03

1053 Kata
Bel pulang berbunyi keras membuat semua siswa- siswi bergegas pulang tak terkecuali Alana dan Salsa yang baru melangkah keluar kelas. "Alana, hari ini gue di jemput. Ikut pulang sama gue yuk?" ajak Salsa menatap mobil hitam diseberang jalan yang sudah menunggunya. "Enggak, aku sama Ayah aja, makasih tawarannya. Hati- hati," ucap Alana membuat Salsa tersenyum pada gadis itu. "Oke, gue duluan ya," pamit Salsa tersenyum pada satpam sekolah yang tengah menatapnya. "Ayah!" panggil Alana pada satpam sekolah. "Sttt... jangan, nanti teman- teman kamu tau," ucap satpam sekolah bernama Ilham. Alana menggeleng, lalu tersenyum mendegar ucapan ayahnya yang sangat ia sayangi dan cintai. "Teman Lana, kan cuma Salsa," kekeh Alana membuat Ilham juga terkekeh. "Tunggu ya, Ayah mau ke ruang Kepala Sekolah dulu nyerahin kunci," ucap Ilham lalu pergi. Alana mengangguk duduk didekat pos satpam. "Alana Dayana!" Alana terkejut, spontan bangkit dari duduknya saat sebuah mobil berhenti dihadapannya. "Ayo! Naik!" ajak pemuda yang tiada lain adalah Rafka. "Ayo..." Rafka turun dari mobil lalu mendorong lembut Alana masuk kedalam mobil. "Ini mobil Nea, Nea pulang sama Alden. Terus, adik gue si Nesya belanja sama teman- temannya. Jadi, lo harus temanin gue pulang! Soalnya gue nggak bisa diam," jelas Rafka melajukan mobilnya. "Kak?" tanya Alana tersadar ia sudah meninggalkan sekolah dengan pemuda itu. "Gue Rafka," ucap Rafka seolah mengerti isi kepala Alana. "Kak! Aku bisa pulang sendiri! Turunin aku---" "Sttt..." Rafka menepikan mobilnya lalu memasangkan gadis itu sabuk pengaman dan Alana langsung merasakan sesak sebab berada sangat dekat dengan pemuda itu. "Gue antar lo pulang, sebagai tanda maaf," kekeh Rafka membuat Alana mengangguk pasrah masih dengan perasaan gugup. Rafka mendekatkan wajahnya menatap intens gadis itu hingga punggung Alana menyentuh pintu mobil. "Gue Rafka, Alana..." ucap Rafka sekali lagi. "Liat, t*i lalat gue dibawah mata?" tanya Rafka, Alana mengangguk. "Kalian, mirip banget," ucap Alana jujur. "Tapi lebih ganteng gue kan?" tanya Rafka kembali melajukan mobilnya. Alana tertawa pelan mendengar kalimat pemuda itu hingga membuat Rafka juga tertawa. "Bentar," ucap Rafka kembali menepi mengetahui ponselnya berdering. "Rafka!" "Kamu dimana? Nesya, mana?" "Duh, kalian ini kebiasaan pulang telat!" Rafka menoleh pada Alana yang menatap polos padanya. "Rafka lagi sama cewek," ucap Rafka jujur. "Hah?" "Ajak kerumah! Bunda mau kenal!" "Cepat!" "Kalau kamu nggak bawa kerumah, Bunda bakalan marah!" Rafka mematikan panggilannya menatap Alana ragu. "Bunda, minta elo mampir dulu kerumah, mau?" tawar Rafka membuat Alana terkejut. "Ibu Raysa Samudera?!" tanya Alana tak percaya. Rafka mengangguk, menyadari kalau Alana juga mengetahui tentang keluarganya. "Tapi, aku malu..." pelan Alana menatap penampilannya. "Udah! Lo cantik!" Rafka kembali melajukan mobilnya hingga tiba didepan sebuah mansion megah dengan mobil mewah berjejer dihalamannya. "Luar biasa..." ucap Alana tanpa sadar kalau Rafka tengah menatapnya setelah memarkirkan mobil. "Ada ring basket!" kaget Alana tak percaya. "Kolam renang? Terus, air mancur?" Alana menatap Rafka berbinar, ini adalah kali pertamanya, menginjakkan kaki di kediaman Samuel. "Ayo," ajak Rafka lalu turun dari mobil disusul Alana yang masih terkagum tak percaya. Rafka mengajak gadis itu masuk kerumah dan saat pintu terbuka, lagi- lagi Alana terkagum tak percaya menatap pemandangan istana didepan matanya. "Bunda!!" panggil Rafka memperhatikan sekitar. "Alana, lo duduk dulu. Gue panggil Bunda sekalian ganti baju," ucap Rafka meminta Alana duduk diruang tamu. "Empuk..." ucap Alana saat ia sudah duduk di sofa ruang tamu mansion megah itu. Seorang pemuda dengan setelan santai menuruni tangga sambil mendengarkan musik lewat earphonenya dan saat matanya bertemu dengan tatapan berbinar Alana, pemuda itu mendekat, memastikan kehadiran gadis itu benar- benar ada. "Kak Rafka, mana Bundanya Kakak?" tanya Alana bangkit dari duduknya. "Rafka? Gue Rafli." Alana terdiam, ekspresinya berubah dan Rafli menyadari hal itu. "Ngapain lo?" tanya Rafli sinis melepas earphonenya memilih menatap Alana agar gadis itu semakin merasa terintimidasi. "Tadi, Kak Rafka..." Rafli tersenyum, membuat Alana menghentikan ucapannya. "Jadi, lo beneran percaya sama ucapan Rafka yang bilang kalau dia mau elo jadi ceweknya?" tanya Rafli duduk di sofa masih menatap Alana yang berdiri menatapnya. "Berlutut." Alana menganga tak percaya atas ucapan pemuda itu dan entah sejak kapan, ia sudah berlutut dihadapan Rafli yang mengangkat wajah menandakan kalau derajat mereka benar- benar berbeda. "Dasar cewek murahan! Mau- maunya dimainin sama Rafka!" Rafli berucap dengan tajamnya menatap Alana yang mulai memucat dengan mata berkaca- kaca. "Bilang aja, lo nerima Rafka cuman karena harta dan supaya populer di sekolah. Udah ketebak! Semua cewek sama aja!" Rafli tertawa pelan mendekatkan wajahnya pada Alana yang sudah meneteskan air mata. "Lo udah bodoh, mau- maunya di bodohin." Plak! Pipi kanan Rafli memanas setelah mendapat tamparan dari Alana. "Jaga mulut kamu!" Rafli mengangkat tangan mencengkram bahu gadis dihadapannya yang sudah menangis tanpa suara. Satu tangannya meraih kaleng cemilan lalu menumpahkannya diatas kepala Alana. Kini Alana sudah tak berkutik bahkan saat pemuda itu menarik dagunya agar tetap mengarahkan pandangan padanya. "Jaga mulut lo!" ucap Rafli dan tangan Alana kembali terangkat bersiap menampar pemuda itu namun Rafli menahannya. "Jaga, sikap lo!" "Sekarang, lo berhadapan sama gue!" Rafli tersenyum sinis berhasil membuat gadis itu menangis dengan dua bahu naik turun ditambah seragamnya yang sudah kotor akibah remah- remah cemilan. "Saya, memang miskin!" "Tapi, semua yang kamu ucapin itu. Enggak benar!" "Saya, diajak Kak Rafka kerumah karena diminta sama Bunda kalian..." "Hiks..." Alana menutup wajahnya tak kuasa memperlihatkan wajah menyedihkannya pada pemuda yang baru saja membuatnya menangis. "Oh." Rafli masih duduk dikursinya menatap Alana yang berlutut padanya. "Kamu... orang terjahat yang pernah sama temuin..." Alana berusaha bangkit, namun tiba- tiba seseorang memeluknya yakni Rafka. "Rafli! Apa yang kamu lakuin?!" tanya wanita berhijab menatap puteranya yang hanya diam di sofa tanpa ekspresi. "Masuk kamar!" bentak Ray meninggikan suaranya dengan tatapan marah pada Rafli hingga Azka yang baru memasuki rumah terkejut langsung menenangkan isterinya. "Sayang, kenapa ini?" tanya Azka heran. Rafli menghela napas, memilih menyumpal telinganya dengan earphone lalu pergi setelah ia melihat tatapan tak biasa dari Rafka. "Rafli! Keman kamu!?" "Hei!" Rafli tak menjawab pertanyaan sang ayah. Kini Azka beralih menatap seorang gadis berseragam sekolah yang masih berada dalam dekapan puteranya. "Alana," panggil Ray lembut beralih memeluk gadis itu. "Yuk ikut Bunda," ajak Ray membawa Alana berniat merapikan kembali penampilan gadis itu. "Rafka, kamu ngejahilin adik kamu lagi?" tanya Azka terduduk pasrah di sofa. "Enggak! Rafka cuman bawa cewek kerumah!" jawab Rafka melangkah meninggalkan ayahnya. "Ceweknya Rafli! Hahaha!" Azka memijat pelipisnya, benar dugaannya kalau Rafka selalu saja memulai masalah. Kadang ia merutuki dirinya sendiri, sebab sikap dinginnya menurun pada Rafli, tetapi Rafli lebih parah dari dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN