Alana tiba di rumah langsung masuk kekamar membuat Ilham yang tengah bersantai membaca koran kebingungan. "Lana, kenapa sayang?" tanya Ilham mengetuk pintu kamar puterinya. Alana tak menjawab menangis tanpa suara mengusap bibir dan juga lehernya. Ini, sudah kelewatan! Alana bukan mainan, yang sebisanya dapat dimainkan oleh Rafli. Alana berjalan pelan menuju jendela dan benar saja kalau mobil Rafli berhenti di depan rumahnya. Gadis itu dengan cepat naik ke kasur bersembunyi di balik selimut. "Lana, ada Den Rafli. Buka pintunya," ucap Ilham kembali mengetuk pintu. "Biar saya, Pak." Rafli mulai mengetuk pintu, membuat Ilham hanya mengangguk lalu duduk di sofa. "Alana," panggil Rafli. "Pergi..." ucap Alana parau. "Aku, nggak mau lagi ketemu Kakak!" tukas Alana tanpa berniat membukakan

