01

1037 Kata
Seorang pria bangkit dari kasur sembari menatap isterinya yang terlihat sangat cantik. Pria itu tersenyum lalu mencium singkat kening isterinya. "Enngg..." Sang isteri mengerang pelan sembari membuka mata. "Selamat pagi, isteriku yang cantik..." Suaranya, terdengar begitu indah. Sang isteri mengangkat tangan mengusap kepala suaminya dengan lembut. "Azka si Jenius..." Azka Erza Rafael, lelaki itu menatap malas pada sang isteri yang sudah tertawa. "Masih aja manggil itu, coba panggil suami ganteng," ucap Azka membuat sang isteri bangkit lalu memeluk suaminya. "Pagi, suami ganteng, yang nggak ada duanya di dunia ini!" Raysa Elyana Samudera, berucap membuat membuat suaminya tersenyum membalas pelukan sang isteri. "Bangunin anak- anak, kita shalat subuh berjamaah," ucap Azka diangguki isterinya. Selama hampir dua puluh tahun mereka berumah tangga. Saat ini Ray sudah memutuskan untuk hijrah dengan memakai hijab dan pakaian yang lebih tertutup dari sebelumnya. Tentu saja ia ingin menjaga diri dari orang selain suaminya. Ray berjalan mengetuk pintu kamar puteri bungsu mereka yang diberi nama Nesya Rattu Samuel. Gadis manis itu sudah berusia 16 tahun. Dia kakak mereka, yakni si kembar juga sudah menginjak usia 17 tahun. "Nesya..." Pintu terbuka, terdapat Nesya yang masih enggan membuka mata dan malah kembali kekasur setelah ibunya masuk kekamarnya. "Nesya, bangun. Ayo shalat subuh," ajak Ray mengusap rambut puterinya. "Hoam..." Nesya menguap lalu tersenyum pada sang ibu. "Ambil wudhu ya, Bunda bangunin kakak dulu," ucap Ray lalu pergi menuju kamar sebelah kamar Nesya. "Rafli, buka pintunya. Rafli..." Pintu terbuka, menampilkan sosok pemuda yang hanya menatap datar pada kehadiran ibunya. "Loh, Rafka tidur di kamar kamu ya?" tanya Ray menatap seorang pemuda yang masih merebahkan diri dikasur. "Hm," jawab Rafli kembali mendekati layar game yang masih menyala. "Ya ampun, Rafli. Semalaman main game?!" tanya Ray geleng- geleng kepala. "Hm..." "Berhenti! Sekarang, ambil wudhu! Cepat, susul Ayah di mushola!" tegas Ray mematikan layar video game hingga membuat Rafli melotot. "Bunda..." kesal Rafli lalu keluar kamar. "Rafka, bangun!" "Hei!" "Ganteng, bangun..." Rafka membuka mata, tersenyum pada sang ibu lalu kembali menarik selimut menutupi wajahnya. "Ya ampun!!" "Bangun!" Rafka bangkit dengan segera lalu mencium pipi sang ibu kemudian pergi menyusul kembarannya. "Ck... ck..." "Semua sifat gue nurun ke anak- anak," ucap Ray tak percaya. Ray melangkah menuju mushola di mansion, suaminya dan tiga anaknya sudah menunggu. Azka Erza Rafael, benar- benar mendidiknya dengan cara yang luar biasa. Bahkan tak pernah sedikit pun mengucapkan kata- k********r, atau membentaknya. Ia sangat bersyukur, dengan kehidupan sekarang ini. "Hari ini jadwal Rafli yang azan," ucap Azka membuat Rafli berdiri lalu melafazkan azan subuh dengan sangat indah. Beberapa saat kemudian, mereka sudah selesai shalat. Menyisakan Azka dan isterinya yang menyempatkan untuk mengaji bersama setelah Nesya si bungsu mengatakan ingin membantu asisten rumah tangga memasak. Sedangkan si kembar berolahraga pagi di halaman rumah. "Masya Allah, isteriku..." ucap Azka setelah Ray menutup kitab suci lalu menaruhnya ditempat semestinya. "Nunduk sini, aku mau cium kening," ucap Azka lagi membuat Ray menunduk dengan senyum bahagia. "Yaudah, aku mau bantu Nesya dulu." Ray melepas mukenanya menyisakan jilbab sederhana yang membuatnya terlihat begitu sempurna dimata suaminya. "Kemeja kamu buat kerja hari ini udah aku siapin, sana..." lembut Ray kembali