsa, maaf ya. Akhir- akhir ini aku lebih sering sama Kak Rafli," ujar Alana membuat Salsa terdiam.
"Lana, nggak papa kok! Kak Rafli kan, pacar lo! Cieee!!!" Salsa menyenggol bahu Alana membuat Alana tersenyum malu- malu.
"Non, ini mau ke rumah makan apa ke taman?" tanya supir pada dua gadis itu.
"Rumah makan aja, Pak! Lana lapar!" jawab Alana membuat Salsa tertawa.
"Siappp!" jawab Supir juga ikut tersenyum.
Saat ini dua gadis itu sudah duduk di salah satu kursi menunggu makanan mereka datang.
"Ih, gue dengar kalau Kak Alden pacaran sama Nadira?" tanya Salsa memulai pembicaraan.
"Kayaknya, aku juga nggak tahu," ucap Alana jujur.
"Nadira itu cewek kecentilan, anak- anak di kelasnya juga bilang kayak gitu!" jelas Salsa membuat Alana tersenyum.
"Lana, lo beruntung banget bisa pacaran sama Kak Rafli, terus tiap hari di jemput sama dia, ahhh! Kak Rafka buat gue aja, bisa nggak sih?" tawa Salsa kembali membuat Alana juga ikut tertawa.
"Iya! Seru kan! Kalau nantinya kita tinggal satu rumah sama mereka, ya ampun..." Salsa memijat pelipisnya tak kuasa membayangkan bagaimana jika kehendaknya menjadi kenyataan.
"Tapi, sampai sekarang gue masih sering ketukar, yang mana Kak Rafka, yang mana Kak Rafli, soalnya sama- sama ganteng!" cerocos Salsa.
"Kak Rafka, punya t*i lalat dibawah mata," Kak Rafli enggak. Terus, jelas banget perbedaan mereka dari sikap, cara jalan, ekspresi!" jelas Alana membuat Salsa terkejut.
"Kok tau? Aaaa... lo pernah ngapain nih sama Kak Rafli? Ugh..." tawa Salsa membuat pipi Alana memerah.
"Salsa kamu apa- apaan sih," kesal Alana menutup wajahnya.
Salsa kembali tertawa hingga seseorang berdiri didekat mereka.
"Alana? Hai..."
Nathan menyapa membuat Alana menetralkan ekspresinya.
"Nathan?" tanya Salsa bingung.
"Iya, hehehe. Ini rumah makan langganan gue," ucap Nathan duduk bersama Alana dan Salsa.
"Oh ya?" tanya Alana dan Salsa bersamaan hingga mereka kembali tertawa.
Ckrek!
Seseorang mengambil potret Alana dan Nathan yang tengah tertawa kepada Rafli lewat pesan i********:.
Disisi lain, Rafli tengah menikmati secangkir teh hangat di balkon kamarnya sambil menunggu pesannya dibalas oleh Alana. Sepuluh menit yang lalu Alana mengirimkan lokasi keberadaannya pada Rafli, tentu saja Rafli yang memaksa.
Rafli tersenyum, hingga sebuah pesan masuk berhasil membuat tangannya terkepal.
"Rafli! Mau kemana?!" tanya Ray dari arah dapur.
"Punya Rafli, di ganggu orang!" Rafli langsung tancap gas dengan mobil hitamnya.
"Lah?" bingung Rafka yang melangkah menuruni tangga.
Rafli tiba di lokasi yang Alana kirimkan, benar saja kalau saat ini Nathan masih menemani gadisnya, bahkan sesekali mengusap kepala Alana.
Rafli, marah!
Pemuda itu turun dari mobil menghampiri meja Alana lalu meraih gelas menyiramkan es teh pada Nathan. Tentu saja semua terkejut, termasuk beberapa pengunjung.
"Apa- apaan lo?" tanya Nathan kebingungan.
"Jangan ganggu cewek gue!" tegas Rafli menarik tangan Alana meninggalkan rumah makan tersebut tanpa banyak bicara setelah membuat Salsa menganga.
"Kak Rafli!" panggil Alana saat Rafli sudah menjalankan mobil meninggalkan rumah makan sempat membuat supir Salsa juga terkejut.
"Oh... jadi ini alasan elo nggak ngebolehin gue ikut?" tanya Rafli tersenyum miring lalu menepikan mobilnya siap mendengar alasan Alana.
"Enggak! Tadi---"
"Apa?" tanya Rafli menaikkan satu alisnya.
Alana berucap gugup dengan perasaan tak karuan.
"Lo emang senang ya? Di dekatin banyak cowok?" tanya Rafli.
"Enggak..." jawab Alana menunduk takut saat Rafli mendekatkan wajahnya.
"Atau, lo cuma berlagak sok polos? Hm..." tanya Rafli membuat Alana merinding.
"Jawab!" ucap Rafli dengan bentakan kecil.
"Enggak..." ucap Alana menahan tangis.
Rafli menarik tengkuk gadis itu menatap tajam pada Alana yang menampilkan tatapan sayu menahan air mata yang kapan saja bisa jatuh.
"Kakak.... hiks! Salah faham..."
"Lo kenapa suka banget bikin gue emosi, Alana?" tanya Rafli membuat air mata Alana jatuh.
"Ha?" tanya Rafli masih diposisi yang sama menatap bibir gadisnya yang mulai bergetar ketakutan.
"Mmm.. ma.. maaf... aff.." Alana berucap terbata, menunduk tak berani menatap Rafli.
Rafli meneguk salivanya saat melihat ekspresi ketakutan gadis itu. Baginya, melihat Alana yang ketakutan seperti sekarang ini sudah menjadi sensasi tersendiri hingga membuat sudut bibirnya terangkat mengecup singkat bibir gadis itu.
"Jja... ngan.." cegah Alana saat Rafli ingin melakukan hal lebih gila dari itu padanya.
"Kenapa?" tanya Rafli serak menghentikan aksinya.
"Lo kan, babu gue---"
Buk!!
Alana berhasil turun dari mobil hingga membuat Rafli terkejut. Gadis itu berlari, meninggalkannya menaiki sebuah taksi yang kebetulan lewat.
"Argh!" Rafli memukul stir mobil, merutuki perbuatannya.
"Rafli... bodoh..." umpatnya pada diri sendiri.