04

1052 Kata
"Anak cantik, jangan nangis ya..." Ray membawa Alana masuk kekamar Nesya sementara sang empu belum juga pulang. Ray melangkah menuju lemari puterinya dan mengambil satu pakaian Nesya yang sepertinya muat untuk Alana. "Ayo, Bunda antar ke kamar mandi. Ini pakaian Nesya, kamu ganti baju dulu, nggak usah sungkan ya, sayang..." lembut Ray membuat Alana melangkah menuju kamar mandi dan beberapa saat kemudian, gadis itu keluar mencoba tersenyum pada Ray setelah membasuh wajahnya. "Sini, rambutnya Bunda sisirin," ucap Ray meminta Alana duduk dikursi rias. "Maaf ya, sikap Rafli memang begitu. Bunda aja kadang capek nanggapin mereka berdua yang punya sifat bertolak belakang." Ray tersenyum sembari mengayam rambut Alana hingga terlihat begitu indah dengan anak rambut yang dibiarkan sedikit berantakan. "Alana?" panggil Ray. "Iya, Bunda?? Em.. maksud saya," gumam Alana gugup berada sedekat ini dengan seorang wanita yang sangat dikaguminya. "Panggil Bunda aja, nggak papa!" ucap Ray senang lalu memeluk singkat gadis itu dari belakang menatap pantulan wajah mereka di cermin. "Alana cantik, jangan sedih ya!" lembut Ray, Alana mengangguk perlahan. "Yaudah, ayo kita keluar. Nemuin Rafka sama Rafli, pasti mereka mau minta maaf," ucap Ray menggandeng Alana keluar dari kamar dan mereka tak sengaja berpapasan dengan Rafli yang tengah menggenggam minuman soda hendak masuk kekamar. "Rafli, ke bawah!" perintah Ray melanjutkan langkahnya membawa Alana menuju lantai satu diikuti Rafli yang hanya diam menatap Alana dari belakang. Alana yang tersadar pun menoleh dan Rafli langsung mengalihkan pandangannya seolah tengah meminum minuman soda yang padahal belum ia buka. "Cantik banget..." puji Rafka yang sudah duduk di sofa menatap Alana yang tersenyum malu padanya. "Alana," panggil Azka setelah gadis itu duduk di sofa. "Maafin ucapan mereka." Azka menghela napas kemudian menatap isterinya yang juga tengah menatapnya. "Rafka emang suka bercanda," ucap Azka seolah mengerti tatapan isterinya. "Terus, Rafli omongannya pedas," sambung Azka membuat Rafli melotot. "Selain suka bercanda, Rafka juga suka Alana," ucap Rafka dengan santainya langsung mendapat jeweran dari Azka hingga membuat Alana sedikit tersenyum. "Hai fans!!!" Nesya melempar dua tas belanjaannya pada Rafka dan Rafli. "Nesya! Salam dulu," tegur Ray pada anak gadisnya itu. "Hehehe... Assalamualaikum, Bunda, Ayah, Bang Rafka, Bang Rafli, Alana..." "Ehh!? Alana?!" Nesya terkaget langsung menggenggam tangan Alana. "Lo Alana kan? Murid di kelas yang pintar banget matematika? Ajarin gue!!!" pinta Nesya tak percaya. Alana tersenyum kikuk, ditambah saat ini ia tengah mengenakan pakaian Nesya. "Mau kan?" tanya Nesya berbinar. "Iya..." jawab Alana pelan membuat Nesya senang lalu duduk didekat ayahnya. "Asik! Pada ngumpul nih!" Suara yang sangat mereka kenali, May datang bersama Kevin. Disusul Kay dan Akmal. "Wah? Ceweknya siapa nih? Cakep benar, kayaknya gue lahir terlalu cepat deh," celoteh Akmal langsung mendapat cubitan dari Kay. "Alden sama Nea mana?" tanya Azka pada teman- temannya. "Tau, belum pulang. Pacaran kali," balas Kevin yang juga tak tahu. "Ada- ada aja!" gerutu Ray geleng- geleng kepala. "Ceweknya Rafli," jawab Rafka atas pertanyaan May. Tentu saja semua tak langsung percaya. "Mimpi," sinis Rafli tanpa menatap Alana yang sudah melayangkan tatapan padanya. "Rafli, heh!" tegur Ray pelan. "Bunda!" Rafli angkat bicara mengetahui sang bunda lebih membela Alana dari pada dirinya. "Dia itu cuman mau harta dan populer di sekolah! Semua cewek kayak gitu!" Rafli bangkit menunjuk Alana yang kembali menganga tak percaya. "Turun! Lo nggak pantas duduk satu sofa sama kita!" bentak Rafli dengan tangan terkepal. "Turun!" ulang Rafli membuat May terkejut. "Alana, jangan turun." Rafka bersuara bangkit dari duduknya menatap saudaranya. "Harga diri lo lebih mahal dari omongan dia!" ucap Rafka pada Alana dengan tatapan tertuju pada Rafli yang hanya menampilkan ekspresi datar. Rafli mendekati Alana lalu menunduk. "Berapa harga lo buat satu malam?" tanya Rafli membuat Ray hendak mengangkat tangan namun Azka menahannya sebab ia tak mengajarkan kekerasan pada mereka semua. Bugkk!! Kini Azka terkejut, mendapati Rafli tersungkur setelah mendapat tamparan dari Rafka. "Sialan! Mulut lo!!" marah Rafka yang sudah duduk diatas tubuh Rafli kembali memukuli saudaranya. "Berhenti!" "Hei!!!" "Rafka! Rafli!" Pergerakan Rafka terhenti, menatap saudaranya yang menampilkan tatapan malas meski dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah. "Aku... mau pulang... hiks!" Alana terisak menundukkan wajah membuat Ray langsung memeluknya. "Rafka, antar Alana pulang!" perintah Azka berucap dingin menatap Rafli yang masih terkapar di lantai. Rafka mengangguk, menggandeng Alana meninggalkan semua orang. "Cewek itu..." gumam Rafli bangkit sendiri sambil mengusap darah disudut bibirnya. "Rafli!" Azka bersuara, bangkit dari duduknya. "Malam ini---" "Hm," singkat Rafli sebelum sang ayah melanjutkan kalimatnya. Rafli sudah tahu hukuman yang ia dapatkan yakni shalat tengah malam bersama orang tuanya disaat saudara dan saudarinya tengah nyaman- nyamannya tidur. "Kenapa nih?" tanya Nea yang baru datang bersama Alden. "Tadi Rafka ngantar Alana?" tanya Alden bingung. "Wah, kayaknya bakalan ada yang yang dipotong nih uang jajannya," celoteh Nesya mengambil dua tas belanjaannya kemudian pergi dengan langkah cepat menuju kamar. "Rafli, muka lo kenapa?" tanya Nea tertawa kecil. Rafli menarik Nea meninggalkan para orang tua dan juga Alden yang sudah santai disamping ibunya. "Sumpah, omongan Rafli lebih pedas dari lo," tunjuk Kevin melempar kulit kacang pada Azka. "Iya, gue aja kaget," tambah Akmal tak percaya. "Serius? Dulu Ayah juga pedas omongannya?" tanya Alden pada para orang tua. "Gue juga nggak nyangka," ucap Azka mengusap wajahnya. "Ayo! Ceritain kisah kalian! Pasti seru!" pinta Alden membuat Kay tertawa. "Papa kamu, dari dulu ngefans sama Detektif Conan," tawa Kay pecah. Ray tertawa, namun kembali menetralkan ekspresinya. "Iya! Serius!" ucap Kevin membenarkan. "Malam pertama aja, bukannya bikin elu. Malah maraton Naruto!" tawa Kevin terdengar begitu pun isterinya. Akmal berdecak, tapi memang benar. Sedangkan disisi lain, Rafli meringis saat lukanya di obati oleh Nea. "Pelan- pelan... akh..." "Lagian!" gerutu Nea setelah mendengar cerita dari pemuda itu. "Salah gue apa? Dia kan emang mau harta kita! Cih!" Rafli berdecih membuat Nea menekan kapas pada sudut bibir pemuda itu. "Awww! Nea!" kesal Rafli menjauhkan diri. "Cewek itu! Gue harus bikin dia sengsara! Nggak betah di sekolah! Pokoknya! Dia harus berlutut dihadapan gue!" tekat Rafli membuat Nea geleng- geleng kepala. "Ck!" Rafli berdecak kembali mengingat bagaimana tangan gadis itu berani menamparnya yang bahkan, orang tuanya saja tak pernah memukulnya. "Hati- hati, siapa tau nanti lo suka sama dia," kekeh Nea merapikan kembali kotak P3K. "Suka? Sama dia?! Yang ada gue benci!" ucap Rafli kesal. Nea kembali tertawa lalu merapikan tatanan rambut pemuda itu. Temannya sejak kecil, meski kadang ia tak mengerti dengan tingkahnya yang terlalu irit bicara. "Benci, bisa jadi cinta!" jelas Nea semakin membuat Rafli tersenyum sinis dengan gelengan kecil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN