Sebuah motor ninja memasuki kawasan SMA Samudera disusul dua buah mobil yang parkir bersebelahan. Turunlah seorang gadis yang masih mengenakan lambang kelas sepuluh diikuti sang kakak.
"Nea cantik, makasih tumpangannya!" tawa Rafka pada Nea yang masih duduk dikursi kemudi.
"Nesya! Ayo. Abang antar kekelas," ajak Rafka merangkul bahu Nesya.
"Dih! Nanti Abang pasti tebar pesona sama teman- teman Nesya! Pergi sana! Gangguin Bang Rafli aja!" kesal Nesya melangkah cepat meninggalkan parkiran mobil.
"Buset, orang- orang pada anti banget sama gue," gumam Rafka menatap kembarannya yang baru turun dari mobil setelah menyumpal telinga dengan earphone lalu melangkah sendiri sesekali menatap lapangan basket.
"Ke kantin yuk? Gue belum sarapan!" ajak Nea pada Rafka dan Alden.
"Lah, Mami nggak masak?" tanya Alden pada Nea.
"Gara- gara ngeharapin oseng terong dari Rafka," gerutu Nesya sontak membuat Rafka tertawa.
Sementara itu, seorang siswi tengah mendribble bola basket dengan kesulitan. Di tepi lapangan terdapat temannya yang memberikan semangat.
"Ayo, Alana!"
Alana Dayana Zhafira, mengangkat bola basket lalu melemparnya berniat memasukkannya ke ring namun tanpa sengaja malah mengenai seseorang yang berjalan sambil mendengarkan musik.
Buk!!
Rafli terjatuh, sambil memegang kepalanya yang baru saja mendapat hantaman cukup keras dari bola basket. Rafka yang melihat kejadian itu langsung tertawa begitu pun Alden, sedangkan Nea bergegas membantu Rafli bangun dengan merapikan penampilan pemuda itu.
"Sip, masih pagi jangan marah- marah ya!" pinta Nea berharap Rafli tak terpancing emosi akibat kejadian tersebut.
Rafli mengepalkan tangan, melepas earphonenya menatap seorang gadis yang melangkah mendekati mereka dengan wajah menunduk ketakutan.
"Mmm... ma... ma.. mmaaf... Kak!"
Alana berniat mengambil bola bakset tersebut namun dirampas oleh Rafli hingga membuat Alana terkejut saat tangannya tak sengaja bersentuhan dengan jemari Rafli yang terasa begitu dingin.
"Aku nggak sengaja!"
Alana berniat pergi, namun saat matanya bertemu dengan tatapan tajam pemuda bernama Rafli Razza Samuel, tiba- tiba nyalinya menciut. Untuk bernapas saja susah, apalagi berlari. Ditambah, ini adalah salahnya.
"Alana Dayana Z," eja Rafka membaca nama di seragam gadis itu.
"Manis, mau jadi cewek gue nggak?" tanya Rafka menaik turunkan alisnya dan hal itu langsung membuat Rafli menarik kerah baju saudaranya.
"Heh!!!" tegur Alden berusaha melerai.
"Tutup mulut lo!" bentak Rafli, memilih meluapkan emosinya pada saudaranya ketimbang gadis yang melempar bola basket padanya.
"Kak, aku nggak sengaja!" ucap Alana merasa dirinya menjadi sebab pertengkaran dua orang yang sangat populer di sekolah itu. Beberapa orang juga mulai memperhatikan mereka.
"Maaf!" Alana membungkuk membuat Nea gemas lalu merapikan tatanan rambut gadis itu.
"Udah, nggak papa... sana," ucap Nea lembut.
"Sekali lagi, maaf..." pelan Alana dengan jemari yang gemetar takut membuat marah para most wanted sekolah.
Alana melangkah pelan menghampiri temannya yang bernama Salsabilla Andini, atau yang sering di sapa Salsa.
"Lana, lo nggak papa?" tanya Salsa pada sahabatnya itu.
"Huh... aku hampir mati!" ucap Alana yang masih bisa didengar oleh Rafli dan yang lain.
"Udah kayak malaikat maut aja, lo." Rafka berucap setelah Rafli melepaskan cengkramannya.
"Rafli! Udah, jangan emosi! Kayak nggak tau Rafka aja!" tegur Nea merangkul bahu pemuda itu mengajaknya kekantin bersama diikuti Alden yang geleng- geleng kepala pada Rafka.
"Dahhh..." Rafka melambaikan tangan pada Alana dan juga temannya yang langsung salah tingkah.
Nea tiba di kantin, bersama Rafli dan juga Alden disusul kedatangan Rafka.
"Al, pesanin gue nasi goreng sama teh hangat," pinta Nea pada Alden.
"Oke, Rafka lo pesan apa?" tanya Alden.
"Pagi- pagi enaknya makan bubur ayam," jawab Rafka lalu menatap Rafli yang hanya diam.
"Heh, mau apa lo?" tanya Rafka berniat kembali mengakrabi saudaranya.
"Cewek itu..."
Rafli bersuara membuat perhatian mereka tertuju pada seorang gadis yang baru memasuki kantin bersama temannya.
"Alana Dayana," ucap Rafka seketika membuat Rafli mengalihkan pandangannya.
"Kalau modelan kayak dia, gue juga mau." Rafka tertawa pelan namun Rafli hanya diam.
"Alana!" panggil Rafka melambaikan tangan.
Perhatian seisi kantin tertuju pada Rafka dan juga pada Alana yang terdiam polos menatap Rafka.
"Rafka!" kesal Rafli pada saudaranya.
"Buset, setelah tiga hari elo nggak nyebut nama gue," ucap Rafka membuat Nea dan Alden terkejut.
Lebih mengejutkannya lagi saat Rafka membawa Alana ke meja mereka, dibelakangnya juga terdapat Salsa yang gugup bukan main.
"Iya, kenapa? Kak?" tanya Alana sedikit menjauhkan diri dari Rafka.
"Ini, Rafli bilang dia mau elo---"
Buk!
Rafka meringis setelah Rafli menendang kakinya. Alana bingung bukan main, begitu pun seisi kantin.
"Pergi lo!" usir Rafli memilih kembali menyumpal telinganya dengan earphone.
Alana mengangguk kecil dan saat ia hendak pergi, Rafka menahan tangannya.
"Alana, mau nggak jadi cewek gue? Kalau nggak mau, jadi cewek Rafli aja," ucap Rafka dengan santainya membuat seisi kantin terkejut termasuk Alana dan Salsa.
"Rafka..." gumam Nea memijat pelipisnya.
"Tega banget kalau lo nolak gue," ucap Rafka menggenggam tangan Alana, hal itu sontak membuat Alana berkeringat dingin menatap Rafli yang hanya acuh dengan kejadian tersebut.
"Lo nolak gue? Berarti lo jadi ceweknya Rafli!"
"Yeay! Selamat!!!"
Rafka menarik satu tangan Rafli agar menggandeng tangan Alana dan Rafli langsung bangkit dari duduknya menatap Alana.
"Jangan mimpi!" singkat Rafli begitu pedasnya.
"Siapa juga yang mau sama Kakak..." ucap Alana menundukkan wajahnya.
"Heh! Gue dengar ya!" ucap Rafli membuat Alana terkejut kembali menatap pemuda itu.
"Dan buat lo! Berhenti norak! Jangan ganggu gue!" tunjuk Rafli pada kembarannya yang hanya tersenyum pada Alana.
"Lo mau dia kan? Ambil! Gue nggak butuh cewek modelan dia!" ucap Rafli menusuk perasaan Alana, begitu pun Nea yang merasa kalau Rafli sudah kelewatan batas.
"Kalian semua!" ucap Rafli mengepalkan tangan.
"Berhenti ngeliatin gue!" Rafli pergi begitu saja setelah menendang kursi hingga membuat semua kembali terkejut.
"Rafka..." tegur Alden pelan.
"Alana, jangan dipikirin. Rafka cuman bercanda, Rafli juga," ucap Nea menenangkan Alana yang sepertinya akan segera menangis.
Rafka mengangkat tangan menyentuh kepala Alana, para gadis mulai berteriak histeris termasuk Salsa yang juga ingin berada di posisi Alana.
"Jangan suka sama Rafli ya," pinta Rafka tersenyum penuh arti kemudian pergi.
Kring!!!!!!
Bel masuk berbunyi, membuat Nea terkejut sebab ia belum juga makan nasi goreng yang diinginkannya.
"Permisi," ucap Alana parau menahan tangis lalu pergi diikuti Salsa.
"Si Rafka, kebiasaan..." Alden berdecak lalu menatap Nea.
"Hahaha! Sorry gue lupa pesan makanan! Tunggu! Masih sempat kok buat abisin dua piring nasi goreng!" Alden tertawa lalu memesan makanan tanpa memperdulikan siswa- siswi yang bersegera masuk kekelas.