mendapatkan kecupan singkat dari suaminya. Kembali lagi pada si kembar, Rafka dan Rafli. Sekarang ini Rafli memutuskan untuk berjalan- jalan di area komplek rumahnya meninggalkan Rafka yang bermain lompat tali. Rafli berhenti didepan sebuah rumah yang lumayan besar. Pemuda itu mendapati seorang gadis yang tengah menguap di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Ternyata Rafka mengikuti langkah saudaranya itu. Rafka mengambil batu kecil lalu melemparnya kearah gadis itu. "Rafka!!! Sialan lo!!!" Nea Thalia Atthara, puteri dari May dan Kevin langsung mengepalkan tangan pada perbuatan Rafka. "Garing lo," singkat Rafli melanjutkan langkahnya berniat menemui teman mereka yang satunya yakni Alden Febri Anggara, putera dari Kay dan Akmal. "Rafli!" panggil Kay saat Rafli memasuki area rumahnya. "Iya," balas Rafli melangkah masuk berniat langsung pergi kekamar Alden. Pintu kamar terbuka, mendapati isi kamar Alden yang dipenuhi rak komik, DVD Video Game, juga beberapa action figure anime. Sungguh kamar yang sangat diinginkan Rafli, namun sayangnya saudara kembarnya yang terlalu ikut campur urusannya membuatnya harus menahan diri. Sebab, dulu ia pernah membeli action figure anime yang sangat disukainya dengan harga mahal tetapi tak sengaja rusak karena Rafka bermain basket dikamarnya. "Hoam... gue masih ngantuk!" Alden kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Baginya hal ini sudah biasa terjadi, Rafli yang masuk kekamarnya untuk sekadar menghidari Rafka. Sementara itu, Rafka tengah berada di rumah Nea. Mendapati orang tua gadis itu yang asik menonton acara kartun pagi. "Rafka, bangunin Nea sana," titah May sembari memasangkan dasi suaminya, yakni Kevin. "Udah bangun, tadi baru aja Rafka lempar batu ke balkonnya," ucap Rafka jujur melangkah menaiki tangga menuju kamar Nea. "Nea!!" "Hello!" "Good morning!" Pintu terbuka, Nea masih mengenakan baju tidurnya menatap malas pada Rafka yang terus- terusan mengganggunya. "Apaan sih?" tanya Nea pada Rafka yang sudah bersantai di sofa kamarnya. "Nanti berangkat sama gue ya, elo yang nyetir. Rafli pasti berangkat sendiri, Alden naik motor. Lo tau sendiri kalau gue naik motor, nanti rambut gue yang cetar membahana ini berantakan," cerocos Rafka merapikan tatanan rambutnya. "Huek!" Nea bergalak muntah lalu duduk disamping pemuda itu sambil bermain ponsel. "Liat deh." Nea menunjukkan potret Rafli yang menjadi trending setelah memenangkan permainan basket antar sekolah. "Coba tiru Rafli," kekeh Nea membuat Rafka tertawa. "Ogah! Gue aja nggak nyangka punya saudara kembar modelan dia. Ngomong cuma, hm... hm... hm..." tawa Rafka dibenarkan oleh Nea. "Tapi, gue akuin sih kalau fans lo di sekolah lumayan banyak juga," ucap Nea lagi. "Iyalah, Rafka gitu lho!" bangga Rafka percaya diri. "Tapi! Gue kesalnya, banyak orang yang kadang salah panggil. Padahal udah jelas lebih ganteng gue dari pada Rafli," ucap Rafka kembali membuat Nea tertawa. "Lo aja bisa bedain kita," ujar Rafka membuat gadis itu menoleh. "Ck! Kan udah kenal lama! Gimana sih, t*i lalat dibawah mata lo itu, Rafli ngga punya! Jelas gue bisa bedain!" gerutu Nea membuat Rafka tertawa lalu mengacak pelan rambut gadis itu. "Gue pulang dulu! Jemput gue ya! Dah Nea!!!" Rafka melambaikan tangan, memang seperti itu sejak kecil. "Mami, Papi, Rafka pulang! Bye!!!" teriak Rafka pada May dan Kevin. "Rafka! Kalau di rumah masak oseng terong! Bagi- bagi ya!" balas May berteriak dan kali ini Kevin yang tertawa mengetahui sifat isterinya yang tak ada perubahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN